Minggu, 18 Oktober 2009

Bab 5 - Qur'an

Semoga tiap muslim yang kebetulan membaca ini memaafkan keterus terangan saya bertutur. Bagi mereka Quran adalah Buku Auwloh dan saya menghargai kepercayaan mereka itu. Tapi saya tidak punya kepercayaan yang sama dan saya tidak mau bergeming dari itu, seperti banyak yang dilakukan orientalis lainnya, dengan kalimat- kalimat samar untuk menyembunyikan maksud sebenarnya. Ini mungkin bisa menjadi alat bantu dengan maksud baik bagi individu ataupun pemerintahan yang Islami; tapi saya tidak bermaksud menipu siapapun. Para muslim punya hak untuk tidak membaca buku ini atau mempelajari ide-ide dari non muslim, tapi jika mereka melakukan itu, mereka harus siap untuk membaca hal-hal yang mereka anggap sebagai penghujatan. Sudah jelas bahwa saya tidak percaya Quran itu adalah Buku Auwloh. - Maxime Rodinson.[2]

Quran ditulis dalam huruf Arab dan terbagi menjadi bab–bab (surat atau surah) dan ayat-ayat (atau dibaca ayah; jamak). Ada kurang lebih 80.000 kata, sekitar 6200 sampai 6240 ayat dan 114 surah dalam Quran. Tiap surah, kecuali surah nomor 9 dan Al-Fatihah (Surah no.1), dimulai dengan kalimat “Dengan menyebut nama Auwloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Siapapun yang mengumpulkan Quran, ia menyimpan surat-surat yang panjang menjadi surat awal tanpa melihat kronologis maupun urutan surat mana yang pertama diturunkan pada Muhammad.

Bagi muslim Quran adalah kata-kata Tuhan tanpa kesalahan satupun, kata-kata Tuhan langsung yang diturunkan lewat perantara sebuah roh atau malaikat atau Jibril ke Muhammad dalam bahasa arab murni dan sempurna; setiap titik koma didalamnya berlaku abadi dan bukan hasil ciptaan manusia. Teks aslinya ada disimpan di surga (induk Al Kitab (Lohmahfuz), 43.3; kitab yang terpelihara (Lohmahfuz) 56.78; yang (tersimpan) dalam Lohmahfuz 85.22). Malaikat mendiktekan wahyu pada nabi, yang lalu mengulangnya, dan kemudian dia sampaikan pada dunia. Muslim modern juga mengklaim bahwa wahyu-wahyu ini dipelihara persis seperti ketika diturunkan dan diucapkan oleh Muhammad, tanpa ada perubahan, penambahan atau pengurangan sedikitpun. Quran dipakai sebagai ‘jimat’ pada peristiwa-peristiwa penting seperti kelahiran, kematian atau perkawinan. Meminjam kata- kata Guilaume, “Quran adalah yang tersuci dari yang paling suci. Tidak boleh ditindih oleh buku lain, harus selalu ada dibagian paling atas; orang tidak boleh minum atau merokok ketika Quran sedang dibacakan dan harus didengarkan dalam suasana hening (tidak boleh ada yang bicara). Quran adalah jimat untuk penyakit dan bencana.” Sheikh Nefzawi, dalam karya erotik klasiknya The Perfumed Garden, bahkan menganjurkan Quran untuk dipakai sebagai alat perangsang:
“Dikatakan bahwa pembacaan Quran juga mempengaruhi kopulasi persetubuhan.”

Baik Hurgronje maupun Guillaume menunjuk cara-cara tak masuk akal bagaimana anak-anak dipaksa utk menghafal sebagian atau seluruh quran (sejumlah 6200 ayat) diluar kepala sambil menomor duakan pendidikan-pendidikan lainnya, seperti berpikir kritis dan lain-lain: “Anak-anak mampu mengerjakan ini semua dengan risiko kehilangan kemampuan berakal sehat mereka, karena seringnya mereka dipaksa untuk menghafal hal-hal yang sebenarnya belum perlu mereka pikirkan secara serius.”[3]

Hurgronje mengamati:
Kitab ini, pernah menjadi kekuatan untuk mengubah dunia, sekarang fungsinya hanya untuk dilantunkan oleh guru-guru dan orang-orang awam sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan. Aturan-aturan itu tidak sulit tapi tak diberikan pengertian kalimat-kalimatnya; Quran dilantunkan semata karena dengan membacanya saja dipercaya bisa mendatangkan pahala. Mereka tidak tahu arti ayat-ayat yang dilantunkan dengan nada turun naik itu, jangankan orang awam bahkan orang terpelajar juga tidak tahu bahwa ayat yang mereka lantunkan itu mengajarkan hal-hal penuh dosa, tapi mereka melantunkannya setiap hari, setiap ada kegiatan-kegiatan istimewa.

Kode universal 1300 tahun lalu berubah menjadi sekedar buku teks yang dibacakan dengan nada-nada yang dikeramatkan, pada prakteknya sebagian kehidupan penting dari anak-anak muda yang harusnya dihabiskan untuk pendidikan yang lebih baik jadi disia-siakan.[4]

Perkataan Tuhan?
Suyuti, Ahli tafsir dan ahli bahasa Quran, mampu menunjuk lima ayat yang konon ‘dikatakan oleh Tuhan’ untuk diperdebatkan. Beberapa dari kalimat dalam bagian-bagian itu jelas diucapkan oleh Muhammad sendiri dan sebagian oleh Jibril. Ali Dashti[5] juga menunjuk pada beberapa bagian dimana pembicaranya tidaklah mungkin Tuhan.

