Kamis, 23 Juli 2009

Bab 14 - Perempuan dan Islam



Bab 14 Perempuan dan Islam
[1]


Richard Burton[2] dalam karyanya “the Terminal Essay,” membela Islam dari kritik Barat dan berpendapat bahwa “status hukum wanita dalam islam itu tinggi” dan bahwa “istri2 muslim punya keuntungan lebih dari wanita kristen.” Dia juga menyebut Islam sbg positif dalam hal seks: “Para muslim mempelajari seni dan misteri utk memuaskan tubuh wanita.” Bukti2 utk klaimnya ini dia penuhi dengan banyak literatur porno dengan judul2 seperti “the Book of Carnal Copulation” dan “The Initiation into the Modes of Coition and Its Instrumentation”. Burton pastilah tahu bahwa buku2 ini ditulis oleh lelaki utk lelaki, meski fakta penting ini sepertinya tidak dia sadari. Salah satu buku yang dikutip Burton – The Book of Exposition in the Art of Coition – dimulai dengan “Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menghiasi dada perawan dengan buah dada montok dan yang membuat paha wanita menjadi landasan utk tombak pria.” Dengan kata lain wanita diciptakan oleh Tuhan melulu utk kepuasan pria – sebagai objek seksnya.

Malah, “The Perfumed Garden”[3] nya Shaykh Nefzawi, karya abad 16 yg lebih terkenal yg diterjemahkan Burton dari bahasa Perancis, sangat mengungkapkan sikap islam terhadap wanita dan seksualitasnya. Seksualitas wanita tidak pernah dibantah namun dianggap sbg sumber bahaya : Tahukah anda bahwa religi wanita ada dlm vagina mereka? tanya sang Shaykh. Mereka [para wanita] selalu lapar jika menyangkut masalah vulva, dan sepanjang birahi mereka dipuaskan, mereka tidak peduli apa itu badut, negro, jongos atau bahkan lelaki terkutuk sekalipun. Setanlah yang membuat cairan mengalir dari vagina2 mereka. Sang Shaykh setuju dg Abunawas, yg dikutipnya:

Wanita adalah iblis dan mereka dilahirkan demikian
Semua sudah tahu mereka tidak bisa dipercaya
Jika mereka mencintai lelaki
tak ada sebab musababnya, secara tiba-tiba saja
Dan lelaki yang paling dikejami wanita
adalah yang paling mencintai mereka
Karena penuh khianat dan licik, kunyatakan
Bahwa lelaki yang sungguh2 mencintaimu adalah lelaki sesat
Lelaki yang tidak percaya kata2ku bisa membuktikan sendiri
Coba saja hidup bersama mereka bertahun2
Jika kau murah hati dan memberi mereka
Seluruh milikmu dari tahun ke tahun
Mereka akhirnya cuma berkata, “Sumpah demi Tuhan!
Aku belum pernah melihat satupun barang yang dia berikan!”
Setelah kau melarat
Mereka menangis meminta-minta setiap hari.
“Beri aku, bangunlah, belilah, pinjamlah”
Jika tidak mendapat apa-apa darimu mereka memusuhimu
Mereka memfitnahmu
Mereka tidak ragu memperalat budak ketika tuannya tidak ada
sekali saja birahi mereka bangkit mereka akan licik
sekali saja birahi mereka meminta
yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya
memasukkan ‘benda’ ereksi
Lindungi kami, Tuhan! Dari kelicikan wanita
Dan dari wanita tua khususnya. So be it.

Disini kita melihat segudang kesalahan wanita yang dilihat dari sudut pandang lelaki muslim : [wanita adalah] tidak jujur, suka tipu menipu, tidak berterima kasih, serakah, birahi tak habis2, pendeknya : jalan kilat menuju neraka. NAMUN setahun kemudian, berbeda dari ejekan terhdp posisi wanita dalam islam dlm buku “Terminal Essay,” di Bab Pendahuluan dalam terjemahan ‘the Perfumed Garden’ nya, Burton akhirnya mengakui juga bahwa “pada kenyataannya, Muslim jijik pada wanita[/u].”

Bullough, Bousquet dan Bouhdiba juga menganggap islam sebagai agama yang positif thd seks dibanding kristen yang menganggap (Kristen) sbg “membuat seksualitas menjadi kotor,” meminjam istilah Nietzsche. Tapi dalam halaman terakhir dan setengah dari surveynya, Bullough mendadak merasa wajib utk merubah pendapatnya dengan mengakui bahwa Islam “disaat yg sama menurunkan status wanita menjadi lebih rendah.” Meski dia tetap menganggap penilaian Lane-Poole, bahwa “noda fatal dalam islam adalah degradasi wanita,” terlalu dibesar-besarkan.

Hal sama pula pada Bousquet yang membandingkan islam dg Kristen: “Islam secara jelas dan terbuka berpihak pada kenikmatan daging tanpa ada pertimbangan sekunder. Kristen jelas2 menentang hal itu.” Tapi dia juga harus mengakui,“posisi sangat rendah yg diterapkan pada wanita oleh hukum islam, khususnya dari sudut pandang seks.”[4]

Hanya Bouhdiba yg sangat girang akan superioritas Islam dalam masalah seksual, yg tidak mampu menemukan bukti apapun, setidaknya dalam Quran, tentang adanya misogyny (kebencian thd wanita) dan cukup senang dg pandangan seksualitas & fantasi islam dlm ‘orgasme tiada akhir’ dan ‘ereksi tak berkesudahan’.

Image

Menganggap Islam itu sbg positif secara seksual adalah penghinaan terhadap semua wanita muslim, karena seks dalam islam seluruhnya dipandang dari sudut lelaki; seksualitas wanita, entah harus disangkal, atau seperti yg ditulis dalam the Perfumed Garden, dipandang sebagai sesuatu yang tidak suci, sesuatu yang harus ditakuti, ditekan & bentuk karya setan. Tapi tetap saja, spt kata Slimane Zeghidour, SEKSUALITAS menempati tempat fundamental dalam doktrin islam seperti juga dalam teori psikoanalisa. Saya berharap bisa menunjukkan bahwa dlm obsesi Muslim akan kebersihan badan, Islam mengungkapkan rasa jijik patologis akan tindakan2 dan alat2 seksual wanita serta memendam kebencian patologis terhdp wanita.

Menurut ‘Dictionary of Islam’[5], “meski kondisi wanita dalam hukum muslim kurang memuaskan, harus diakui bahwa Muhammad memberlakukan kemajuan yang besar dan menyolok dalam kondisi populasi wanita di Arab.” Bousquet setuju; reformasi yang punya efek memihak wanita membuat Muhammad terlihat seakan sebagai “Juara feminisme” dalam konteks sejarah khusus itu. Dua reformasi yang sering dikutip adalah larangan mengubur anak wanita hidup2 dan penetapan hak2 waris utk wanita (dimana, tambah Burton, di Inggris “UU Harta Milik Istri” baru dilengkapi tahun 1882 setelah berabad2 menjadi perselisihan”).

TAPI seperti ditunjukkan Ahmed al-Ali dalam ‘Organisations Sociales chez les Bedouins’, praktek mengubur anak perempuan (anak yang tak diinginkan) mungkin punya asal usul religi dan sangat jarang terjadi. Penulis2 muslim hanya MEMBESAR2KAN skala kejahatan ini dan menyoroti hal ini utk menunjukkan seakan ada superioritas Islam.

Mengenai hukum waris, kata Burton, wanita hanya mendapat setengah dari lelaki dan tidak punya kuasa penuh atas harta milik tsb. Muhammad dalam hal ini, juga dalam banyak hal lain, tidak bertindak cukup jauh; gagasan Muhammad mengenai wanita sama seperti kaum lelaki lain sejamannya – wanita hanya penghias belaka, barang mainan bahaya, mampu menyesatkan lelaki.

Menurut Schacht, keadaan wanita dibawah islam dalam segala hal lebih parah: “Quran dalam situasi tertentu mendorong terjadinya POLIGAMI -- yg tadinya hanya sebuah pengecualian, malah menjadi keistimewaan penting dalam hukum perkawinan Islam. Ini membawa pada kemerosotan posisi wanita Islam dibanding dengan yang telah mereka nikmati di masa Pra-Islam, belum lagi fakta bahwa banyak hubungan seksual terhormat dimasa Pra-Islam dibatalkan oleh Islam.”[6]

Wanita Beduin pra-Islam bekerja bersama suami2 mereka dan menikmati banyak kebebasan pribadi dan mandiri. Hidup tidak mengikuti suatu aliran agama tertentu, mereka aktif berternak, tidak hidup tertutup ataupun memakai penutup muka ; kontribusi mereka terhadap masyarakat banyak dihargai dan dihormati. Segregasi antar jenis kelamin sama sekali tidak praktis. Jika diperlakukan buruk oleh suami, mereka cukup lari ke suku tetangga. Bandingkan dg Islam, bahkan pada abad 19, “Diantara kaum Beduin, pasukan2 mereka dipimpin oleh para perawan dari keluarga yg hebat, yang naik unta paling depan membuat malu mereka yang pengecut dan memberi semangat para pemberani dengan teriakan2 satire atau pujian.”[7]

Sejarawan Arab abad 10, al-Tabari menceritakan tentang Hind bint Otba, istri dari Abu Sufyan pemimpin keluarga aristokrat Mekah, yg memberikan gambaran hidup akan mandirinya wanita aristokrat sebelum islam. Para wanita bersumpah setia sama seperti kaum lelaki, ikut ambil bagian dalam negosiasi dengan pemimpin militer kota yg baru – yaitu, Muhammad sendiri – dan sering terang-terangan bersikap bermusuhan terhadap agama2 baru. Ketika Muhammad tiba di Mekah tahun 630M dengan 10.000 orang, Abu Sufyan yang terkagum-kagum akhirnya memimpin perutusan utk menyatakan penyerahan diri formal dan bersumpah setia. Para wanita dipimpin oleh Hind bersumpah setia dengan terpaksa. Hind mendebat Muhammad karena Muhammad memaksakan kewajiban2 pada wanita yang tidak diwajibkan pada kaum pria. Ketika Muhammad memerintahkan pasukannya agar jangan pernah membunuh anak2 mereka, Hind menjawab dengan pedas bahwa hal ini kedengarannya terlalu hebat karena keluar dari mulut seorang pemimpin militer yang telah menumpahkan banyak darah dalam peperangan Badar dimana tujuh puluh orang dibunuh dan banyak lagi ditawan utk kemudian dieksekusi atas perintah Muhammad sendiri.

Kaum intelektual muslim yang mengaku reformis modern – baik wanita maupun pria – ketika dihadapkan dengan ketertinggalan yang kentara mengenai posisi wanita (situasi yang tetap tinggal diam selama berabad-abad), cenderung mengarang mitos jaman keemasan saat kebangkitan islam dimana para wanita katanya menikmati hak yang sama. Contoh, bahkan Nawal el Saadawi [8] feminis Mesir yg telah banyak melakukan dan mengatakan hal2 positif mengenai hak2 wanita muslim agar mengungkapkan keseksualitasan mereka menulis, “kemunduran wanita Arab dalam filosofi Islamik dan budaya berbeda dengan situasinya dijaman Muhammad ataupun dengan inti semangat Islam.” :shock: :shock:

Juga feminis Aljazair Rachid Mimouni [9] berkata, “Jelas bukan agamanya Allah yg salah, tapi penafsirannya. Fundamentalisme adalah sebuah penipuan. Merusak pesan dari Muhammad.” Pemikirannya adalah bukan Islam yg salah dalam hal kemunduran wanita. Tentu saja membicarakan “inti Islam” sama saja dengan mengabadikan pengaruh jahat dari sebuah otoritas religius dan mengabadikan sebuah mitos. Para pemikir muslim yang sama ketika dihadapkan dengan bukti2 tertulis akan misogyny (kebencian thd wanita) dalam Islam, bingung dan marah. Mereka menolak memandang kenyataan yg ada dihadapan mereka, mereka merasa wajib utk menafsirkan tulisan2 keramat itu, utk meminta maaf, utk mengecilkan wujud permusuhan terhadap wanita tsb – pendeknya, membersihkan tuduhan2 thd Islam tsb. Yang lainnya mencoba berdebat bahwa hadis2 tsb diabadikan oleh para muslim yg diragukan motifnya.

