Minggu, 18 Oktober 2009

Pendahuluan

Dalam membaca buku ini perlu dibedakan betul antara teori dan praktek; perbedaan tentang apa yang harus dilakukan Muslim dan apa yang mereka lakukan dalam kenyataan; apa yang harus mereka percayai dan lakukan dengan apa yang mereka sebenarnya percayai dan lakukan.

Dalam hal ini ada tiga jenis Islam: Islam 1, Islam 2, dan Islam 3. Islam 1, adalah apa yang Muhammad ajarkan, yakni ajaran-ajarannya yang tercantum dalam Qur'an. Islam 2, adalah agama setelah dipelajari, diartikan, dan dikembangkan oleh ahli-ahli agama Islam melalui hadis; ini termasuk hukum Sharia Islam. Islam 3, adalah apa yang sebenarnya dicapai Muslim dalam kebudayaan Islam.

Pengamatan dalam buku ini menunjukkan bahwa Islam 3, atau kebudayaan Islam, seringkali berkembang luas, meskipun ada Islam 2 dan 3, dan bukannya karena Islam 2 dan 3. Filosofi Islam, sains Islam, sastra Islam, dan seni Islam tidak akan berkembang sedemikian jauh jika hanya bergantung pada Islam 1 dan 2. Seni puisi, misalnya. Setidaknya pada awalnya, Muhammad membenci para penyair: "Mereka yang tersesat adalah mereka yang mengikuti para penyair" (sura 26:224); dan dalam koleksi ahadis Mishkat, Muhammad berkata: "Perut berisi penuh nanah lebih baik daripada perut berisi puisi."

Bab 1 - Masalah Salman Rushdie

Sebelum 14 Februari, 1989.

Di tahun 1280 M di Baghdad, muncul sebuah buku berbahasa Arab yang ditulis oleh seorang filsuf dan ahli fisika Yahudi bernama Ibn Kammuna. Buku ini dikenal dengan judul Pengamatan atas Tiga Agama. Buku ini penting karena berisi tinjauan ilmiah obyektif dalam menilai kritis agama-agama Yudaisme, Kristen dan Islam. "Deisme (kepercayaan berdasarkan akal belaka) bersebelahan dengan agnotisme (mempertanyakan keberadaan Tuhan) memungkinkan munculnya sedikit tulisan- tulisan seperti itu." [8]
Muhammad dijabarkannya tidak sebagai nabi sejati: "Kami tidak akan mengakui bahwa [Muhammad] menambah pengetahuan dan ketaatan akan Tuhan yang lebih daripada apa yang sudah disampaikan agama sebelumnya." [9]

Muhammad juga digambarkan tidak sebagai manusia sempurna: "Tiada bukti bahwa Muhammad itu sempurna dan punya kemampuan untuk menyempurnakan orang lain seperti yang dicantumkan." Orang umumnya jadi memeluk Islam hanya karena "diteror atau dikalahkan dalam perang, atau untuk menghindari pajak jizya yang tinggi (pajak yg dikenakan bagi mereka yg menolak masuk Islam), atau untuk menghindari penghinaan, atau jika orang itu adalah tawanan, atau karena jatuh cinta pada seorang Muslimah."
Non-Muslim yang berkecukupan dan mengerti betul agamanya sendiri dan agama Islam, tidak akan berubah memeluk Islam kecuali atas alasan-alasan yang disebutkan di atas. Akhirnya, Muslim tampaknya tidak mampu untuk mengajukan pendapat yang baik -apalagi bukti- bahwa Muhammad itu adalah nabi.

Bagaimana Muslim bersikap dalam menghadapi skeptisme ini? Penulis abad ke 13, Fuwati (1244-1323) menjabarkan keadaan yang terjadi empat tahun setelah tulisan Ibn Kammuna diterbitkan.