Sebagai contoh, surah pembuka yang dinamakan Al-Fatihah: Dengan menyebut nama Auwloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dengan menyebut nama Auwloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Auwloh, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Kalimat tersebut jelas-jelas ditujukan pada Tuhan dalam bentuk doa. Kalimat itu adalah perkataan Muhammad yang berdoa pada Tuhan meminta petunjuk dan bimbingannya. Orang cukup menambahkan kata perintah “katakanlah” pada awal surah untuk mengubah semua kebingungan ini. Bentuk kata perintah “katakanlah” muncul sekitar 350 kali dalam Quran dan jelas kata ini telah disisipkan belakangan oleh para penyusun Quran, maksudnya untuk membuang hal-hal mirip nan memalukan yang tak terhitung banyaknya. Ibn Masud, salah seorang sahabat nabi dan seorang penyusun Quran menolak al-Fatihah dan surah 113 serta 114 yang berisi kalimat “hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan atau Aku berlindung kepada Tuhan” karena menurutnya itu bukan bagian dari Quran. Lagipula pada surah 6.104, pembicara kalimat “aku sekali-kali bukanlah pemelihara...” Jelas-jelas adalah Muhammad sendiri.

[6.104] Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu).

Abu Dawood dalam terjemahannya menambahkan catatan kaki bahwa “Aku” yang dimaksud dalam ayat ini adalah Muhammad.

Dalam surah yang sama pada ayat 114, Muhammad mengatakan, “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Auwloh, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci?“

Yusuf Ali dalam terjemahannya menambahkan “katakanlah” pada awal kalimat, kata yang sebenarnya tidak ada dalam Quran bahasa aslinya, dan dia melakukan ini tanpa memberikan komentar atau catatan kaki apapun. Ali Dashti juga menganggap surah 111 sebagai perkataan Muhammad sendiri dengan dasar bahwa kalimat-kalimat ini tidak ada artinya buat Tuhan: “Sakit sekali kedengarannya Tuhan Yang Maha Kuasa mengutuk seorang arab dengan kata-kata bodoh dan mengejek istrinya dengan kata-kata pembawa kayu bakar.” Surah pendek ini mengacu pada Abu Lahab, paman sang nabi, yang menjadi salah satu lawan paling pahit bagi Muhammad: “Dengan menyebut nama Auwloh Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” Kalau ini bukan kalimat Muhammad sendiri maka berarti Tuhan adalah makhluk lemah pikiran yang suka mempermainkan kata-kata, karena “Abu Lahab” artinya “Bapak Api.” Tapi yang pasti kalimat-kalimat ini sebenarnya tidak pantas untuk diucapkan oleh seorang nabi sekalipun.

Seperti ditunjukkan oleh Goldziher[6], “Para Mu’tazilie yang saleh menyuarakan pendapat yang sama (seperti kaum Kharijit yang meragukan keandalan ayat-ayat Quran) tentang sebagian kutukan dari Quran yang diutarakan sang Nabi terhadap musuh-musuhnya (seperti pada Abu Lahab). Tuhan tidaklah mungkin menyatakan pernyataan- pernyataan demikian dalam ‘sebuah Quran suci yang diambil dari Buku Lohmahfuz di surga.’” Lihatlah, jika kita menerapkan hal yang sama pada semua bagian dari Quran, yang tersisa hanya tinggal sedikit saja yang pantas kita sebut sebagai perkataan Tuhan, dengan kata lain perkataan yang pantas dalam Quran yang bisa dianggap dinyatakan oleh Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, Yang Maha Bijaksana sangat sedikit sekali.

Ali Dashti[7] juga memberi contoh dari surah 17.1 sebagai contoh kebingungan antara dua pembicaranya, Tuhan dan Muhammad: “Maha Suci Auwloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Komentar Dashti:
Kata pujian “Maha Suci Auwloh yang telah memperjalankan hamba- Nya pada suatu malam dari Mekah ke Palestina” tidaklah mungkin ucapan Tuhan, karena aneh Tuhan memuji dirinya sendiri, dan pastilah itu ucapan terimakasih/pujian Muhammad pada Tuhannya karena diberi perjalanan ini. Bagian berikut dari kalimat ini, menjelaskan mesjid terjauh (yang daerahnya diberkati tuhan), diucapkan oleh Tuhan, dan juga anak kalimat berikutnya “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami” Kalimat penutup “Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat“ kelihatannya adalah kalimat Muhammad sendiri.

Lagi-lagi karena kepentingan dogma sang penerjemah melakukan ketidak jujuran ketika dihadapkan pada Surah 27:91, dimana pembicaranya sudah jelas-jelas adalah Muhammad: “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah)” Dawood dan Pickthall, keduanya menambahkan kata “katakanlah” pada awal kalimat yang mana dalam bahasa arabnya tidak ada sama sekali. Pada surah 81:15, orang bisa mengira bahwa Muhammad-lah yang bersumpah: “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,” Muhammad yang tak mampu lagi menyembunyikan asal-usul kepaganannya melakukan sumpah lagi dalam surah 84:16, “Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, dan dengan bulan apabila jadi purnama” Ada ayat-ayat lain dimana sangat mungkin bahwa Muhammadlah yang sedang berbicara, contoh., 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 90:1.