Image

Tapi utk berperang dengan kaum ortodoks, kaum fanatik dan para mullah mengenai penafsiran teks2 ini sama saja dengan berperang memakai cara, kondisi dan syarat mereka sendiri, ditanah mereka pula. Setiap teks yang kau keluarkan akan dibantah oleh lusinan teks yang mengkontradiksi teks milikmu. Para reformis tidak akan bisa menang dengan cara ini – apapun jungkir balik mental yang dilakukan, mereka tidak bisa lolos dari fakta bahwa Islam sangat anti feminis. Islam adalah penyebab fundamental penindasan wanita muslim dan tetap menjadi penghalang utama akan kemajuan posisi mereka.[10] Islam selalu menganggap wanita sebagai makhluk yg lebih rendah dalam segala hal: fisik, kepandaian dan moral. Pandangan negatif ini dari langit telah ditetapkan dalam Quran, dikuatkan oleh hadis dan diabadikan oleh para penafsir, para pemelihara dogma dan kebodohan muslim.

Jauh lebih baik bagi para intelektual ini utk membuang argumen2 religius mereka, utk menolak teks2 keramat ini dan bersandarkan pada Akal saja. Mereka harus berpaling pada Hak Asasi Manusia. Deklarasi Universal HAM (diadopsi 10 December 1948 oleh Perserikatan Bangsa Bangsa di Paris dan diratifikasi oleh banyak negara muslim) tidak mengacu pada argumen2 religius. Hak2 ini didasarkan pada hak2 alami manusia, manusia dewasa mampu pilih. Hak2 itu adalah hak umat manusia karena memang mereka juga termasuk umat manusia. Akal dan rasionalitas adalah tolak keadilan mutakhir bagi Hak Asasi Manusia – Hak2 bagi wanita.

Sayangnya dalam praktek di negara2 muslim orang tidak bisa begitu saja mengabaikan para ulama yg berpikiran sempit, fanatik. Orang tidak bisa mengabaikan mereka, yang katanya para doktor terpelajar dalam bidang hukum islam, yang dengan fatwa2nya menentukan masalah2 umum dan pribadi dimana kepentingannya menentukan kehidupan masyarakat muslim. Mereka masih punya kuasa yang besar utk menyetujui atau melarang tindakan tertentu. Lalu utk apa meneruskan pengaruh para Mullah ini?

Quran ada utk semua muslim, bukan hanya utk para ‘fundamentalis’, perkataan abadi Tuhan. Berlaku utk segala waktu, jaman dan tempat; gagasan2 didalamnya mutlak pasti benar dan jauh diatas segala kritik. Mempertanyakan Quran sama saja dengan mempertanyakan Tuhan dan itu adalah penghujatan. Kewajiban muslim adalah utk percaya dan patuh pada perintah2 ilahi.

Faktor2 lain menjadi penyumbang akan berkelanjutannya pengaruh para ulama ini. Agama apapun yang menuntut kepatuhan total tanpa berpikir TIDAK akan menghasilkan manusia2 yang berpikiran kritis, manusia2 yang mampu berpikiran mandiri dan bebas. Situasi demikian perlu demi perkembangan ‘keulamaan’ dan jelas bertanggung jawab atas mandeknya bidang intelektual, budaya dan ekonomi selama berabad-abad. Tingkat buta huruf tetap tinggi dinegara2 muslim. Dalam sejarahnya tidak pernah ada pemisahan antara negara dan agama, kritik apapun pada salah satunya dianggap sebagai kritik pada yang lain. Tak pelak lagi, ketika banyak negara muslim mendapatkan kemerdekaan setelah perang dunia dua, Islam sialnya dikaitkan dengan nasionalisme, artinya kritik apapun terhadap islam dianggap tidak nasionalis, merupakan pengkhianatan terhadap negara baru – sebuah tindakan tidak patriotis, berpihak pada kolonialisme dan imperialisme.

Tidak ada negara muslim yang bisa mengembangkan demokrasi yg stabil; muslim dijadikan subjek segala macam penindasan yang ada. Dibawah kondisi2 ini, kritik sehat dari masyarakat tidaklah mungkin, karena berpikir kritis dan berpikir bebas harus jalan bersama-sama.

Faktor2 diatas menjelaskan kenapa islam pada umumnya dan posisi wanita pada khususnya tidak pernah dikritik, didiskusikan atau dijadikan subjek pendalaman sains atau analisa skeptis. Semua inovasi, kemajuan dihalangi dalam islam – setiap masalah dianggap sebagai masalah agama bukannya sosial atau ekonomi.

Adam dan Hawa[11]

Islam mencontek legenda Adam dan Hawa dari Perjanjian Lama dan mengadaptasinya menurut versi mereka sendiri. Penciptaan manusia dari satu orang disebutkan dalam surah berikut ini:

[4.1] Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

[39.6] Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya

[7.189] Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.

Dari kisah singkat ini, teolog muslim menyimpulkan bahwa manusia adalah penciptaan khusus, orisinil – wanita diciptakan sekunder hanya bagi kenikmatan lelaki. Legenda tsb lalu berkembang utk menguatkan rendahnya wanita. Terakhir, legenda tsb diberikan karakter suci hingga jika dikritik sama saja dengan mengkritik perkataan Tuhan sendiri, yg mana perkataannya kekal dan mutlak. Inilah cara Muhammad menjelaskan wanita secara umum: “baik-baiklah pada wanita karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, tapi dari bagian tulang yang melengkung, hingga jika kau mencoba meluruskannya, ia akan patah; jika tidak melakukan apa-apa ia akan terus melengkung.”

Kisah Adam Hawa lebih jauh ada dalam:

[2.35] Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.

[2.36] Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".

[7.19] (Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim".

[7.20] Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)".

[20.120] Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?"

[20.121] Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.

Tuhan menghukum Adam dan Hawa karena melanggar perintahNya. Tapi tidak ada dalam ayat ini disebutkan bahwa Hawa-lah (seperti dalam Perjanjian Lama) yang menyebabkan Adam sesat. Tapi para juru tafsir dan ulama menciptakan mitos Hawa-lah sang penggodanya dan sejak itu menjadi bagian tak terpisahkan dalam kisah muslim. Muhammad sendiri mengatakan: “Kalau bukan karena Hawa, wanita tidak akan tidak setia pada suaminya.”

Hadis islam juga menuduh wanita tidak jujur dan penuh tipu muslihat dan mendapat dukungan dari ayat Quran berikut:

[12.22-34] Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?"

Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.

Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar."

Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar."

(Hai) Yusuf: "Berpalinglah dari ini dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah."

Dan wanita-wanita di kota berkata: "Istri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka." Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."

Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina."

Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."

Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Komentator muslim modern menafsirkan ayat2 ini utk menunjukkan bahwa kelicikan, tipu-tipu dan penghianatan hakekatnya alami ada dalam diri wanita. Bukan saja wanita tidak rela utk berubah, tapi dia memang tidak dapat berubah – wanita tidak punya pilihan.[12]

Dalam menyerang dewi2 kaum politeis, Quran mengambil kesempatan ini utk memfitnah gender wanita lebih jauh lagi.

[4.117] Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala (wanita dalam bahasa arabnya), dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka,

[43.15-19] Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).

Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.

Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban.

[52.39] Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki?

[37.149-150] Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): "Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan (nya)?

[53.21-22] Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

[53.27] Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan.

Jika Mr. Bouhdiba masih belum yakin akan ini, ada lagi ayat2 Quran lain yang benci terhadap wanita:

[2.178] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash (hukum balasan) berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita.

[2.228] Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[2.282] Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh)seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.

[4.3] Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

[4.11] Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan;

[4.34] Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

[4.43] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

[5.6] Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.

[33.32-33] Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik,

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

[33.53] Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.

[33.59] Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

---------------
[1] Pengaruh dari Ascha harusnya terlihat dalam tiap halaman bab ini meski saya jarang mengutipnya secara langsung.
[2] Burton, Richard. The Book of the Thousand Nights and a Night. 17 vols. London, n.d. Vol.x, hal.195
[3] Nefzawi, Shaykh. The Glory of the Perfumed Garden. London, 1978. Hal.203-204
[4] Bousquet, G.H. L’Ethique sexuelle de l’Islam. Paris, 1966. Hal.49
[5] Artikel “Wania,” dalam Dictionary of Islam.
[6] Shacht, Joseph. The Origins of Muhammada Jurisprudence. Oxford, 1974. hal.545
[7] Artikel “Women” dalam Dictionary of Islam”
[8] Dikutip dalam Ascha, Ghassan. Du Status inferieur de la Femme en Islam. Paris, 1989, hal.13
[9] Mimouni, Rachid. De la barbarie en general et de l’integrisme en particulier. Paris, 1992. Hal.156
[10] Ascha, Ghassan. Du Status inferieur de la Femme en Islam. Paris, 1989, hal.11
[11] Ibid., hal.23f
[12] Ibid., hal.29f

Selasa, 21 Juli 2009

Bab 15 - Tabu: Arak, Babi, dan Homoseksualitas

Tentang Arak (minuman keras, beralkohol)

Khushwant Singh, penulis india dan salah seorang novelis india menulis hasil kunjungannya ke Pakistan, dikutip oleh Ibn Warraq dalam bukunya:

“Larangan2 di Pakistan sama konyolnya seperti di Morardi Desai, India. Orang yang suka minum bisa menemukan minuman keras pada fatamorgana2 di gurun sahara. Di Pakistan memang tidak mengalir alkohol sebanyak air di sungai Ravi, tapi dirumah2 orang Pakistan kaya, mereka tidak pernah kehabisan minuman. Kau bisa menemukan whisky dalam poci teh dan meminumnya dari perangkat teh porselen. Harganya dua kali lebih mahal dari di India tapi rasanya juga dua kali lebih nikmat karena dibumbui dengan rasa dosa.”[1]

Belakangan Singh menonton debat televisi antara tiga orang Mullah dan Mentri Informasi Pakistan. Malam besoknya, Singh mendapati dirinya duduk disebelah mentri tsb pada sebuah jamuan makan malam resmi. Sang mentri membaca pidato sambutan untuk Singh dan delegasi India lainnya. Sebagai jawaban, Singh berdiri dan memberitahu sang Menteri kalau lain kali dia bertemu para mullah, dia harusnya membacakan ayat berikut:

Mullah, jika sholatmu punya kekuatan
Coba goyangkan mesjid!
Jika tidak, minum beberapa gelas arak
Dan perhatikan mesjid bergoyang sendiri.


Terdengar tepuk tangan dan sambutan riuh penuh tawa, juga dari sang mentri. Lalu dia berbisik: “Jika orang2 ini (para mullah) berhasil, mereka akan mewajibkan team hockey putri kita main pake burqa.’”

Hanif Kureishi, penulis inggris yang ayahnya asli Pakistan, pernah ikut beberapa pesta di Karachi, Pakistan. Pada salah satu pesta yang dihadiri oleh para “pemilik tanah, diplomat, pebisnis, dan politisi,” Kureishi melihat

mereka minum arak sampai berbotol2. Tiap orang Inggris tahu, anda bisa dicambuk jika minum arak di Pakistan. Tapi sejauh ini, tak satupun borjuis Inggris dicambuk. Mereka masing2 punya seorang penyelundup arak favorit. Sekali waktu saya masuk kekamar mandi sang tuan rumah dan melihat bak mandi yang penuh botol whiski, yg sengaja direndam agar labelnya mudah dilepas, dgn seorang pelayan duduk pada bangku melepaskan label2nya.[2]

Charles Glass menulis dalam Times Literary Supplement (22 April 1994), ia menceritakan sebuah kemunafikan di Arab Saudi:

“Kepemilikan alkohol itu ilegal, tapi saya ditawari arak dirumah2 pangeran saudi, mentri2 kabinet dan duta2 besar, whisky2 (yang paling jadi favorit adalah Johnny Walker Black Label). Saya melihat seorang pangeran yang minum whisky bersama saya malam itu. Besoknya dia menghukum penjara seseorang karena kejahatan minum arak.”

Diseluruh dunia Islam, tidak ada satupun negara yang tidak menyediakan minuman beralkohol, dan tidak ada Muslim yang tidak melanggar larangan islam akan anggur dan arak. Sementara orang2 kaya meminum whisky atau gin selundupan mereka, orang miskin meramu sendiri arak atau minuman beralkohol lainnya dari kurma, palem dan gula alam. Ini didasarkan pada pengalaman saya sendiri di Aljazair pada bulan suci ramadhan tahun 1990; baik tempat pelacuran maupun toko2 alkohol tetap buka.