Bab 2 - Asal Muasal Islam

Tahap paling penting dalam sejarah Islam ditandai dengan masuknya pengaruh-pengaruh luar… Pendiri Islam, Muhammad, tidaklah mengeluarkan ide baru. Dia tidak memperkaya konsep-konsep sebelumnya tentang hubungan manusia dengan Makhluk Maha Tinggi.. Pesan-pesan nabi Arab ini cuma berupa gabungan aturan- aturan dan gagasan-gagasan yang dia pilih sendiri. Gagasan-gagasan yang dia dapatkan lewat kontaknya dengan orang Yahudi, Kristen dan elemen-elemen lainnya, yang punya pengaruh sangat kuat dalam dirinya.[1] - Ignaz Goldziher.

Muhammad bukanlah pemikir orisinil: dia tidak merumuskan prinsip- prinsip etika yang baru, dia hanya mengambil dari lingkungan dan budaya yang telah ada. Sifat memilih-milih sumber contekan dari Islam ini telah dikenal sejak lama. Bahkan Muhammad sendiri tahu Islam bukanlah agama baru, dan wahyu-wahyu yang ditulis dalam Quran hanya memastikan bahwa sudah ada tulisan-tulisan demikian yang juga dianggap wahyu oleh pihak lain selain Islam. Sang nabi selalu mengaku Islam punya hubungan dengan agama-agama besar Yahudi dan Kristen. Para komentator muslim seperti al-Sharestani juga mengakui bahwa sang nabi mentransfer kedalam Islam kepercayaan dan praktek-praktek dari kaum Pagan/berhala Arab, terutama ritual ibadah haji ke Mekah. Tapi tetap saja muslim umumnya tetap berkeras mengatakan bahwa kepercayaan mereka datang langsung dari surga, bahwa Quran yg diturunkan oleh malaikat Jibril berasal dari Tuhan langsung, untuk Muhammad. Quran dianggap berasal dari keabadian, ada tertulis disurga, disimpan disana dalam bentuk Tablet yang Terpelihara (43.3; 56.78; 85.22). Tuhan adalah sumber dari Islam – mencari sumber-sumber tulisan manusia dalam Quran bukan saja sia- sia tapi juga percuma dan, tentunya, itu menghujat namanya.

Bab 3 - Masalah Sumber Islam

Dijaman keragu-raguan ini sedikit sekali hal-hal yang diluar kritikan, dan satu hari kita mungkin bisa berharap mendengar orang berkata bahwa Muhammad sebenarnya tidak pernah ada. - Snouck Hurgronje.[1]

Kisah-kisah dalam hadis mengenai kehidupan Muhammad dan kisah asal muasal Islam serta kebangkitan Islam didasarkan khusus pada sumber-sumber muslim, yaitu (1) Quran (2) Biografi-biografi yang ditulis para muslim tentang Muhammad dan (3) Hadits, yang berupa periwayatan para muslim.

1. Quran
Bukan saja muslim membuat pengakuan luar biasa tentang Quran, tapi juga ada kisah-kisah muslim mengenai sejarah terkumpulnya ayat-ayat Quran. Kita bisa lihat nanti pengakuan itu semuanya palsu dan riwayat-riwayat dalam hadis hanyalah sebuah “kumpulan kebingungan, kontradiksi dan inkonsistensi.”[2] Para scholar mempertanyakan keaslian dari Quran itu sendiri, dan kita bisa mengerti dan melihat pada argumen-argumen kuat mereka tersebut. Disini kita cukup mencatat nama-nama para ahli tafsir muslim terkenal dan paling berpengaruh mengenai Quran, kita juga akan mengacu pada karya-karya mereka nanti dalam bab berikutnya:
Muhammad ibn- Jarir al-Tabari (meninggal 923M) Al-Baghawi (m. 1117 atau 1122) Al-Zamakhshari (m.1143) Al-Baydawi (m.1286 atau 1291) Fakhr-al-Din al-Razi (m.1210) Jalal-al-Din al-Mahalli (m.1459) Jalal-al-Din al-Suyuti (m.1505)

Bab 4 - Muhammad dan Pesannya

Layak dicatat.. scholar yang akrab dengan berbagai sumber Arab dan yang paling mengerti kehidupan jaman itu, seperti Margoliouth, Hurgronje, Lammens, Caetani, adalah yang paling tegas menentang pengakuan kenabian Muhammad; orang harus mengakui bahwa semakin dekat dengan sumbernya dalam mempelajari sesuatu semakin sulit pemikiran kita untuk lepas dari kesimpulan para scholar ini. - Arthur Jeffery (1926).[1]