Bahkan Bell dan Watt[8], yang hampir bisa dibilang tidak menentang islam (netral) juga mengakui bahwa:
Asumsi bahwa Tuhan sendiri sebagai pembicara pada setiap ayat menimbulkan kesulitan-kesulitan. Seringnya Tuhan disebut dalam bentuk Kata Ganti Orang Ketiga (KGOK). Tak ragu lagi seringnya sang pembicara menyebut dirinya dalam bentuk orang ketiga, tapi melihat bagaimana sang nabi menyebut dirinya sendiri dengan sebutan yang setingkat lalu menyebut Tuhan sebagai kata ganti orang ketiga, bukanlah hal yang biasa. Malah hal ini jadi bahan tertawaan, dalam Quran kok Tuhan dibuat bersumpah sendiri. Bersumpahnya Tuhan dalam beberapa ayat, dimulai dengan kalimat “Aku bersumpah …” sulit untuk disangkal (contoh 75.1; 56.75; 69.38 dan lain-lain)… “Demi Tuhan,” (70.40) bagaimanapun hal ini sulit dipercaya berasal dari Tuhan… Lalu ada satu ayat yang semua orang akui diucapkan oleh malaikat, ayat 19.64-65: “Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa- apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa. Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”

Dalam 37.161-166 sangat jelas juga sang malaikatlah pembicaranya. Ini jika sekali saja diakui mungkin akan menular ke ayat-ayat yang juga tidak begitu jelas siapa pembicaranya. Kesulitan-kesulitan dalam banyak ayat yang ada kata ‘kami’ dijelaskan dengan menafsirkan yang dimaksud ‘kami’ itu adalah malaikat bukan Tuhan yang berbicara memakai bentuk jamak. Tidak mudah untuk membedakan keduanya dan pertanyaan ‘empuk’ kadang muncul di tempat dimana terjadi perubahan mendadak dari Tuhan yang memakai kata ganti orang ketiga menjadi ‘kami’, padahal ‘kami’ disitu tetap melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh Tuhan saja, contoh 6.99; 25.45.

Perbendaharaan Kata Asing dalam Quran
Meski para ahli bahasa Muslim mengenali ada banyak kata-kata yang berasal dari kata asing, sifat ortodoks membuat mereka bungkam. Satu hadis memberitahu kita bahwa “Siapapun yang bilang dalam Quran ada kata asing selain kata Arab dia telah membuat tuduhan serius pada Tuhan: ‘Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab,” (surah 12.2). Untungnya, ahli bahasa seperti al-Suyuti berhasil mengemukakan argumen yang hebat untuk menghindari keberatan pemikiran kolot tersebut. Al-Tha’alibi berpendapat bahwa benar ada kata-kata asing dalam Quran tapi “Orang Arab sudah terbiasa dengan kata-kata itu dan sudah meng-arab-kannya, jadi dari sudut pandang ini, kata-kata itu sebenarnya sudah jadi kata Arab.” Meski Al-Suyuti menyatakan ada sekitar 107 kata2 asing, Arthur Jeffery dalam karya klasiknya menemukan sekitar 275 kata dalam Quran yang bisa dikategorikan kata asing yang berasal dari: Aramaic, Hebrew, Syriac, Ethiopia, Persia dan Yunani. Kata “Quran” sendiri berasal dari bahasa Syriac, dan Muhammad terbukti mendapatkannya dari sumber-sumber Kristen.

Beda versi, Beda Bacaan
Kita perlu menyusuri kembali sejarah teks Quran untuk mengerti masalah beda versi dan beda bacaannya ini, dimana keadaan itu menihilkan dogma Muslim tentang Quran. Seperti kita tahu tidak ada yang namanya “Satu Quran”; tidak pernah ada teks pasti dari kitab ‘suci’ ini. Ketika seorang muslim secara dogmatis menyatakan bahwa Quran itu kalimat Tuhan, kita cukup bertanya “Quran yang mana?” untuk meruntuhkan keyakinannya itu.

Setelah kematian Muhammad ditahun 632 M, tidak ada pengumpulan wahyu-wahyunya. Akibatnya banyak dari para pengikutnya mencoba mengumpulkan semua wahyu-wahyu yang dikenal dan telah ditulis dalam banyak bentuk codex (penaskahan kuno). Segera saja kita punya banyak versi codex dari beberapa scholar muslim, seperti versi Ibn Mas’ud, Ubai b. Kab, Ali, Abu Bakar, al-Ashari, al-Aswad dan lain- lainnya. Begitu Islam menyebar akhirnya kita punya apa yang dikenal sebagai Metropolitan Codices (naskah besar) di pusat-pusat kota Mekah, Medina, Damaskus, Kufa dan Basra. Usman mencoba membereskan kekacauan ini dengan memilih satu naskah saja untuk dijadikan kitab Quran Resmi, yaitu Naskah Medina, copy-an dari naskah ini dikirim keseluruh kota besar dengan perintah tambahan untuk menghancurkan naskah-naskah Quran yang lainnya.