Nabi Muhamad dalam salah satu ayatnya dalam Quran (16.69) memuji arak sebagai salah satu tanda kebesaran Allah utk umat manusia. Tapi ketika para sahabat nabi sering mabuk, Muhamad berkewajiban utk memperlihatkan ketidaksetujuannya (Surat 2.216; 4.46), sampai akhirnya dalam Surat 5.92 Dia benar-benar melarangnya langsung:

[5.92] “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Orang Arab dijaman Muhamad merasa sulit memeluk Islam karena adanya larangan minuman keras dan pembatasan hubungan seks. Bagi orang Arab, dua hal ini adalah kenikmatan tiada tara “alatyaban”. Puisi2 sebelum islam[3] penuh dengan penyebutan kenikmatan mabuk diwarung2 minuman. Bahkan pada saat munculnya Islam, pujian akan arak tetap menjadi bagian integral dalam puisi2 arab selama berabad-abad. Malah, tidak ada karya sastra lain yang begitu banyak dipenuhi dengan koleksi puisi tentang arak, atau “Khamriyya” dalam bahasa Arab. Sekali lagi, seiring dengan perkembangan sains dan filosofi islam, sastra tetap berkembang meski ditekan islam.

Pada pengadilan2 Kalifah dimana perlindungan dari keluarga kalifah dipandang cukup utk melindungi para pelanggar dari hukuman 80 cambukan, arak mengalir bebas pada pesta2. Bahkan rakyat biasa (Arab) juga menolak melepaskan arak meski bisa kena hukuman. Kita bisa mengutip Abu Mihjan, yang ditahan lalu dikucilkan oleh Kalifah Umar karena terus menerus memuji2 arak:

Give me, o friend, some wine to drink; though I am
well aware of what God has revealed about wine.
Give me pure wine to make my sin bigger because only
when it is drunk unmixed is the sin complete
Though wine has become rare and though we have been
deprived of it and though Islam and the threat of
punishment have divorced us from it:
Nevertheless I do drink it in the early morning hours
in deep draughts, I drink it unmixed and from time to
time I become gay and drink it mixed with water.
At my head stands a singing girl and while she sings she flirts;
Sometimes she sings loudly, sometimes
softly, humming like flies in the garden.


(Beri aku, o teman, minuman arak, meski aku sadar akan apa yg Allah turunkan tentang Arak.
Beri aku arak murni agar dosaku lebih besar karena hanya saat aku mabuk arak murni dosaku jadi lengkap
Meski arak jadi langka dan meski kita dilarang meminumnya dan meski Islam dan hukuman memisahkan kita darinya:
Namun saya minum arak banyak2 dipagi hari , kuminum tanpa dicampur dan dari waktu ke waktu aku menjadi gembira dan meminumnya dengan dicampur air.
Dikepalaku berdiri wanita penyanyi dan sambil bernyanyi dia menggoda juga;
Kadang dia menyanyi dengan kencang, kadang pelahan, bergumam seperti lalat ditaman.)


Abu Mihjan tidak tahan hidup tanpa arak dan utk itu dia menyusun ayat2 berikut:

When I die bury me by the side of a vine so that my
bones may feed on its juices after death.
Do not bury me in the plains because I am afraid that then
I cannot enjoy wine when I am dead.[4]


(Jika aku mati, kubur aku disamping tanaman anggur agar tulangku makan dari sarinya jika aku mati Jangan kubur aku didataran biasa karena aku takut tidak bisa menikmati arak lagi jika mati.)

Tradisi lagu arak ini berlangsung sampai jaman Umayyad yang sama sekali tidak bisa membungkam semuanya. Arti yang lebih luas dari pertentangan ini telah dengan halus dianalisa oleh Goldziher[5], yang menulis: “Undang2 Umayyad tidak siap utk membungkam lagu2 tentang arak, karena berisi semangat oposisi terhdp kesolehan Medinah, yang bertentangan dengan gaya hidup orang Arab kuno. Dg demikian tradisi memuji2 arak tidak menghalangi puisi2 arab dan jarang sekali ada orang yang mengangkat suara menentang minuman arak. Jadi kita lihat fenomena dari puisi2 rakyat yg selama berabad2 hidup dan memprotes agamanya sendiri.”

Khamriyya atau puisi arak dg begitu jadi sebuah alat protes dan pemberontakan menentang bukan saja prinsip Quran, tapi seluruh budaya yang berusaha utk membelenggu dengan pembatasan2 yang sewenang-wenang akan semangat kebebasan dalam berpuisi, yang membenci segala bentuk kedisiplinan.

Dalam abad pertama muslim, kita punya penyair seperti Ibn Sayhan, al-Ukayshir dan Ibn Kharidja membawakan kenikmatan cinta, musik dan arak. Al-Ahwas malah bertindak lebih jauh lagi dengan menulis tentang penolakan agama dan rejim politik saat itu, sebuah penolakan yang membuat dia digantung dimuka umum.

Diabad kedua, kita punya Walid b. Yazid yang terkenal dan dikelilingi oleh sekelompok besar penyair yang melantunkan puji2an akan arak dan hidup hedonistik/bersenang-senang. Kita juga punya sekelompok penyair yang oleh Bencheikh[6] disebut “Kaum Merdeka dari Kufa:”

“Disinilah, dan dalam masa puncaknya, Bacchisme muncul sebagai ungkapan pemberontakan, dan para penyair bersikap lebih subversif. Pemberontakan ini secara spektakuler diarahkan utk melawan prinsip2 agama; bukan kebetulan bahwa kebanyakan penyair ini dikenakan tuduhan zandaka, dan bahkan beberapa dari mereka membayar dengan nyawanya demi menolak pembatasan terhdp sistem sosio-kultural.”

Nama2 lain seperti Bakr b. Kharidja, yang banyak menghabiskan waktunya diwarung2 minum, dan Ziyad al-Harithi, yang suka melakukan pesta seks sambil minum dengan temannya Muti b. Iyas.

Dibawah pemerintahan Abbasid, kita juga perlu menyebut langganan warung minum lainnya spt budak kulit hitam Abu Dulama[7], yang juga seorang penyair, macam Eddie Murphynya orang Arab. Dia juga dengan bebas meledek islam dan hukum islam dengan sangat berani.

Penyair2 arak lainnya tak terhitung, semuanya hidup bersenang-senang, pindah2 dari satu tempat minum ketempat minum lain, & masih punya cukup waktu utk menulis puisi2. Arak juga memainkan peranan penting dalam penulisan mistik2, dimana mistik menjadi salah satu lambang ecstasy (kenikmatan).

Abu Nawas adalah penyair arak terbesar – dan mungkin penyair terbesar – dalam bahasa Arab. Dia muncul dibanyak episode2 komik dalam kisah 1001 malam, dimana ia sering ditemani oleh Harun al-Rashid. Banyak yang menilai dia sebagai penyair terbesar arab. Dia lahir di Ahwaz tahun 747. Kita hanya tahu sedikit tentang orang tuanya, tapi Abu Nawas selalu menganggap dirinya lebih Persia daripada Arab. Dia menghabiskan masa mudanya di Basra dan Kufa, mempelajari filologi dan puisi. Dia akhirnya berhasil masuk kekerajaan Harun al-Rashid di Baghdad. Nicholson[8] menjelaskan dirinya sebagai “karakter yg paling tidak peduli dan secara terbuka menunjukkan imoralitas, mabuk2an, dan penghujatan, sampai membuat marah sang kalif sampai sang kalifah sendiri mengancam utk membunuhnya, dan memenjarakannya berkali2.”

Abu Nuwas mampu menulis dalam beberapa gaya, tapi sumber inspirasi dari puisi2nya adalah arak dan cinta. Ketika dia tidak melantunkan pujian tentang bocah2 lelaki cantik, dia menyusun puisi2 arak yang tidak tertandingi, yang jarang melebihi empat belas baris. Contohnya:

Ho! a cup, and fill it up, and tell me it is wine,
For I will never drink in shade if I can drink in shine!
Curst and poor is every hour that sober I must go,
But rich am I whene'er well drunk I stagger to and fro.
Speak, for shame, the loved one's name, let vain disguise alone:
No good there is in pleasure o'er which a veil is thrown.[9]


Setidaknya Abu Nuwas tidak bisa dituduh munafik. Dia juga menyarankan perbuatan yang berlebih2an, disarankannya bahwa, pada akhirnya, orang akan diampuni oleh Tuhan yang maha pengampun:

Accumulate as many sins thou canst:
The Lord is ready to relax His ire.
When the day comes, forgiveness thou wilt find
Before a mighty King and gracious Sire,
And gnaw thy fingers, all that joy regretting
Which thou didst leave thro' terror of Hell-fire!


Penyair terbesar setelah Abu Nuwas adalah Ibn al-Mu’tazz (dipancung tahun 908) yang juga dipuji2 karena pantun araknya dan deskripsi tentang tradisi minum.

Faiz Ahmed Faiz (1911-1984) sering dianggap penyair nasional Pakistan. Dia meneruskan tradisi pantun arak dalam sastra islami. Singh menjelaskan kunjungannya pada Faiz : “Ketika aku kekamarnya pagi2, dia sedang minum (biasanya Scotch). Aku makan pagi dan lalu pergi… ketika aku kembali siang harinya, dia minum lagi. Aku makan siang dan tidur sebentar. Belakangan disore hari aku bergabung dengannya utk minum beberapa gelas dan makan malam. Dia terus minum, sampai subuh hari.”

Faiz adalah seorang komunis, setidaknya pada satu perioda hidupnya, tapi, menurut Singh, “Dari konsumsi satu hari untuk minuman Scotch dan rokok impornya, dia bisa memberi makan satu keluarga selama satu bulan.”[10]

Faiz menulis :

There will be no more war.
Bring the wine and the glasses
champagne and goblets
Bloodletting is a thing of the past: so is
weeping.[11]


Tentang Babi dan Daging Babi

Di tahun 1968, ketika dia di Karachi, Pakistan, Salman Rushdie membujuk televisi Karachi utk memproduksi karangan Edward Albee: The Zoo Story. Rushdie mengambil ceritanya:

“Karakter yang saya mainkan punya monolog panjang yang menjelaskan serangan beruntun dari anjing sang empunya tanah. Dalam usahanya utk menjinakkan si anjing, dia membeli setengah lusin hamburger. Sang anjing menolak hamburger dan menyerang lagi. “Aku tersinggung,” harusnya aku berkata. “Ini ada enam hamburger enak yang sempurna, penuh daging babi sampai membuatnya benar2 menjijikan”

“Daging Babi (Pork),” kata seorang eksekutif TV, “adalah kata empat huruf yang disensor.” Sama dgn kata “sex,” dan “homosexual.” Tapi kali ini saya membantahnya. Teks yg saya susun ini justru mendukung kejijikan babi. Pork, dalam pandangan sang pengarang (Albee), membuat hamburgernya begitu menjijikan hingga anjingpun tidak mau. Ini propaganda anti babi yang hebat. Harus dipakai. “Kau tidak tahu,” sang eksekutif bilang, …”kata pork tidak boleh diucapkan ditelevisi Pakistan.” Titik.”[12]


Buku Animal Farm karya George Orwell dilarang dinegara2 islam karena karakter utamanya adalah seekor babi, meski babi2 itu ditunjukkan sebagai tiranis dan paling kejam.

Dari waktu ke waktu, dinegara2 muslim, polisi religius menggeledah toko mainan utk memeriksa bentuk2 mainan seperti karakter Miss Piggy dalam film the Muppet, yg jika ditemukan akan dihancurkan dimuka umum.

“Tahu nggak,” kata penulis Paul Theroux, “kau sadar kau berada dlm rumah kaca (baca : dunia aneh) ketika kau berada dinegara dimana karakter Miss Piggy dipandang sebagai perwujudan jahat.”

Ketidaksukaan islam bahkan terhadap huruf ‘pig’ itu sendiri membuat para muslim kehilangan kenikmatan kisah2 P.G. Wodehouse dgn cerita ttg Lord Emsworth dan babinya yg paling berharga, the Empress of Blandings. Muslim kemungkinan juga benci Winnie the Pooh dan temannya Piglet.

Kejijikan dan kebencian mutlak yg ada dalam benak para muslim karena membayangkan akan memakan “makhluk paling jijik’ ini mengarah pada fanatisme yg pantas utk di-psikoanalisa. John Stuart Mill[13] jelas melihat sifat khusus dan penting dari kebencian ini:

“Tak ada ajaran atau praktek Kristen yang lebih meracuni kebencian Muslim selain fakta bahwa mereka memakan daging babi. Ada beberapa tindakan muslim yang dianggap jijik oleh Kristen tapi tidak berpengaruh dalam kehidupan mereka sehari2. arak juga dilarang agama mereka, dan meminum arak dianggap dosa oleh muslim, tapi tidak membuat mereka jijik akan arak. Kejijikan mereka akan daging babi, “makhluk kotor’ ini, sebaliknya, lebih mirip naluri antipati akan ‘kotoran’, yang sekali masuk dalam perasaan, membangkitkan perasaan yang luarbiasa, bahkan pada Muslim yang hidupnya sangat jorok sekalipun. Ini adalah contoh yang mengherankan ...”