Satu fakta yang harusnya dikenali semua orang yang punya pengalaman tentang kemanusiaan adalah: orang yang kelihatan sangat religius seringkali merupakan orang-orang yang sangat jahat. - Winwood Reade (1872).[2]

Meski kita sepakat dengan Cook, Crone, Wansbrough dan yang lainnya bahwa kita tidak tahu banyak tentang orang yang disebut Muhammad ini, kita harus cukup puas mendapatkannya dari sumber-sumber hadis (meskipun semuanya sangat diragukan ke-valid-annya). Para muslim mungkin lebih baik menolak alternatif terakhir, karena hadis tidak seluruhnya memuji-muji sang Nabi. Susahnya bagi muslim, mereka tidak bisa menuduh tulisan-tulisan (hadis) itu dibuat oleh musuh.

Bab 5 - Qur'an

Semoga tiap muslim yang kebetulan membaca ini memaafkan keterus terangan saya bertutur. Bagi mereka Quran adalah Buku Auwloh dan saya menghargai kepercayaan mereka itu. Tapi saya tidak punya kepercayaan yang sama dan saya tidak mau bergeming dari itu, seperti banyak yang dilakukan orientalis lainnya, dengan kalimat- kalimat samar untuk menyembunyikan maksud sebenarnya. Ini mungkin bisa menjadi alat bantu dengan maksud baik bagi individu ataupun pemerintahan yang Islami; tapi saya tidak bermaksud menipu siapapun. Para muslim punya hak untuk tidak membaca buku ini atau mempelajari ide-ide dari non muslim, tapi jika mereka melakukan itu, mereka harus siap untuk membaca hal-hal yang mereka anggap sebagai penghujatan. Sudah jelas bahwa saya tidak percaya Quran itu adalah Buku Auwloh. - Maxime Rodinson.[2]

Quran ditulis dalam huruf Arab dan terbagi menjadi bab–bab (surat atau surah) dan ayat-ayat (atau dibaca ayah; jamak). Ada kurang lebih 80.000 kata, sekitar 6200 sampai 6240 ayat dan 114 surah dalam Quran. Tiap surah, kecuali surah nomor 9 dan Al-Fatihah (Surah no.1), dimulai dengan kalimat “Dengan menyebut nama Auwloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Siapapun yang mengumpulkan Quran, ia menyimpan surat-surat yang panjang menjadi surat awal tanpa melihat kronologis maupun urutan surat mana yang pertama diturunkan pada Muhammad.

Bab 6 - Sifat Totaliter Islam

Bolshevisme menggabungkan karakteristik dari Revolusi Perancis dengan kebangkitan Islam.

Marx mengajarkan bahwa takdir datangnya Komunisme tidak bisa dibendung; ini menghasilkan pemikiran yang tidak berbeda dari para penerus awal Muhammad.
Diantara agama-agama yang ada, Bolshevisme lebih dianggap sebagai Muhammadanisme dibanding Kristen dan Buddhisme. Kristen dan Buddhisme terutama adalah agama pribadi dengan doktrin-doktrin mistik dan kecintaan pada pemikiran. Muhammadanisme dan Bolshevisme bersifat praktis, sosial, tidak spiritual & lebih mementingkan memenangkan kekuasaan (politik) di dunia ini. - Bertrand Russell.[1]

Mungkin Charles Watson yang pertama ditahun 1937 menggambarkan Islam sebagai TOTALITER dan sekaligus menunjukkan bagaimana “dengan jutaan akar menembus setiap fase kehidupan, semuanya dengan arti religius, mampu menguasai kehidupan orang-orang muslim.” Bousquet, salah seorang otoritas terkemuka hukum Islam, membedakan dua aspek Islam yang dianggapnya totaliter: Hukum Islam dan Jihad Islam yang tujuan akhirnya adalah penaklukan seluruh dunia agar tunduk pada satu otoritas. Kita akan membahas Jihad pada bab berikutnya; disini kita batasi pada hukum Islam.