Codex/Naskah Usman ini bertujuan untuk membuat standarisasi teks konsonan; tapi meski demikian tetap saja masih bisa ditemukan versi- versi lain dari naskah yang sudah distandarisasi ini dan banyak yang bertahan sampai abad 4 Hijriah. Masalah menjadi besar karena ada fakta bahwa standarisasi teks konsonantal tersebut tidaklah begitu jelas, tanda titik yang membedakan, contoh yang membedakan sebuah huruf“b” dari huruf “t”, atau “th” tidak ada. Beberapa huruf lain (f dan q; j, h, dan kh; s dan d; r dan z; s dan sh; d dan dh; t dan z) juga tidak bisa dibedakan. Buntutnya banyak sekali versi bacaan yang berbeda-beda yang diterapkan sesuai dengan bagaimana teks tersebut ditambahkan tanda titiknya. Huruf Vokal malah lebih rumit lagi. Aslinya bahasa arab tidak punya tanda untuk vokal pendek – ini diperkenalkan belakangan. Teks arab melulu konsonantal (hanya berisi konsonan). Meski vokal pendek kadang dihilangkan, huruf vokal itu bisa dilambangkan dengan tanda-tanda ortografi yang ditempatkan diatas atau dibawah huruf tersebut – ada tiga tanda semuanya, mengambil bentuk garis miring/coret atau koma.

Setelah beres masalah konsonan para muslim masih harus memutuskan huruf vokal mana yang dipakai dalam tiap ayat; memakai huruf vokal yang salah tentu saja membuat pembacaan dan, otomatis, artinya menjadi berbeda.

Kesulitan berujung pada bermunculannya pusat-pusat studi Quran versi berbeda dengan cara baca dan tulisan yang berbeda pula, tergantung bagaimana teks itu ditambahkan vokal dan diperjelas konsonannya. Meski ada perintah dari Usman untuk menghancurkan semua teks Quran lain selain versi dia, tetap saja naskah-naskah tua lain bisa bertahan. Seperti Charles Adams[9] katakan, “harus ditegaskan bahwa bukannya hanya satu versi teks wahyu tanpa cacat saja yang ada dijaman Usman, kenyataannya malah terdapat ribuan versi bacaan dari ayat-ayat tertentu … versi-versi ini bahkan mempengaruhi juga Naskah Usman asli, membuat naskah Usman sendiri jadi diragukan keasliannya..”

Sebagian Muslim lebih suka naskah lain yang bukan naskah usman, contohnya, naskah milik Ibn Masud, Ubayy ibn Kab, dan Abu Musa. Akhirnya dibawah pengaruh scholar Quran Ibn Mujahid (meninggal 935M), ada kanonisasi yang pasti dari satu sistem konsonan dan ditetapkan sebuah batasan penempatan variasi vokal yang dipakai dalam teks, hasilnya sistem ini diterima ditujuh tempat:

Nafi dari Medina (meninggal 785M)
Ibn Kathir dari Mekah (meninggal 737M)
Ibn Amir dari Damaskus (meninggal 736M)
Abu Amr dari Basra (meninggal 770M)
Asim dari Kufa (meninggal 744M)
Hamza dari Kufa (meninggal 772M)
Al-Kisai dari Kufa (meninggal 804M)

Tapi scholar (akademisi) lainnya mengakui sepuluh versi bacaan, dan scholar lainnya lagi mengakui 14 versi bacaan yang lain lagi. Bahkan ketujuh orang yang menerima sistemnya Ibn Mujahid juga punya empat belas (14) versi bacaan karena masing-masing orang itu mengikuti dua isnad/periwayat yang berbeda pula, yakni:

Nafi dari Medina, mengikuti Warsh dan Qalun
Ibn Kathir dari Mekah mengikuti al-Bazzi dan Qunbul
Ibn Amir dari Damaskus mengikuti Hisham dan Ibn Dhakwan
Abu Amr dari Basra mengikuti al-Duri dan al-Susi Asim dari Kufa mengikuti Hafs dan
Abu Bakar Hamza dari Kufa mengikuti Khalaf dan
Khallad Al-Kisai dari Kufa mengikuti al-Duri dan Abul Harith

Pada akhirnya tiga sistem tidak bisa bertahan (gugur), karena banyak alasan – kata Jeffery[10] – “alasan yang belum sepenuhnya jelas.” yang gugur yaitu Warsh (m. 812) dari Nafi Medina, Hafs (m. 805) dari Asim di Kufa dan al-Duri (m. 860) dari Abu Amr di Basra. Saat ini dalam Islam modern, dua versi banyak dipakai: yaitu versi Asim dari Kufa yang mengikuti Hafs, yang mendapat persetujuan resmi dan dipakai dalam Quran edisi Mesir tahun 1924; dan versi Nafi yang mengikuti Warsh yang dipakai disebagian benua Afrika.