Quran jelas melarang babi:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah..” (Q 5.3)

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (Q 6.145, Lihat juga 2.173; 16.115)


Dalam surat 6.145, alasan larangan ini adalah bahwa daging babi adalah “kotor”. Setidaknya, Yusuf Ali, Arberry, dan Sale menerjemahkan kata Arab “rijas” sebagai “abomination” sebagai terjemahan yang tepat; tapi Dawud dan Rodwell menerjemahkannya sebagai “unclean, tidak bersih”. Kita akan kembali kembali ke poin ini nanti.

Sikap atas larangan makanan dll dalam Quran dapat dimengerti hanya jika kita melihatnya sebagai usaha2 Muslim utk mendefinisikan diri sendiri, khususnya jika dibandingkan dengan Yudaisme. Aturan Quran dikembangkan dalam sebuah lingkungan pergaulan “yang mana tiap komunitas religius dikenal dari aturan khusus mereka masing2 tentang makanan.”[14]

Jadi dlm surat 2.168, 5.87, 6.118 dan 7.32, Quran mempertanyakan mereka yang terlalu memberatkan orang dgn larangan makanan ketimbang malah bersyukur atas kelimpahan yg diberikanNya. (2. 286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.)

Ayat2 ini jelas ditujukan pada para kristen dan kaum berhala yang baru2 itu memeluk Yudaisme dan mengadopsi prinsip2 aturan larangan makanan ini. Belakangan, “hal itu menjadi penting sebagai hal yang membedakan Islam dengan Yudaisme.”

Muhamad bukanlah seorang pemikir sistematis, dan sia-sia saja utk mencari aturan2/prinsip yang bertalian secara logis dengan hal ini dalam Quran. Muhamad mengatasi masalah sesuai dgn apa yg dihadapkan padanya dan kita bisa melacak latar belakang setiap aturan yang ditulis dalam Quran. Dg demikian kita sering temukan konflik dan bahkan kontradiksi dalam Quran ttg hukum larangan ttg makanan ini; semua ini oleh Cook[15] dinamakan kecenderungan liberal dan restriktif.

Contoh, mari kita lihat kecenderungan liberal, mungkin dihasilkan dari polemik kristen terhadap orang yahudi. Banyaknya larangan2 yahudi membuat Muhamad mengkritik mereka yang memaksakan larangan2 berlebihan itu pada diri mereka, karena tuhan tidak bermaksud membebani orang2 beriman dengan begitu banyak aturan yg tidak berguna dan sewenang-wenang mengenai makanan (Surat 2.286).

Larangan Yahudi bahkan seakan sebagai hukuman ilahi utk dosa2 orang yahudi (4.158, 16.119). Mirip dengan itu adalah kegigihan dari hukum yang muncul dari pihak lawan orang Samaritan dan praktek Yudeo Kristen.

Kecenderungan restriktif mungkin berasal dari orang yahudi. Quran dan semua sekolah hukum islam melarang Babi. Rodinson menunjukkan bahwa larangan ini ditemukan juga diantara kaum pagan yahudi dan juga terdapat dalam Judeo-Kristen tertentu. Mungkin lewat jalan inilah pelarangan itu diadopsi di Arab.

Jika ditanya kenapa dia tidak makan babi, kebanyakan muslim akan menjawab, “karena dilarang dalam Quran”. Itu cukup buat dia, tak perlu penjelasan lebih lanjut. Pada orang2 kelas menengah yg berpendidikan, kemungkinan jawabannya adalah “karena babi adalah binatang kotor, dan dinegara yang berudara panas mudah menjadi penyakit.” Semakin mereka berpendidikan mungkin mereka akan menyebut nama2 penyakit yang ditemukan dalam babi atau yang ditularkan oleh babi pada manusia, seperti trichinosis.

Alasan2 higienis pelarangan babi ini jauh lebih tua dari yang kita semua bayangkan, namun tetap saja salah. Contohnya, Maimonides (1135-1204) bilang: “Semua makanan yang dilarang Torah utk dimakan punya efek jelek dan merusak pada tubuh… alasan prinsipil kenapa hukum melarang daging babi ditemukan dalam kebiasaannya dan makannya yang sangat jorok dan menjijikan.”[16]

Babi tidak dikenal, atau hampir tidak dikenal orang2 Arab sebelum Islam[636]. Pliny dalam Sejarah Alam-nya menyatakan bahwa tidak ada babi di Arab. Kita tahu dari Sozomenus (Abad 5M) bahwa kaum pagan Arab tertentu berpantang babi dan mengamati upacara2 yahudi lainnya. Jika benar ini kasusnya, kenapa Muhammad melarang seekor binatang yang mungkin tidak ada di Arab, jangankan lagi utk dimakan? Pelarangan ini semakin masuk akal jika kita melihatnya sebagai sesuatu yang diadopsi belakangan ketika orang2 Arab melakukan kontak dengan orang Samaritan dan Yahudi di Palestina dan mulai membentuk identitas religius mereka sendiri dengan meniru.

Quran menjelaskan daging babi itu sbg ‘abomination, sangat dibenci”, dan bukan sebagai “unclean, tidak bersih.” Para muslim mengambil alih pelarangan ini dari orang Yahudi dan Samaritan. Ini mendorong pertanyaan satu tingkat lebih jauh lagi. Kenapa kelompok yang belakangan muncul jadi melakukan pelarangan itu?

Antropologis sosial modern ragu utk menetapkan sumber kepercayaan dan kebiasaan, tapi sejauh yang saya tahu, tidak ada antropolog modern yang menerima pandangan bahwa babi dilarang karena alasan higienis, meski sejarawan, teolog dan arkeolog tertentu menerimanya. Mari kita lihat alasan2 kenapa penjelasan higienis tidak bisa diterima.

Trichinosis[17] adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing nematode yg kecil, Trichinella spiralis, yang diteruskan kepada manusia jika dagingnya tidak dimasak, daging yg busuk, daging itu hampir selalu daging babi. Ini adalah penyakit serius yang jarang terjadi, tapi komplikasi bisa saja timbul. Gejala2nya termasuk demam, sakit otot, mata panas dan tidak enak badan. Tak seorangpun mereka yg membaca bible di timur tengah tahu tentang T. Spiralis, atau hubungan parasit ini pada babi atau manusia. Hanya ditahun 1835 lah parasit ini ditemukan pertama kali dalam otot manusia, tapi, saat itupun tetap dianggap tidak berbahaya. Tidak sampai tahun 1859, dua puluh empat tahun kemudian, disadari bahwa parasit ini bisa berpindah pada manusia lewat daging babi yang dimakan dan dikenal bahwa parasit ini bisa menyebabkan penyakit. Terlebih lagi, gejala2nya tidak mudah dideteksi. Di Amerika dikatakan terdapat 350.000 orang yang terinfeksi setiap tahun, tapi hanya 4.5 persen saja yang menunjukkan gejala ini.

Banyak orang menunjuk pada udara panas timur tengah sebagai penyebab utama parasit yang ada dalam babi.

Tapi trichinosis adalah sebuahpenyakit daerah berudara dingin, dg demikian akan lebih banyak terjadi di Eropa dan Amerika daripada dekat atau di Timur Tengah.

Hewan ternak, sapi dan kambing juga bertanggung jawab menularkan penyakit2 tertentu pada manusia. Demam turun naik bisa berasal dari penanganan ternak atau dari susunya; Demam Malta ditularkan pada manusia dari kambing; anthrax, penyakit yang sangat serius, ditularkan pada manusia dari kambing dan sapi dan bisa menimbulkan gejala seperti demam dan membuat timbulnya cairan kuning dan luka2.

Kebiasaan kotor apa yang tersohor dari babi itu? Babi tidak lebih parah dari ayam dan kambing yang juga sama2 makan tahi. Buffalo/sapi berkubang dalam air kotor, lumpur. Diantara orang2 Melanesia Barat Laut, seperti yang diterangkan oleh Malinowski, anjing dianggap jauh lebih jorok dari babi.[18]

Jadi, jika kebiasaan2 babi memang betul menimbulkan kejijikan yang luar biasa, kenapa babi diternak secara domestik ? Kita tahu babi diternakkan di Asia Tenggara sekitar 9.000 SM dan 6.000 SM, dan menjadi elemen penting dalam pola makan orang Sumeria. Herodotus menyatakan terdapat sekelompok babi yang dimiliki oleh masyarakat kelas atas di Mesir. Tapi jika benar ada sekelompok babi peliharaan maka pastinya ada kebutuhan akan daging babi. Jika orang yahudi sadar akan penyakit yang disebabkan karena makan daging babi yang dimasak tidak baik, kenapa pengetahuan ini tidak dimiliki juga oleh kelompok lain yang tidak makan babi? Malah, Hippocrates mengklaim bahwa makan daging babi memberinya kekuatan.

Orang2 Kristen menyebarkan pemakaian daging babi, tapi orang Kristen permulaan adalah orang2 yahudi. Kalau pertimbangan higienis benar2 jadi alasan larangan daging babi, maka pastilah mereka akan meneruskan kebiasaan larangan ini dan orang2 Kristen akan mengadopsi larangan ini juga.

Istilah seperti “menjijikan” dan “kotor” sangatlah subjektif. Ini dapat dilihat dari fakta bahwa sekolah2 Yurisprudensi Islam mengijinkan binatang2 tertentu utk dimakan yang mungkin akan membuat orang2 Eropa merasa jijik. Contohnya[19], tiga dari empat sekolah utama kaum Sunni dan ahli Hukum Ibn Hazm, mengijinkan memakan kadal. Pastilah tidak ada binatang yang lebih menjijikan daripada Hyena, yang memakan daging2 mayat yang bau dan busuk; tapi Ibn Hazm, dan Hambali, orang yang pada keadaan normalnya tidak toleran, mengijinkan Hyena utk dimakan. Kaum Maliki, Shafi’I dan Ibn Hazm juga mengijinkan landak utk dimakan. Semua sekolah, tanpa kecuali, mengijinkan unta dan belalang utk dimakan.

Kalau begitu apa alasan sebenarnya utk tabu memakan daging babi? Menurut Robertson Smith[20], orang Yahudi kuno punya ritual tertentu utk babi, dagingnya dilarang sebagai makanan biasa, namun boleh dimakan hanya dalam peristiwa tertentu saja. Diantara orang Syria, daging babi itu tabu, “tapi tetap tidak jelas apa ini karena binatang ini suci atau karena ‘tidak bersih’.” Ide kesucian dan ketidakbersihan belum lagi bisa dibedakan. Menurut Frazer[21], orang yahudi juga punya sikap mendua akan babi, apa mereka memuja atau membenci? Frazer menyarankan bahwa:

Orang Yahudi mengkeramatkan babi, dan kita tahu bahwa sebagian orang Yahudi mengadakan pertemuan rahasia ditaman2 utk memakan daging babi dan tikus dalam upacara ritualnya. Sangat mungkin ini adalah upacara yang sangat kuno, kembali kemasa ketika babi dan tikus dianggap keramat, dan ketika daging mereka diambil sbg sakramen dalam peristiwa sakral dan jarang sebagai tubuh dan darah dari tuhan. Dan pada umumnya ini mungkin bisa dikatakan bahwa yang disebut binatang ‘tidak bersih’ sebenarnya adalah keramat; alasan tidak memakannya adalah karena binatang itu keramat.

Situasi yang sama juga berlaku di Mesir.

Penjelasan ini, meski memadai menyangkut perihal babi, tetap tidak cukup utk menjelaskan semua perincian larangan dalam Perjanjian Lama, berikut sistem klasifikasinya. Baik Frazer maupun Robertson Smith tidak bisa menjelaskan kenapa binatang2 tertentu mendapatkan status keramat.

Semua penjelasan modern tentang larangan dalam Perjanjian Lama dimulai dari diskusi yang ada dalam karya Mary Douglas “Purity and Danger” (1966) dan “Implicit Meanings” (1975).

Intinya, Douglas melihat “tabu makanan” dalam terma pertalian kategori, batas dan karenanya juga anomali serta kemenduaan yang tidak sesuai dengan batas2 itu. Menurut Douglas[22], binatang dikira mempunyai keistimewaan fisik yang penting yang sesuai dengan habitat mereka, dengan keistimewaan cara bergerak mereka yg juga penting.” Jadi, ternak harus punya kuku belah, burung harus terbang dan ikan harus punya sirip. Tikus dilarang karena gerakan mereka yang tidak tentu.” Klasifikasi bible “menolak makhluk2 yang menyimpang dari biasanya, baik yang hidup didua dunia atau punya keistimewaan utk dua dunia, atau tidak bisa dipastikan berada didunia yang mana.” “Kekeramatan membutuhkan individu tsb menyesuaikan diri pada kelas yang mana mereka diklasifikasikan.. perbedaan kelas ini adalah hal2 yang tidak akan membingungkan.”

“Binatang berkuku belah, pemakan rumput adalah model makanan yang diterima bagi penghuni padang atau pedusunan” : jadi babai, yang berkuku belah tapi bukan pemamah biak tidak termasuk, dan tidak ada disebut-sebut tentang kebiasaan kotor babi dalam Perjanjian Lama. “Karena babi tidak menghasilkan susu, kulit ataupun bahan pakaian (wol), tidak ada alasan utk memelihara mereka kecuali daging mereka. Dan jika orang israel tidak memelihara babi maka mereka tidak tahu akan kebiasaan kotor dari babi.”

Edwin Firmage[23] melihat tesisnya douglas ada yang kurang dalam banyak hal. Saya hanya memberikan penuturan yang samar akan kritiknya dan pendapatnya utk solusi akan hal ini. Cara bergerak bukan faktor prinsip pemersatu yang ada dibelakang persepsi ‘ketidak bersihan’ (kenapa kuku belah bukan kuku saja?). “Kenapa fakta kelainan membuat binatang ini jadi dianggap kotor dan tidak bisa dimakan?”

Firmage malah menyediakan jawabannya sendiri:

Pengaruh yang kuat… mesti jadi alasan kenapa Israel disebut bangsa suci. Urusan suci ini menjadi urusan utama para pemuka agama agar tetap terpelihara, pertama-tama dalam tempat2 keagamaan mereka lalu juga diantara orang2nya. Para pemuka agama ini harus mengajarkan apa yang dimaksud dengan ketidak-sucian, dan bagaimana menghilangkannya. Para pemuka agama ini malah bertindak lebih jauh ketika mereka menetapkan hukum larangan makanan.. Jauh melewati batasan2 kesucian pribadi, didalamnya membedakan bukan orang yang tidak suci dan yang suci, tapi bangsa Israel dengan bangsa2 lain. Ketika para pemuka agama ini menyadari bahwa Larangan inipun harus memenuhi syarat2 perintah kekudusan, mereka sudah punya model2 hewan yang boleh dikorbankan dalam ritual kurban.. Hal ini juga bisa dipakai utk menentukan daging hewan apa yang boleh dikonsumsi mereka. Tapi meski hewan2 yang dijadikan kurban adalah juga hewan yang disukai sebagai makanan tetap saja makanan manusia lebih bervariasi dalam jenis2 hewan yang mereka makan. Pertanyaan bagi para pemuka agama ini adalah, lalu: daging yang mana yang sesuai dengan paradigma ‘daging yg pantas’ yang juga ditetapkan sebagai kurban? Ada beberapa hewan yang cocok utk dikurbankan pada altar, yang diterima secara bersama sebagai hewan kurban sejak awalnya, yang juga memberikan ‘kondisi bersih’ pada hewan tsb. Para pemuka agama menarik kesamaan antara Larangan jenis makanan utk bangsa Israel dengan yang ditentukan oleh YHWH, dimana jenis hewan kurbannya menjadi ukuran ‘kebersihan’ bagi hewan2 lain dalam Larangan Israel ini.

Ketika akan diterapkan perbandingan standar ini, hanya binatang2 yang mirip dengan hewan kurbanlah yang diperbolehkan dimakan.


Tapi para pemuka agama harus memberikan semacam petunjuk bagi orang2 awam, dan mereka mengambil contoh2 kemiripan yang mereka percaya bisa dg mudah diterapkan dalam kasus2 yang sulit. “Kriteria yang mereka sebutkan itu dg demikian tidaklah harus persis sama. Tapi hanya mengindikasikan kriteria umum dan mendasar akan perbedaan dengan paradigma2 yang dipakai sebagai hewan kurban. Dengan dasar inilah terbentuk Larangan Jenis Hewan yang boleh dimakan berasal.”

Kelemahan dari argumennya Firmage ada pada gagasan“Ada beberapa hewan yang cocok utk dikurbankan pada altar, yang diterima secara bersama sebagai hewan kurban sejak awalnya”. Dengan kata lain, orang2 israel punya gambaran hewan mana yang sesuai utk dijadikan kurban. Hal ini tentunya tidaklah cukup utk menjelaskan kenapa hewan tertentu dari awalnya sudah diterima. Ini adalah pertanyaan yang muncul – kriteria apa yang mereka pakai sampai mereka menetapkan ada beberapa hewan yang cocok utk dikorbankan? Orang2 Israel mengambil contoh hewan kurban sebagai paradigma mereka, tapi darimana mereka mendapatkan paradigma ini awalnya?

Kita mungkin bisa menelaah solusi yang ditawarkan oleh Marvin Harris[24] dan Simoons. Haris memberikan penjelasan ekologis utk pelarangan babi sebagai kurban. Bagi asalnya dipelihara melulu utk dagingnya – sebagai sumber protein hewani. Dalam habitat hutannya, babi hidup dari memakan akar2, umbi2 dan buah2an. Ketika hutan menghilang babai harus makan biji2an, dan dengan demikian bersaing dengan sumber makanan utk manusia. Jadi babi menjadi terlalu mahal utk dipakai sebagai sumber daging. Larangan utk memakan babi adalah sebuah cara utk meyakinkan para petani agar tidak punya keinginan utk memeliharanya, karena jika tidak hal ini akan berakibat buruk pada komunitas saat itu. Teori ini, meski masuk akal, menimbulkan pertanyaan lain. Jika babi dipelihara memakai makanan marjinal (seperti kata Firmage), maka pastilah babi tidak akan menjadi ancaman bagi sumber2 makanan komunitas tsb. Juga timbul pertanyaan mengenai seberapa besar kerusakan hutan yang timbul didaerah tsb. De Planhol[25] penulis besar mengenai Geografi dan Islam, menunjukkan bahwa:larangan memakan Babi-lah yang menyebabkan kerusakan2 hutan. Larangan ini berujung pada diternakkannya kambing dan domba digunung2 berhutan, dan pastinya mempercepat menghilangnya hutan yang lalu membuat bencana dinegara2 kering dan semi kering ini.” De Planhol memberi contoh Albania: Jika kita meliwati pedusunan dari bagian penduduk muslim ke bagian Kristen, hutan2 dari kosong (bagian muslim) jadi makin banyak (bagian kristen).

Bagi masih tetap dapat menjadi binatang yang berguna setelah perusakan hutan.

Menurut Simoons[26] prasangka buruk terhadap babi dan daging babi berkembang diantara orang2 yang hidup di padang rumput daerah kering/gersang dan semi kering. Babi2 tidak cocok utk hidup di padang rumput, tapi tersebar luas diantara orang2 yang hidup bertani. Ada konflik antara dua bangsa dan dua gaya hidup. Babi melambangkan gaya hidup satu kelompok, sementara kebencian terhadap babi menjadi simbol dari kelompok lain. Jelas ada sesuatu dalam hal ini, tapi banyak yang tidak akan menemukan hal ini sebagai sesuatu yang bisa diterima karena tidak menjelaskan tentang semua larangan2 memakan babi ini.

Banyak scholar berpaling lagi pada gagasan kesetiaan dan pengabdian. Contohnya, Edmund Leach berkata:[27]

Dihampir semua masyarakat makanan adalah satu pengenal dimana kelas2 sosial orang2nya dibedakan. Kita makan ini, mereka makan itu. Yang kita makan itu ‘baik’, ‘prestisius’, ‘bersih’; yang mereka makan ‘jelek’, ‘mencemarkan’, ‘najis’. Dimana populasi2 yang bercampur agamanya hidup berdampingan dalam sebuah lokalitas, satu cara utk menandai kelas sosial/kasta/agama mereka adalah dengan menetapkan aturan2 yang berbeda tentang makanan yg tabu. Ini persisnya yang terjadi di India dimana orang bisa menemukan kombinasi larangan yang mungkin dalam kasta2 yang hidup berdampingan.

Utk tujuan kita ini, penjelasan2 diatas sudah cukup utk menerangkan kenapa Muhammad memilih larangan2 demikian – yaitu sebagai alat utk menarik garis batas dari agama-agama lain, dan utk mendapatkan identitas muslimnya. Larangan makan babi tidak ada hubungannya dengan kebiasaan kotor babi atau penyakit2 yang bisa ditularkan pada manusia; babi dan kebiasaannya tidaklah dikenal orang Arab.

Setelah menegaskan kebencian universal islam terhadap daging babi, saya sekarang akan memberikan contoh[28] perkecualian dari aturan itu. Sepertinya baik Avicenna maupun Haly Abbas (al-Majusi) suka makan babi karena adanya kualitas2 pengobatan dalam dagingnya. De Planhol menyebutkan contoh sang heretik Ghomara Riffian dari abad pertengahan yang mengijinkan daging babi betina utk dimakan. Berber dari Iherrushen dan Ikhuanen di Gzennaya Utara, Maroko, memelihara babi sampai saat ini. Orang cenderung merahasiakan hal ini di Maroko, meski menurut Westermarck, para penghuni disana suka makan hati babi hutan utk meningkatkan kekuatan. Di China, para muslim akan makan babi tapi menyebutnya sebagai “daging domba”. Kaum Druse (di Lebanon dan Syria) juga makan daging babi.

Pujian utk Babi

Babi modern yg tak berbulu, yg kita kenal saat ini turunan dari Sus scrofa vittatus, yang dibiakkan di Cina sejak jaman Neolithic, tapi mencapai Eropa diabad 18. Charles Lamb menyanyikan pujian bagi babi di abad 19, dan berikut penjelasan filsuf modern akan kebaikan2 babi:

Pastilah babi diciptakan utk dihidangkan.. Babi juga mirip makanan: bulat, gemuk, pantas pada tusukan kayu, selalu siap kapan saja utk kehilangan individualitasnya dan menuruni tangga metafisik dari binatang menjadi makanan. Terlebih lagi, rasanya uenak, dan bisa lebih uenak lagi jika kau mengolahnya dengan tepat. Bisa jadi daging yang didinginkan, seni mengolah makanan cita rasa paling tinggi yang jauh melampaui keberanian dan kemahiran apapun yang orang Yahudi atau muslim mampu capai lewat pantangan mereka… Dg begitu, terpikirkan oleh saya, maksud Tuhan sepertinya tidak benar2 disimak oleh para penulis Kitab Imamat (dan Quran) dan saya cenderung berpandangan bahwa dalam masalah babi, ada rasa tidak tahu berterima kasih, bahkan penghujatan karena telah menolak memakannya.[29]

Homoseksualitas
Toleran yang besar akan homoseksual didunia islam telah diakui sejak lama. Dari abad 19 sampai sekarang, banyak orang barat berpindah ke daerah muslim Afrika Utara utk berpetualang homoseks dimana oleh masyarakatnya dikecam.

Pada bagian awal novel homoseksnya Compton Mackenzie, Thin Ice, yang diterbitkan tahun 1956, sang narator dan temannya Henry Fortescue berangkat ke Maroko dimana Henry terangsang oleh kuli barangnya, Ali. Henry berangkat ke Desanya Ali utk menyusul, sementara konsul Inggris meyakinkan sang narator bahwa tidak berbahaya melakukan perjalanan demikian, kondisinya tidak sejelek yang mereka bayangkan. Dan sang konsul menambahkan: “Heran. Terlintas dibenak saya kemarin temanmu agak menyimpang demikian. Well, tak seorangpun didunia Muslim, dari Tangier sampai Khyber Pass akan mengkritik seleranya.”[30]

Mari kita telaah situasi di Khyber Pass. Kaisar Babur[31] (1483-1530) melalui Khyber Pass dan akhirnya menjadikan India sebagai rumahnya. Dalam otobiografinya, Babur menceritakan dengan nikmatnya bagaimana dia jatuh cinta pada seorang anak lelaki:

Dihari2 luang itu saya temukan diri saya punya selera menyimpang. Tidak! Seperti syair katakan, “Aku jengkel dan menyebabkan jadi demikian” terhadap seorang anak laki-laki di bazaar perkampungan. Namanya, Baburi, cocok sekali.. dari waktu ke waktu Baburi selalu menghadapku tapi karena rasa malu dan kesopanan, aku tidak pernah menatapnya langsung; lalu bagaimana aku bisa berbincang dan bercerita? Dalam gejolak perasaan gembira aku tidak berterima kasih padanya (karena telah datang); bagaimana bisa aku mendekatinya jika dia pergi? Kuasa apa yang kupunya utk memerintahkan pelayanan wajib bagiku sendiri? Satu hari, aku sedang terbakar birahi seperti biasanya ketika bepergian dengan seorang teman dan mendadak bertemu dengannya, aku menjadi sangat bingung hingga hampir saja aku lari. Menatapnya atau berkata-kata sangat sulit dan tidak mungkin. Dalam birahi yang memuncak dan dibawah tekanan kebodohan masa muda, aku suka keluyuran, tanpa penutup kepala (semacam topi), telanjang kaki, dijalan2 dan pedesaan, kebun buah dan kebun anggur.