Mengutip dari Charles Adams:
Penting diperhatikan akan kemungkinan sumber kesalah pahaman tentang banyaknya versi bacaan Quran. Tujuh versi mengacu pada perbedaan aktual dalam penulisan dan pembacaan teksnya, untuk membedakan versi-versi dari ayat Quran yang perbedaannya meski tidaklah begitu besar tapi sangat nyata dan mendasar. Karena adanya banyak versi baca dan versi Quran itu melanggar doktrin kitab Suci yang dipercaya oleh banyak muslim modern, jadi sudah biasa jika mereka membela bahwa tujuh versi itu adalah berbeda cara pelantunannya (nada-nada baca) saja; sebenarnya cara dan teknik pelantunan tersebut adalah masalah lain yang sama sekali berbeda.[11]

Guillaume juga menyebut perbedaan-perbedaan ini “bukan hal sepele mengingat kepentingannya.”[12] Versi baca yang berbeda mengandung masalah yang serius buat para muslim ortodoks. Jadi tidak heran jika mereka menyembunyikan naskah yang berbeda dari naskah Usman. Arthur Jeffery menjelaskan usaha-usaha penyembunyian ini sebagai berikut:
[Mendiang Professor Bergstrasser] sedang bekerja dalam pemotretan arsip-arsip dan memfoto beberapa Naskah Kufic Awal di Perpustakaan Mesir ketika saya meminta perhatiannya pada satu naskah di perpustakaan Azhar yang punya ciri-ciri tertentu yang mencurigakan. Dia meminta ijin untuk memfoto bahan itu juga tapi ditolak dan naskah itu ditarik agar tidak bisa diakses lagi, karena tidak sejalan dengan adat ortodoks untuk membiarkan scholar Barat mengetahui naskah- naskah demikian… Dengan melihat bahwa ada versi lain yang bisa bertahan, maka bisa dirasakan juga betapa keras usaha-usaha mereka untuk menghalangi kepentingan ortodoks.[13]
----------------
[1] Huxley, T.H. Science and Hebrew Tradition. London, 1895 [2] Rodinson, Maxime. Muhammad. New York, 1980
[3] Guillaume, Alfred. Islam. London, 1954. hal 74
[4] Dikutip Zwemer, S. dalam The Influence of Animism on Islam. London, 1920
[5] Dashti, Ali. Twenty-Three Years: A Study of the Prophetic Career of Mohammed. London, 1985, hal 148f
[6] Goldziher, Ignaz. Introduction to Islamic Theology and Law. Terjemahan Andras dan Ruth Hamori. Princeton, 1981. hal 173
[7] Dashti, Ali. Twenty-Three Years: A Study of the Prophetic Career of Mohammed. London, 1985, hal 150
[8] Bell, R., and W.M. Watt. Introduction to the Quran. Edinburgh, 1977, hal 66.
[9] Artikel Adams, Quran dalam Encyclopaedia of Religion
[10] Jeffery, Arthur. “Progress in the Study of the Quran Text.” Dalam Muslim World, vol.25., dalam Muslim World vol.25, hal 11.
[11] Artikel Adams, Quran dalam Encyclopaedia of Religion
[12] Guillaume, Alfred. Islam. London, 1954. hal 189
[13] Dikutip dalam Morey, Robert. The Islamic Invasion. Eugene, 1992, hal.121

Arabic Sempurna?
Scholar besar Noldeke[14] sudah sejak lama menunjukkan kelemahan stylistik dari Quran. Secara keseluruhan, meski banyak bagian-bagian dari Quran dianggap punya kekuatan retoris yang hebat, bahkan terhadap para pembaca yang tidak percaya sekalipun, tapi kitabnya secara estetis sama sekali tidak punya performans hebat… Mari kita lihat pada beberapa bagian naratif yang lebih panjang. Bisa dilihat betapa berapi-api dan mendadak sekali karakter-karakternya ketika sebenarnya karakter- karakter tersebut harus diceritakan lebih mendetil lagi dalam epik yang panjang. Keterkaitan, baik dalam pengungkapan maupun dalam rangkaian-rangkaian kejadian, sering hilang, jadi kadang jauh lebih mudah bagi kita untuk mengerti daripada bagi mereka yang baru pertama kali tahu kisah-kisah tersebut, karena kita sudah tahu kisah-kisah itu dari sumber-sumber yang jauh lebih baik. Lalu ada banyak sekali kata-kata yang tak berguna; dan tak ada pendahuluan dalam penceritaannya. Contohnya kisah Yusuf (xii) dan kelakuan-kelakuan tidak pantasnya sangat berlawanan dengan kisah-kisah yang kita dengar dari kitab Kejadian. Kesalahan serupa juga ada dalam bagian non cerita Quran. Pertalian antar ide sangat longgar, bahkan sintaksnya sangat kaku. Anacolutha (rangkaian sintaksis; susunan dimana rangkaian gramatikal harusnya ada tapi tidak ada, contoh: Ketika berada di taman, pintu terbanting dengan kencangnya. Antara kalimat satu dan dua tidak ada korelasinya) sering muncul, dan tidak dapat dijelaskan sebagai sebuah karya sastra yang sengaja dibuat demikian. Banyak kalimat-kalimat dimulai dengan kata “ketika” atau “pada satu hari ketika” yang sepertinya menggantung, jadi para penafsir didorong untuk mengisi hal ini dengan sebuah “pemikiran tentang ini” atau dengan ellipsis (kata-kata tambahan utk memenuhi bentuk kalimatnya). Lagipula, tidak ada gaya sastra yang katanya ‘hebat’ ditunjukkan dalam frase dan kata-kata yang sama; dalam xviii, contohnya kata “sampai itu” muncul tidak kurang delapan kali. Mahomet (Muhammad) pendeknya, dalam pengertian apapun bukanlah seorang ahli gaya bahasa.