Sir Richard Burton memastikan toleransi islam akan homoseksualitas, khususnya di Khyber Pass:

Kota2 di Afghanistan dan Sind dipenuhi oleh homoseks dan orang2 itu bernyanyi:

Nilai ‘anu wanita’ orang2 Afghan tahu
Kabul lebih suka yang satunya lagi “Pilih!”


Orang2 Afghan adalah pedagang2 dalam jumlah besar dan setiap karavan ditempati oleh sejumlah bocah dan remaja yg berpakaian seperti wanita dengan mata bermaskara dan muka dimerahi, rambut panjang dan kuku serta jari yang lentik. Mereka itu disebut Kuch-i-safari atau istri2 perjalanan.[32]

Burton memberi contoh2 dari penyimpangan ini, mulai dari Persia hingga Maroko ada dalam karya “Terminal Essay,” saya akan memberi contoh akan lazim dan toleransinya islam terhadap homoseksual dari karya seorang etnografik Cline, ditulis tahun 1936, tentang karya lapangannya di Mesir Barat dekat oasis Siwah:

“Semua pemuda dan bocah Siwan normal melakukan sodomi. Diantara mereka orang pribumi tidak malu akan hal ini; mereka membicarakannya secara terbuka seperti mereka membicarakan tentang cinta pada wanita, dan banyak, perkelahian timbul dari masalah persaingan homoseksual ini.”[33] Bahkan pernikahan antara lelaki dan lelakipun diselenggarakan dengan pesta besar; uang mahar utk anak lelaki sampai lima belas kali lebih mahal dari mahar wanita.

Meski sebagian scholar melihat sikap Quran itu negatif atau bahkan mendua, saya pikir jelas dari referensi berikut bahwa bisa dianggap Quran mengutuknya:

Surah 4.16 “Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya,”

Perbuatan keji yang dimaksud adalah perbuatan tidak sopan.

Surah 7.80-81: “Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

Surah 26.165-166: “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas"

Surah 27.55: “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)"


Kita tahu dari hukuman yang dijatuhkan pada kaumnya Lot (Kemudian Kami binasakan yang lain. 26.172) bahwa sodomi dilarang. Tapi, kemenduaan ada dalam ayat2 Quran yang menjelaskan tentang nikmatnya surga:

Surah 52.24: “Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.”

Surah 56.17: “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,”

Surah 76.19: “Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.”


Apakah anak2 muda ini disana utk melayani secara seksual atau hanya utk melayani saja?

Jika Quran mendua dalam poin ini, hadis sebaliknya sangat jelas dan keras menentang praktek sodomi. Nabi melihat sodomi menjijikan dan pantas dihukum mati – kedua pelakunya.

Ulama2 berbeda pendapat tentang hukuman bagi orang homoseks. Ibn Hambali dan pengikutnya berkeras menghukum rajam, sementara yang lain dengan cambukan, biasanya seratus kali. Tapi sepertinya hukuman2 ini tidak pernah diterapkan karena toleransi akan homoseks seakan telah ditetapkan secara tidak tertulis sejak awalnya.

Kita punya cukup bukti2 sejarah dan bahasa2[34] utk menunjukkan bahwa homoseks dikenal di arab sebelum islam. Bukti kita lebih banyak lagi ketika abad ke-7. Kalifah pertama menghukum homoseks dengan kejam – dirajam, bakar dan dilempar dari menara mesjid, dll. Selama periode Abbasid banyak kalifah yang justru homoseksual: al-Amin (memerintah tahun 809); al-Mutasim (833); Aghlabid Ibrahim (875); di Cordoba, Abd al-Rahman (912); dan Saladin (Salah al-Din, 1169) yg terkenal akan perlawanannya terhadap tentara Salib. Sedang bagi muslim spanyol di abad sebelas, Henri Peres mengatakan “Sodomi dipraktekkan istana Muluk al-Tawaif. Cukup bukti utk mengatakan rasa cinta al-Mutamid kepada Ibn Ammar dan Saif; al-Mutawakkil pada tentara2 mudanya; Rafi al-Dawla, anak dari Mustakin terhadap bawahannya (namanya tidak diketahui); al-Mutamin dari saragossa terhadap seorang kristen.”

Homoseksualitas sudah biasa dalam segala bidang masyarakat, dari sekolah2 sampai persaudaraan religius. Pada Hamam (sauna2 di Turki), dekorasinya penuh dengan gambar2 tidak islami, mosaic, lukisan atau patung2 erotis dan menjadi pertemuan para homoseksual. Prostitusi lelaki juga sudah biasa dikota2 besarnya; sering anak lelaki menawarkan dirinya pada para turis dihotel2.

Bukti terbesar kita akan lazim dan tolerannya islam terhadap homoseksual tentu saja berasal dari puisi2. Beberapa penyair besar berbahasa arab mengagungkan cinta homoseksual, sering dalam bahasa yang jelas dan terus terang. Disini sekali lagi nama Abu Nawas menonjol. Inilah puisi yang dikarangnya dalam Perfumed Garden:[35]

O nikmatnya sodomi!
kalian orang Arab jadilah pesodomi
Jangan berpaling darinya
– ada kenikmatan besar disana
Ambilah bocah imut pemalu
berambut ikal didahi
Dan genjoti dia waktu dia berdiri seperti rusa
Yg siap utk pasangannya
Bocah yang anunya terlihat
Tidak seperti wanita pelacurmu yang harus dikerudungi
Raihlah bocah berwajah mulus
Genjoti semampumu
Karena wanita adalah tunggangan setan.


Ada beberapa puisi seperti itu yang diciptakan oleh Abu Nawas dalam Perfumed Garden dan The Thousand and One Night, yang dipenuhi dengna kisah2 perjalanan homoseksual yang memalukan.

Meski saya berkonsentrasi pada homoseksualitas pria, ada juga bukti yang menyatakan bahwa lesbianisme juga ada, dan sama juga ditoleransi. Perfumed Garden punya bab tentang Lesbian dimana puisi2 berikut memuji kebaikan2 dari lesbian:

Wanita yang ramping
tidak kikuk maupun gendut
bisa mengajar membelai dan memijat
Jadi datanglah cepat dan nikmati jangan buang waktu
Baru kau tahu yang kukatakan
kenikmatan lesbian adalah benar
Betapa tidak enak dan sebalnya vagina yang ditusuk penis!
Kehilangan semua kenikmatan yg bisa wanita berikan
Dan memikul keburukan dan rasa malu
Pada wanita2 yang tidur dengan pria.[36]


Apapun alasan biologis, sosiologis atau psikologis akan lazimnya homoseksualitas dalam masyarakat muslim, tidak ragu lagi bahwa hal itu ditoleransi hingga hal2 yang oleh orang2 Kristen barat tidak terbayangkan.

--------------------
[1] Singh, Khushwant. Sex, Scotch and Scholarship. Delhi, 1992. Hal.122
[2] Kureishi, Hanif. My Beautiful Laundrette and the Rainbow Sign. London, 1986. Hal.16
[3] Artikel “Khamriyya,” dalam Encyclopaedia of Islam, edisi baru
[4] Goldziher, Ignaz. Muslim Studies. 2 vol. terjemahan C.R. Barber dan S.M. Stern. London, 1967-71. Hal.32-33 Vol.1
[5] Ibid., hal.35
[6] Artikel Khamriyya dalam Encyclopaedia of Islam, edisi baru
[7] Artikel Abu Dulama dalam Encyclopaedia of Islam, edisi pertama
[8] Nicholson, R.A. Literary History of the Arabs. Cambridge, 1930. Hal.293
[9] Ibid., hal.295
[10] Singh, Khushwant. Sex, Scotch and Scholarship. Delhi, 1992. Hal.76-77
[11] Faiz Ahmed Faiz. The True Subject. Terjemahan Naomi Lazard. Lahore, 1988. Hal.123
[12] Rushdie, Salman. Imaginary Homelands. London, 1991. Hal.38
[13] Mill, J.S. Utilitarianism. Liberty, Representative Government. London, 1960. Hal.141
[14] Artikel “Ghidha,” dalam Encyclopaedia of Islam, edisi baru
[15] Cook, M. “Early Islamic Dietary Law.” Dalam Jerusalem Studies in Arabic and Islam 7, 1964, hal.242f
[16] Dikutip dalam Encyclopaedia Judaica, edisi New English, Vol.6 hal.43
[17] Lihat Simoons secara umum utk keseluruhan section ini
[18] Malinowski, The Sexual Life of Savages in North Western Melanesia, London, 1982, hal.400
[19] Cook, M. “Early Islamic Dietary Law.” Dalam Jerusalem Studies in Arabic and Islam 7, 1964, hal.242.
[20] Robertson Smith, The Religion of the Semites, hal.153
[21] Frazer, J.G. The Golden Bough. London, 1959. Hal.472
[22] Douglas, Mary. Purity and Danger. London, 1966 Hal.54-55
[23] Firmage, E. “The Biblical Dietary Laws and the Concept of Holiness.” Dalam Studies in the Pentateuch (1990), edit oleh J.A. Emerton. Hal.177-208
[24] Didiskusikan dalam Firmage, hal.194
[25] Artikel “The Geographical Setting,” dalam Cambridge History of Islam
[26] Simoons, F.J. Eat Not This Flesh. Madison, 1961.
[27] Personal Communication
[28] Dikutip dalam Simoons, F.J. Eat Not This Flesh. Madison, 1961.
[29] Scruton R. “The Higher Meaning of Food.” Times Literary Supplement, Sept 30, 1994
[30] Mackenzie, Compton. Thin Ice. London, 1956. Hal.38
[31] Babur. Memoirs (Babur-Nama). Diterjemahkan oleh A. Beveridge. Delhi, 1979. Hal.120
[32] Burton, Richard. The Book of the Thousand Nights and a Night. 17 vols. London, n.d. Hal.236, vol.x
[33] Dikutip dalam Leach, Edmund. Social Anthropology. London, 1982 Hal.210
[34] Artikel “Liwat,” dalam Encyclopaedia of Islam, edisi baru
[35] Nefzawi, Shaykh. The Perfumed Garden. London, 1963. Hal.37-39
[36] Ibid., hal.24

Rabu, 15 Juli 2009

Bab 16 - Pengamatan Akhir tentang Muhammad

Muhammad tidak ragu lagi adalah salah satu orang terbesar sejarah, dalam pengertian jika dia tidak ada maka jalan sejarah umat manusia mungkin akan berbeda. Tapi kata Popper[1] “Jika peradaban kita ingin bisa bertahan, kita harus patahkan kebiasaan ‘menghormati’ orang2 besar tsb. Orang2 besar membuat kesalahan yang luarbiasa besar pula.” Meski dogma islam menggambarkan Muhammad sebagai orang tanpa dosa, Muhammad sendiri tidak pernah mengklaim dirinya sempurna atau tak bisa salah. Seperti Tor Andrae katakan, ini adalah salah satu karakteristik yang disukai darinya; dia selalu sadar akan kekurangannya dan mampu mengritik dirinya sendiri.

Muhammad adalah orang dengan pesona luar biasa. Lebih dari satu sumber menceritakan senyumnya yang sangat menarik dan karismanya yang hebat yang mampu menimbulkan rasa setia dan sayang pada para pengikutnya. Dia juga seorang pemimpin militer yang jenius dan kepala negara dengan kekuatan bujukan dan diplomasi yang hebat. Apa saja yang telah dia capai? Montgomery Watt, salah seorang scholar barat yang kagum pada Muhammad hingga seakan memujanya merangkum pencapaiannya sbb:[2] “Pertama-tama dia memiliki kemampuan seperti seorang peramal. Dia mengerti dan sadar akan akar2 religius yang mengakar dalam2 pada masyarakat sosial di Mekah dan dia mengeluarkan sekumpulan gagasan yang, dengan menempatkan perselisihan2 yang terjadi di Mekah kedalam gambaran yang lebih besar, membuat hal itu bisa mendamaikan mereka hingga tingkat tertentu.”

Kita berhenti dulu disini dan menelaah apa yang diklaim Watt ini. Kita sudah mengacu pada teorinya Bousquet dan Crone yang menyangkal pendapat bahwa Mekah saat itu berada pada krisis spiritual. Disini saya akan mengutip Margoliouth[3] yang juga mengantisipasi argumen punya Watt sekitar lima puluh tahun sebelumnya, argumen yang bisa dikatakan menyangkal argumen Watt itu sendiri. Margoliouth menunjukkan bahwa kepercayaan2 orang Arab jaman sebelum islam sudah jauh lebih cukup untuk kebutuhan2 spiritual mereka, dan tidak ada bukti apapun mengenai adanya krisis sosial:

Tapi pernyataan bahwa kepercayaan orang2 Arab dulu tidak cukup bagi kebutuhan2 religius mereka, tidaklah disertai dengan bukti2. Tuhan adalah makhluk khayal yang bisa bertindak baik atau merusak; dan segala yg ada saat itu menunjukkan bahwa orang2 Arab yang tidak pernah melihat dunia yg luas ini sangat yakin bahwa dewa2/tuhan2 mereka atau dewi2 mereka bisa melakukan keduanya. Sejauh sentimen religius perlu dipuaskan, tidak ada bukti2 yang menunjukkan bahwa paganisme gagal memuaskan kebutuhan spiritual mereka. Kita mengumpulkan prasasti2 dari kaum pagan arab bahwa sejumlah besar pengabdian dan rasa terima kasih diberikan pada dewa2 dan patron2 mereka.

Professor Watt melanjutkan[4]: “Gagasan yang dia nyatakan pada akhirnya memberikan dia posisi kepemimpinan, dengan otoritas yang tidak didasarkan pada status kesukuan tapi pada agama. Karena posisi dan sifat otoritasnya ini, suku2 dan klan2 yang menjadi saingan dalam masalah sekular semuanya menerima dia sebagai pemimpin. Hal ini berujung pada terciptanya sebuah komunitas dimana para anggotanya hidup damai satu sama lain.”

Disini, pertama kali saya merasa bahwa Watt tidak adil mengenai pencapaian Muhammad yang sebenarnya dan keliru mengartikan teori dengan praktek. Seperti Goldziher[5] katakan, “Muhammad adalah orang pertama dari kelompok mereka yang berkata pada orang2 Mekah dan tuan2 penguasa gurun arab bahwa pengampunan bukanlah sebuah kelemahan tapi sebuah kebaikan dan utk memaafkan sesuatu yang tidak adil yang dilakukan pada diri seseorang tidaklah bertentangan dengan norma2 kebaikan tapi merupakan Kebaikan tertinggi – dinamakan berjalan dijalan Allah.”

Dengan berkeras pada pengampunan inilah Muhammad mampu membujuk suku2 dan klan2 agar menerima gagasan bahwa mulai dari sekarang Islamlah bukannya kesukuan yang akan menjadi prinsip pemersatu masyarakat. Sebelum itu, suku2 terpecah selama berabad-abad dengan pertikaian berdarah, pembunuhan dendam, balas membalas dan permusuhan. Muhammad mengajarkan kesetaraan bagi semua orang percaya dihadapan Allah. Sialnya, teori adalah satu hal dan praktek hal yang lain lagi. Pertama-tama, Muhammad sendiri tidak mempraktekkan yang dia khotbahkan. Sering sekali dalam kelakuannya terhadap orang Yahudi, orang Mekah dan musuh2nya, Muhammad menyalurkan kecenderungan sifat kejinya, tanpa ada tanda2 pengampunan sedikitpun. Bukhari[6] memberi contoh kekejaman Muhammad:

Anas berkata “beberapa orang dari suku Ukl atau Uraina datang ke Medinah dan memeluk islam; tapi iklim di sana tidak cocok untuk mereka dan mereka ingin pergi dari sana. Jadi sang nabi menyuruh mereka untuk pergi ke gembala unta untuk meminum susu dan kencing (sebagai obat) agar mereka sembuh. Jadi mereka pergi ke arah yang ditunjukkan dan setelah itu mereka menyatakan keluar islam, membunuh gembala sang nabi dan membawa lari untanya. Berita itu sampai ke sang nabi pada pagi hari dan dia mengirim (orang) untuk mengejar dan mereka tertangkap dan dibawa ke Medinah saat sore. Kemudian sang nabi menyuruh orang memotong kaki dan tangan mereka sebagai hukuman untuk pencurian dan kemudian mata mereka dicungkil keluar dan mereka di taruh di “al-harra” (gurun) dan saat mereka meminta air, tidak ada air yang diberikan, mereka mati. Abu Qilaba berkata, “orang2 itu mencuri dan membunuh, menjadi orang tak beriman setelah memeluk islam dan melawan allah dan nabinya.”

William Muir[7] merangkum banyaknya kekejaman yang ditulis dan diriwayatkan oleh – ingat-ingat dengan baik – orang muslim sendiri, otoritas muslim terkenal seperti Ibn Ishaq dan al-Tabari serta yang lainnya:

Keluhuran budi, kemurahan hati ataupun sikap normal tidak terlihat menjadi keistimewaan dalam tindakan2 Muhammad terhadap musuh2nya. Diatas mayat2 Quraish yang dibantai di Badar dia bersuka ria dengan kepuasan biadabnya; dan beberapa tawanan, yang tidak bersalah atas kejahatan apapun kecuali karena skeptis terhadap Muhammad dan menjadi musuh politiknya, dengan sengaja dieksekusi atas perintahnya. Pangeran Khaibar, setelah disiksa secara tidak manusiawi demi mengorek keterangan harta sukunya yang konon dia sembunyikan, bersama sepupunya dihukum mati dengan tuduhan telah curang menyembunyikan harta tsb, lalu istrinya ditangkap dan dibawa utk dikeloni dikemah sang nabi. Hukuman pengusiran dipaksakan Muhammad dengan sangat kejam terhadap dua suku Yahudi di Medinah; dan suku yang ketiga bernasib seperti tetangganya, wanita dan anak2 mereka jadi budak utk diperkosa dan dijual sementara kaum prianya sekitar 900 orang dipancung dengan darah dingin dihadapan mata keluarganya.

Akhirnya kita lihat, Watt menciptakan sebuah gambaran yang tidak masuk akal mengenai keharmonisan antar suku dibawah kepemimpinan Muhammad. Contoh2 yang sudah diberikan tentang kekejaman Muhammad bisa menjadi penjelasan fakta bahwa tidak semua suku menerima kepemimpinannya. Lagi, Goldziher menunjukkan bagaimana persaingan antar suku terus memanjang setelah islam yang katanya telah menghilangkan dan mengutuk hal tsb. Karena saya sudah mendiskusikan tentang persaingan Arab lawan Arab, saya tidak akan menyebutkannya lagi disini. Muhammad pastinya tidak meninggalkan sebuah negara yang bersatu ketika ia mati. Semua ini menghasilkan perang2 suksesi: kalifah kedua, ketiga dan keempat semuanya mati terbunuh. Pembunuhan Usman tahun 656 berujung pada kekacauan dan anarki berdarah, dan karenanya hal itu dikenal sebagai ‘al-Bab al-Maftuh,” (pintu telah terbuka menuju perang sipil).

Seperti kata Margoliouth: “Sang nabi tak diragukan lagi berharap membuat kehidupan para muslim menjadi suci didalam dunia muslim itu sendiri seperti pada sistem kesukuan lama dimana hidup orang2 sesuku dianggap suci didalam sukunya sendiri; tapi dalam hal ini dia gagal, karena pengikut pertamanya ternyata saling berperang satu sama lain dan dalam sejarah Islam, korban pembantaian muslim sering adalah orang muslim itu sendiri dan kebanyakan dilakukan oleh orang2 yang mengaku sebagai keturunan sang nabi.”[8]

Watt[9] melanjutkan: “utk mencegah energi ‘kepingin perang’ merusak kedalam komunitasnya sendiri, konsep Jihad mengarahkan energi ini keluar, kearah non muslim.”

Bukan Watt saja yang kagum akan ekspansi Arab dan bangkitnya kerajaan islam. Imperialisme, sekarang ini sudah bukan jamannya,tapi tak seorangpun peduli utk mengkritik islam yang melakukan hal demikian dan mengakibatkan banyak kematian dan kehancuran, ini dijelaskan dalam bab sebelumnya. Bagaimana Watt menganggap Jihad, yang mana tujuan utamanya adalah memusnahkan penyembahan berhala, membunuh kafir dan merebut tanah dan harta milik orang lain lewat jalan militer agar masuk islam, sebagai sebuah pencapaian moral besar yang harus dikagumi, masih menjadi misteri buat saya.

Kejujuran Muhammad

Sejumlah besar tinta telah ditumpahkan secara tak berguna untuk pertanyaan tentang kejujuran Muhammad. Apa dia itu penipu atau dia sungguh2 tulus percaya bahwa semua “wahyu2nya” yg menjadi kitab Quran berasal dari komunikasi langsung dengan Tuhan? Bahkan misalnya jika kita mengakui Muhammad sungguh2 jujur, saya tidak bisa melihat apakah hal itu berpengaruh dengan penilaian kita tentang moral karakternya. Orang bisa saja sungguh2 tulus percaya pada kepercayaan yang sebenarnya palsu. Yang lebih penting lagi, orang bisa sungguh2 tulus percaya pada sesuatu yang tidak bermoral atau tidak pantas dihargai. Orang2 rasis dengan tulus percaya bahwa orang Yahudi harus dimusnahkan. Lalu apa ketulusan mereka itu mempengaruhi pengutukkan kita akan kepercayaan tersebut? Sepertinya kata “tulus percaya” disini punya peran yang sama dengan “mengaku salah karena alasan sakit jiwa” yang dibuat di pengadilan2 oleh para pengacara dg harapan bisa membebaskan klien2 jahat mereka.

Utk pertanyaan ini, yang paling mungkin dijadikan pembelaan bagi Muhammad adalah bahwa dia “tertipu sendiri”, sesuatu yang bahkan oleh Watt[10] juga diakui: “Harusnya jelas bahwa, jika hal ini benar, fakta bahwa wahyu2 Muhammad sesuai sekali dengan hasrat2 Muhammad dan memenuhi kesenangan dan keinginan pribadinya, tidaklah menunjukkan bahwa Muhammad tidak jujur; ini hanya menunjukkan bahwa Muhammad bisa saja tertipu sendiri.” Dengan kata lain, jika dia orang yg sungguh2 jujur dan tulus, maka mestilah dia ‘tertipu sendiri’ secara habis-habisan, jika dia orang tidak jujur, maka dia itu jelas seorang penipu. Para pembela islam yg berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang politisi lihay, seorang realistis, negarawan brilian, jago menilai karakter orang, pembuat undang2 yang bijak dan diplomat luar biasa, sangat waras dan tidak terserang ayan/epilepsi, tidak bisa membuat pembelaan akan tuduhan bahwa Muhammad juga sebenarnya bisa saja ‘tertipu sendiri’. Jadi kesimpulan yg kemudian ‘memaksa’ masuk kedalam logika kita adalah bahwa dalam fase kedua hidupnya dia secara sadar telah ‘mengarang wahyu2’, sering utk kenyamanan dirinya sendiri, untuk membereskan masalah2 domestiknya. Disaat yang sama orang yakin setuju dengan banyak scholar2 lain bahwa di Mekah, Muhammad sungguh2 tulus dan jujur dalam pengakuannya yang telah berkomunikasi dengan tuhan. Tapi dalam hal apapun tidak bisa disangkal bahwa di Medina, kelakuan dan sifat2 alami dari wahyu2nya berubah hebat. Muir[11] dengan baik merangkum perioda kehidupan Muhammad sbb:

Pesan2 surga dengan enaknya diturunkan utk membenarkan tingkah laku politis, dengan cara yang persis sama seperti menanamkan rasa cinta ajaran2 religius. Peperangan dilakukan, eksekusi diperintahkan dan teritori diperluas, dibawah samaran perintah ilahi. Bahkan kesenangan2 pribadi pun bukan saja dibolehkan malah didukung dan dianjurkan oleh perintah Surga. Ijin khusus keluar, yg membolehkan sang Nabi memiliki banyak istri; selingkuh dengan sang pembantu, menggagahi Maria orang Koptik, semua disetujui dan dituliskan dalam Surat tertentu; juga hasrat birahi kepada mantu (istri anak angkatnya) sendiri serta pada teman2nya dijadikan subjek dari wahyunya, keberatan2 sang nabi akan kelakuan buruknya sendiri ditolak oleh Auloh sebagai sebuah kesalahan, perceraian diijinkan dan perkawinan dengan pihak yang dihasratkannya dilangsungkan. Jika kita bilang “wahyu2” demikian dipercaya oleh Muhammad dengan tulus sebagai benar wahyu dari Tuhan, maka itu hanya bisa terjadi jika perasaan kita sudah sama anehnya dan termodifikasi seperti dia. Pastinya dia harus bertanggung jawab utk hal yang dia percayai itu; dan utk itu dia telah melakukan banyak kekejian dalam penilaian dan prinsip sifat2 aslinya.