Kita sudah mengutip kritik Ali Dashti mengenai gaya sang Nabi (bab 1). Disini, saya akan mengutip beberapa contoh dari Ali Dashti[15] mengenai kesalahan-kesalahan tata bahasa dalam Quran. Dalam ayat 162, Surah 4, “Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Auwloh dan hari kemudian. Orang- orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” Kata untuk “orang-orang yang mendirikan/performers” adalah kasus akusatif, sementara harusnya berupa kasus nominatif, seperti kata- kata untuk “mendalam”, “orang-orang mukmin” dan “menunaikan”.

Dalam ayat 9, surah 49, “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.” Kata kerja “berperang” berupa kata jamak, dimana harusnya berupa ganda seperti dalam subjek “dua pihak.” (Dalam bahasa Arab, seperti bahasa- bahasa lain, kata kerja dapat dikonjugasikan bukan hanya dalam tunggal dan jamak, tapi juga dalam ganda, jika subjek yang disebutkan hanya ada dua).

Dalam ayat 63, surah 20, dimana orang-orangnya Firaun berkata tentang Musa dan Saudaranya Aaron, “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir” kata untuk “dua orang ini” (hadhane) berupa kasus nominatif; padahal harusnya berupa kasus akusatif (Hadhayne) karena muncul setelah penekanan unsur pengenalan. Ali Dashti menutup contoh-contoh ini dengan menyatakan,

Usman dan Aisha dilaporkan membaca kata itu sebagai ‘hadhayne’. Komentar dari para scholar muslim menggambarkan bagaimana fanatisme dan kekakuan intelektual saat itu: “Karena kesepakatan para muslim akan hal ini dan karena Quran adalah ‘kalimat Tuhan’ karenanya tidak mungkin ada kesalahan satupun, maka laporan yang menyatakan bahwa Usman dan Aisya membacanya sebagai ‘hadhayne’ bukannya hadhane dianggap suatu hal yang jahat dan palsu.” Ali Dashti memperkirakan ada sebanyak lebih dari seratus penyelewengan aturan normal dan struktur arab dari Quran.

Ayat-ayat yang Hilang dan Ditambahkan
Ada hadis dari Aisha, istri sang nabi, kata Aisha tadinya ada “ayat rajam”, dimana disebutkan bahwa rajam dijelaskan sebagai hukuman bagi dosa zinah, ayat ini menjadi bagian dari Quran tapi sekarang hilang. Kalifah-kalifah awal melakukan hukuman rajam bagi para penzinah meski Quran, yang kita kenal sekarang, hanya memerintahkan seratus cambukan. Ini jadi aneh – jika hadis itu tidak benar – kenapa hukum Islam sampai saat ini masih menetapkan hukum rajam padahal Quran hanya menuntut hukum cambuk. Menurut hadis juga, lebih dari seratus ayat telah hilang. Kaum Shia, tentunya mengklaim bahwa Usman telah membuang banyak ayat-ayat yang condong berpihak ke Ali karena alasan-alasan politisnya.

Nabi sendiri telah melupakan banyak ayat, ingatan para sahabat juga sama-sama tidak bisa diandalkan dan para penyalin bisa juga salah menyalin ayat-ayat. Kita juga punya kasus Ayat Setan yang jelas menunjukkan bahwa Muhammad sendiri menyembunyikan atau menghapuskan beberapa ayat.

Keaslian banyak ayat juga dipertanyakan bukan hanya oleh scholar Barat modern tapi juga oleh para muslim sendiri. Banyak kaum Kharijit yang menjadi pengikut Ali waktu awal Islam berdiri menemukan surah yang menceritakan kisah Yusuf yang ganas berikut kisah-kisah erotisnya yang sekarang tidak ada di Quran. Bahkan sebelum Wansbrough ada sejumlah scholar Barat seperti Sacy, Weil, Hirschfeld dan Casanova yang meragukan keaslian surah ini atau surah itu atau ayat ini dan ayat itu. Bisa dibilang sejauh ini argumen mereka belum bisa dibantah. Argumen Wansbrough malah menemukan dukungan diantara scholar generasi muda yang tidak sejalan dengan kolega mereka dari generasi sebelumnya, seperti dijelaskan dalam bab 1-nya “Trahison des Clercs”.