Cara kasual yg Muhammad lakukan ketika mengeluarkan wahyu dalam fase akhir hidupnya digambarkan dalam anekdot berikut. Umar, kalifah kedua masa depan, menemui sang nabi dan memprotesnya karena telah berdoa bagi musuhnya, Abdallah Ibn Ubbay. Umar sempat berpikir apakah dia tidak berlebihan mengkritik sang nabi, tapi sang nabi lalu mengeluarkan wahyu, “Jangan berdoa bagi mereka yang bisa saja mati setiap saat jangan juga berdiri diatas kuburan mereka.”

Bagi Umar wahyu kebetulan sama ini tidak semerta menimbulkan kecurigaan; bagi kita wahyu yang muncul ini tidak lain hanyalah persetujuan formal akan pendapat yang disarankan oleh Umar, dimana sang nabi memang seharusnya mewakili opini publik. Dalam kesempatan lain adalah ketika Umar punya ide tentang Seruan/ajakan utk sholat (Adzan) yang berbeda agar tidak dituduh meniru cara orang Yahudi dan kristen, lalu dia menyampaikan idenya ini pada sang nabi, hebatnya setelah itu ternyata sang nabipun katanya telah diberi wahyu yang sama oleh malaikat Jibril. Dalam tiga kesempatan lain Umar mengaku ternyata dia punya pemikiran yang sama dengan Allah, setelah dia menyampaikan ide2nya kepada sang nabi lagi-lagi ide2nya itu ternyata ‘telah’ diwahyukan pada sang nabi, persis seperti yang telah dia nyatakan. “Kebetulan2” yang menakjubkan ini membuatnya bangga tapi ajaibnya Umar tidak curiga. Para pengikut lainnya mungkin tidak sesederhana (baca: sebodoh) dia tapi mereka sadar akan bahayanya mengejek Quran. Perselisihan sering muncul diantara para muslim mengenai fakta bahwa Quran telah mengulang beberapa kali ayat yang sebenarnya telah diwahyukan sebelumnya dalam bentuk lain dan masing2 mengklaim bahwa versi yang mereka dengarlah yang paling benar: sang nabi, yg tak pernah kehilangan aka, mengakui bahwa ayat yang sama dalam Quran tidak pernah diturunkan kurang dari tujuh ayat.[12]

“Salah satu delusi (penipuan diri) yang paling menarik dan paling berbahaya bagi manusia dan bangsa2 adalah membayangkan dirinya sendiri menjadi alat khusus “Kehendak Tuhan”, tulis Russell[13]. Sialnya, baik Muhammad maupun para muslim menderita sakit delusi semacam ini. Hanya muslim yang dijamin keselamatannya – keselamatan diluar islam tidaklah mungkin. Tuhan telah memilih mereka utk menyebar luaskan pesan2nya pada umat manusia.

Reformasi Moral

Muhammad dikatakan telah melenyapkan kebiasaan lama yang suka mengubur bayi perempuan hidup2. Tapi apakah dia memperbaiki kondisi umum para wanita sulit utk diamati benar2 karena tidak ada bukti dan pengetahuan akan praktek2 yang dilakukan sebelum jaman islam. Meski demikian sebagian scholar telah mengamati bahwa wanita dibawah islam mestinya jauh lebih buruk dibanding sebelum islam. Perron dalam karya klasiknya “Femmes Arabes Avant et Depuis L’Islamisme” menyatakan bahwa posisi wanita sejak islam telah menurun secara serius, dan mereka telah kehilangan posisi moral dan intelektual yang sebelumnya mereka miliki:[14]

Hak prerogatif tertentu yang tadinya memberi kaum wanita kuasa yang lebih besar dalam hal kebebasan berpendapat dan bertindak telah dihilangkan islam, hilangnya hak2 ini lalu menjadi hal yg alami bagi kaum wanita. Wanita Pagan Arab dulu punya kebebasan diri, memilih jodoh; mencari calon suami yang dia sukai berdasarkan simpati, intelektual ataupun kelebihan2 lainnya.

Tapi tidak adil jika tidak menyebutkan juga bahwa sebagian scholar lain seperti Bousquet percaya bahwa Muhammad telah berusaha semampu dia utk memperbaiki kondisi wanita tapi tidak bertindak cukup jauh; seperti Lane Poole katakan, “Muhammad sebenarnya bisa bertindak lebih baik lagi.” Yang pasti dalam hal kepemilikan wanita islam sebenarnya bisa sejajar dengan pria. Kenyataannya dalam segala hal wanita lebih rendah dari laki-laki.

Tapi Bousquet juga menyatakan contoh2 mengerikan yang ditetapkan oleh Muhammad dalam pernikahannya dengan Aisha, ketika aisha hanya berumur 9 tahun. Kebiasaan perkawinan anak ini bertahan hingga jaman modern dan berujung pada akibat yg tragis. Tapi para muslim ragu dan takut utk mengkritik kebiasaan yang ditetapkan oleh nabinya.

Muhammad juga mengenalkan institusi lain yang berujung pada kengerian dan kejahatan serius, contoh saja, ditetapkannya kompensasi dari sumpah.

Pada Surah 16.94 "(Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah: dan bagimu azab yang besar)" ada sebuah perintah utk memegang sumpah tapi dalam surah 5.89 (juga 2.225) "(Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya))" pelanggaran sumpah ini bisa digantikan dengan semacam kompensasi. Dan dalam surah 3.77 hal ini dipastikan lagi dan diterapkan pada suatu kasus dimana sang Nabi sendiri terlibat. Hal ini berpengaruh sangat serius bahwa sepertinya tidak ada mode yang bisa dipercaya dalam hukumnya Muhammad mengenai sebuah sumpah, sumpah yang harusnya mengikat secara legal; karena bukan saja Quran sejara jelas menyatakan bahwa tindakan amal tertentu bisa menggantikan tindakan lainnya, tapi sang Nabi juga mengenalkan perumpamaan yang menjelaskan jika seorang yang telah bersumpah melakukan sesuatu tapi ketahuan tidak melakukannya malah melakukan hal yang sebaliknya maka dia harus melakukan amal lain sebagai gantinya.[15]

Sebaliknya, kehidupan Muhammad malah penuh dengan kontradiksi, ini menunjukkan bahwa dia seringkali siap utk berkompromi terhadap prinsip2nya demi mendapatkan keuntungan politik atau kekuasaan, seperti ketika dia setuju utk menghapus gelar “Rasul Allah” dari sebuah dokumen karena menghalangi diratifikasinya sebuah perjanjian. Dia mengejek dan menista penyembahan berhala tapi memasukkan banyak praktek2 kaum berhala Arab kedalam ibadah haji – seperti mencium batu hitam. Dia menghilangkan judi panah yang dianggapnya sebagai takhyul, tapi dia sendiri banyak menceritakan takhyul tentang kakek2 moyang bangsanya – dia menggantungkan kepentingan2 yg besar pada pertanda2, khususnya yang berhubungan dengan nama-nama. Dia sungguh2 percaya pada ‘mata setan’ dan menghindarinya dg memakai jimat.

Orang tua dihormati tinggi2 dalam surah2 awal, tapi ketika generasi muda bergabung dengan Muhammad tanpa persetujuan orang tua, pengabdian pada orang tua jadi dianggap menghalangi dan tidak dia inginkan, karenanya mendadak anak2 muda dilarang utk mendoakan orang2 tua mereka. Dorongan2 Muhammad utk mengucurkan darah kerabat juga punya pengaruh mengerikan pada para pengikutnya. Sementara Quran mengkhotbahkan sikap sederhana dalam segala hal, tapi makin kedepan menjadi makin tidak toleran Pembunuhan2 terhadap musuh2 Muhammad, sialnya, malah dijadikan teladan dalam hadis dan dipakai dijaman modern sekarang juga oleh para pembela Khomeini yang membela seruannya utk membunuh Rushdie. Dalam pernyataan margoliouth[16]

“Pengalaman2 dari kehidupan sang nabi, pertumpahan darah terus menerus yang menandai karirnya di medina sepertinya malah berkesan dihati para pengikutnya dan menimbulkan kepercayaan amat dalam akan nilai pertumpahan darah sebagai pembuka gerbang ke surga.” Sulit utk mengerti bagaimana begitu banyak gubernur muslim, kalifah, para ulama dan muslim seperti Hajjaj atau Mahmud dari Ghazni mengacu tindakan2 Muhammad utk membenarkan pembunuhan2, perampokan dan penghancuran yang mereka lakukan – “Bunuh, Bunuh orang kafir dimanapun kau temui.” Margoliouth mengatakan, “Kita tidaklah mungkin tidak bisa menemukan hal paling menyakitkan dalam Islam ini (pertumpahan darah) sepanjang sejarahnya dalam pembantaian2 musuh2 sang nabi, dan dalam teori Quran bahwa pertumpahan darah yang banyak adalah merupakan karakteristik seorang nabi sejati pada tahap tertentu karirnya.” Para free thinker barat seperti Russell melihat Yesus Kristus kurang bisa dikagumi dibandingkan dengan Socrates atau Buddha. Mereka bilang mereka tidak bisa mengerti kenapa Yesus mengutuk pohon ara dan membuatnya mati, sementara para pembela islam, baik orang barat ataupun muslim mencoba jungkir balik mencari alasan2 pembunuhan2 yang dilakukan Muhammad. Saya sendiri pastinya tidak bisa mensejajarkan Muhammad dalam bidang moral yang sama dengan Socrates, Buddha, Confucius atau Yesus Kristus.

Mungkin warisan terjelek dari Muhammad adalah kekeras kepalaannya yang tetap mengatakan bahwa Quran adalah Perkataan Tuhan Langsung, dan benar utk segala jaman, dg demikian hal itu menutup segala kemungkinan bagi ide2 intelektual baru dan kebebasan berpikir serta berpendapat yang menjadi satu-satunya jalan bagi dunia islam utk maju masuk kedalam abad 21.

--------------
[1] Popper, K.R. The Open Society and its Enemies. 2 vols. London, 1969. Vol.1 Pendahuluan
[2] Artikel “Muhammad” dalam Cambridge History of Islam, vol.1A, hal.55
[3] Margoliouth, D.S. Mohammed and the Rise of Islam. London, 1905. hal.24-25
[4] Artikel “Muhammad” dalam Cambridge History of Islam, vol.1A, hal.55
[5] Goldziher, Ignaz. Muslim Studies. 2 vol. terjemahan C.R. Barber dan S.M. Stern. London, 1967-71. Vol.1, hal.25
[6] Dikutip dalam Dictionary of Islam, hal.63-64
[7] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923. Hal.497-498
[8] Margoliouth, D.S. “Muhammad” dalam Encyclopaedia of Religion and Ethics, vol.8. hal.877
[9] Cambridge History of Islam Vol.1A, hal.55
[10] Watt, W. Montgomery. Muhammad at Medina. Oxford, 1956. Hal.325
[11] Muir, Sir W. The Life of Muhammad. Edinburgh, 1923. Hal.660
[12] Margoliouth, D.S. Mohammed and the Rise of Islam. London, 1905. Hal.218-219
[13] Russell, Bertrand. Unpopular Essays. New York, 1950. Hal.161
[14] Perron, hal.105
[15] Margoliouth, D.S. The Early Development of Mohammedanism. London, 1914. Hal.48-49
[16] Ibid., hal.56-60

Jumat, 10 Juli 2009

Bab 17 - Islam di Barat

Di Eropa, kerusuhan, demonstrasi dan pembakaran buku-buku dilakukan oleh para fanatik muslim yang memprotes Salman Rushdie, ini membangunkan Eropa akan akibat kehadiran beberapa juta orang yang tidak menghargai nilai-nilai sekuler, yang bahkan menentang nilai-nilai sekular itu sendiri. Sejak 1989, Perancis dan Inggris Raya telah mengambil posisi berbeda terhadap para pembicara muslim yang terus menerus menuntut kebebasan lebih luas dalam menjalankan adat kebiasaan mereka sendiri, yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai hukum sekular di dua negara tersebut.

Para muslim didorong untuk membunuh warganegara inggris. Anehnya polisi inggris tidak mengambil langkah apapun utk menangkap orang yang menganjurkan hal tersebut, mereka yang dimuka umum menyerukan pembunuhan Rushdie. Selama periode yang sama di Perancis, Perdana Mentri ketika itu Michel Rocard dengan jelas dan tegas berkata pada para muslim bahwa siapapun yang menyerukan pembunuhan akan ditangkap segera. Polisi inggris sendiri ragu dan lemah ketika Dr. Siddiqui dari Muslim Institut di London mendorong massa muslim pada pertemuan umum agar jangan mematuhi hukum inggris jika bertentangan dengan hukum Syariah.