Dilain pihak kebanyakan scholar benar percaya adanya interpolasi (penyisipan/penambahan) dari Quran; interpolasi ini berupa sebagai terjemahan yang ditambah-tambahkan pada kalimat-kalimat yang sulit. Yang lebih serius lagi adalah interpolasi sebuah karakter (politis atau dogmatis) seperti pada ayat 42.40-42, yang kelihatannya ditambahkan hanya untuk membenarkan pengangkatan Usman sebagai kalifah dan menafikan Ali. Lalu ada ayat-ayat lain yang ditambahkan hanya untuk menyesuaikan rimanya, atau untuk menggabungkan dua ayat pendek yang tidak ada hubungannya sama sekali agar nyambung dan bisa dimengerti. Bell dan Watt[16] secara cermat meneliti banyak pengubahan dan revisi dan menunjuk pada tidak samanya gaya penulisan Quran sebagai bukti dari banyaknya perubahan-perubahan dalam Quran:

Banyak sekali hal-hal yg demikian dan ini diklaim sebagai bukti adanya perubahan yang fundamental. Disamping hal-hal yang sudah kita perhatikan – rima-rima tersembunyi, dan frase-rima yang tidak menyatu kedalam tekstur dari ayat – terdapat juga perubahan mendadak dari rimanya; pengulangan kata atau frase yang berima sama dalam ayat-ayat yang berdampingan; bercampurnya subjek yang tak ada hubungannya sama sekali kedalam ayat yang tidak homogen/bertopik sama; perlakuan yang berbeda untuk subjek sama dalam ayat-ayat yang berdekatan, sering dengan pengulangan kata dan frase; pemotongan tata bahasa yang menimbulkan kesulitan untuk penafsiran; perubahan kasar dalam ayat-ayat yang panjang; perubahan mendadak dalam kisah-kisah dramatis dengan mengubah kata ganti dari tunggal ke jamak, dari kata ganti orang kedua ke kata ganti orang ketiga, dan seterusnya; disejajarkannya pernyataan yang jelas-jelas berlawanan; disejajarkannya ayat-ayat yang ceritanya jelas- jelas beda jaman, dengan frase yg bertanggal belakangan disimpan diayat bertanggal lebih awal.

Dalam banyak hal sebuah ayat punya sambungan alternatif yang saling mengikuti dalam teksnya. Alternatif kedua ditandai oleh sebuah perhentian arti dan perhentian dalam konstruksi tata bahasanya, hubungannya tidak dengan ayat yang berikutnya tapi dengan yang ada disurah yang jauh posisinya dari ayat itu.
Al-Kindi, seorang Kristen[17] yang menulis sekitar 830M mengkritik Quran dengan pernyataan yang sama:
“Hasil dari semua ini (proses terbentuknya Quran) adalah paten bagi anda yang membaca kitab suci ini dan melihat bagaimana dalam kitab itu sejarah dicampur-adukkan dan disemrawutkan; ini sebuah bukti bahwa banyak tangan telah ikut campur dalam pembentukkannya dan menyebabkan ketidak sesuaian, penambahan atau pemotongan apapun yang mereka suka atau tidak suka. Sekarang apakah wahyu yang berasal dari surga bisa demikian?”

Mungkin harus diberi contoh:
- Ayat 15 dari Surah 20 sama sekali bukan disitu tempatnya; rimanya berbeda dari isi ayat lainnya dalam surah tersebut.
- Ayat 1-5 dari surah 78 jelas-jelas hasil penambahan karena baik rima maupun sifatnya berbeda dari ayat-ayat lainnya; dalam surah yang sama ayat 32, 33 dan 34 telah disisipkan antara ayat 31 dan 35, dengan demikian memotong hubungan yang jelas antara ayat 31 dan 35.
- Dalam Surah 74, ayat 31 lagi-lagi sebuah penyisipan yang jelas karena sama sekali berbeda gaya penuturannya dan panjangnya juga berbeda dari ayat-ayat lainnya.
- Dalam surah 50, ayat 24-32 dimasukkan ke dalam sebuah konteks yang tidak pada tempatnya.

Untuk menjelaskan kejanggalan atau keanehan kata/frase, bisa dengan memakai formula pertanyaan “Apa yang diajarkan ayat…. Itu?” (atau “mengajarkan apa ayat …. Ini?”) yang diterapkan pada ayat-ayat aneh tersebut. Jelas bahwa penjelasan terjemahan tambahan ini - ada 12 semuanya – telah ditambahkan belakangan, karena dalam banyak kejadian ‘definisi’nya tidak nyambung dengan arti asli dari kata-kata atau frasenya. Bell dan Watt[18] memberi contoh surah 101.9-11, yang harusnya terbaca: “ibunya akan jadi hawiya. Dan mengajarkan kamu apakah ini? api yang sangat panas.” “Hawiya” aslinya berarti “tidak punya anak” karena kematian atau kecelakaan tapi catatan penjelasan ayat ini menyatakannya sebagai “neraka.” Dengan demikian banyak penterjemah sekarang menganggap kalimat tersebut sebagai “maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas!” (Lihat juga 90.12-16)

Tentu saja interpolasi apapun, betapapun sepele, menjadi fatal untuk dogma muslim yang menganggap bahwa Quran itu Kalimat Tuhan yang diberikan langsung dari surga pada Muhammad di Mekah dan di Medina. Seperti Regis Blachere tulis dalam karya klasiknya Introduction to the Koran, pada titik ini, tidak ada cara yang mungkin utk mempertemukan penemuan-penemuan ahli tata bahasa dan sejarawan barat dengan dogma resmi dari Islam.

Kita juga punya kisah dari Abd Auwloh b. Sa’d Abi Sarh[19]:
Abdallah b. Sa’d Abi Sarh adalah penyalin tulisan yang dipekerjakan di Medina untuk menuliskan wahyu-wahyu selama beberapa waktu. Dia sering bersama dengan sang Nabi mengubah kata-kata dari beberapa ayat. Ketika sang Nabi berkata “Dan Auwloh maha Kuasa dan bijaksana,” Abdallah menyarankan untuk menuliskan “Maha Tahu dan Maha Bijaksana” dan sang nabi menjawab bahwa dia tidak keberatan dituliskan demikian. Setelah sadar bahwa dia (dan Muhammad) bisa melakukan penggantian ‘ayat Tuhan’ semaunya. Abdallah meninggalkan Islam dengan alasan bahwa wahyu-wahyu itu, jika benar berasal dari Tuhan, tidak boleh diubah sedikitpun apalagi jika hanya karena diusulkan penulis seperti dirinya. Setelah murtad, dia pergi ke Mekah dan bergabung dengan kaum Quraysh. Tak perlu dikatakan lagi sang Nabi tak ragu untuk memerintahkan pembunuhan Abdallah ketika Mekah jatuh ketangan dia, tapi Usman meminta ampunan Muhammad bagi AbdAllah dengan susah payah.

Pembatalan Ayat-ayat Quran
William Henry Burr, penulis dari Self-Contradictions of the Bible, pasti akan berpesta pora jika memakai Quran sebagai subjeknya, karena Quran padat dengan kontradiksi. Tapi pesta Burr hanya akan berumur pendek saja; karena para teolog muslim punya doktrin yang nyaman buat mereka, yang seperti Hughes[20] katakan, “klop dengan efek manfaat yang sepertinya sudah menjadi satu keistimewaan dalam karir kenabian Muhammad.” Menurut doktrin ini ayat-ayat tertentu dari Quran dibatalkan dan diganti dengan ayat yang lain yang berbeda dan kadang bertentangan artinya dari ayat yang digantikan. Ini diajarkan oleh Muhammad dalam surah 2.106: “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.” Menurut al-Suyuti, jumlah ayat-ayat yang digantikan diperkirakan berkisar dari 5 sampai 500 ayat. Margoliouth[21] berkomentar tentang ini:
Untuk ini cukup ambil satu wahyu dan gantikan ayat lainnya, Muhammad bilang ini diijinkan Tuhan. Meski meragukan tapi jelas ini masih dalam kekuasaan manusia dan meski bagi kita heran betapa begitu mudahnya sebuah prosedur boleh dipakai dalam sebuah sistem, baik bagi sekutu ataupun bagi musuh-musuhnya.

Al-Suyuti memberi contoh surah 2.240 sebagai ayat yang digantikan oleh ayat 234. Bagaimana bisa sebuah ayat awal menggantikan ayat yang datang kemudian? Jawabannya tergantung pada cara bagaimana para muslim tradisional mengurutkan surah dan ayatnya, yaitu tidak secara kronologis, para penyusun menempatkan surah yang panjang sebagai surah awal. Para komentator telah memutuskan bahwa urutan kronologis ini hanya untuk alasan doktrin semata; scholar barat juga pernah memutuskan untuk mengurutkan secara kronologis. Meski terdapat banyak perbedaan mendetil, tapi sepertinya ada persetujuan tak resmi mengenai surah mana yang menjadi ayat Periode Mekah dan yang mana sebagai ayat Periode Medinah. Perhatikan bagaimana periode waktu begitu mengikat kalimat-kalimat “abadi” sang Auwloh ini.

Muslim berhasil keluar dari satu kesulitan hanya untuk kemudian masuk kedalam kesulitan lainnya. Pantaskah Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Ada dan Maha Tahu merevisi perintah-perintahNya sampai sebanyak itu? Apa dia perlu mengeluarkan perintah yang harus diperbaiki, diganti, direvisi sesering itu? Kenapa Dia tidak memberi yang betul saja langsung ketika pertama diturunkan? Kenapa tidak bisa yang benar saja langsung pertama kali diturunkan? Padahal Dia itu Maha Bijaksana, Maha Tahu? Kenapa dia tidak keluarkan yang paling hebat saja langsung? Meminjam perkataan Dashti,[22] :
Kayaknya tukang ejek juga ada jaman dulu itu dan mereka rajin mengejeknya. Dan sebuah jawaban diberikan untuk mereka dalam ayat 101 dan 102 surah 16: “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Auwloh lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui. Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Auwloh)".

Dengan asumsi bahwa Quran itu perkataan Tuhan, harusnya tidak ada bekas-bekas intelektual manusia yang tidak sempurna dalam apa-apa yang Tuhan katakan. Tapi dalam dua ayat ini jelas-jelas ada ketidak pantasan. Tentu Tuhan ‘tahu’ apa yang Dia turunkan. Untuk alasan itu saja mengganti satu ayat dengan ayat lainnya akan membuat orang curiga. Terbukti bahkan orang-orang Arab Hijazi yang tidak terpelajar dan sederhanapun bisa mengerti bahwa Auwloh SWT yang seharusnya tahu yang terbaik bagi hambaNya akan langsung menurunkan yang terbaik dan tidak akan berubah pikiran seperti makhluk tak sempurna lainnya.

Doktrin penggantian ini juga menjadi bahan ejekan bagi dogma Muslim yang meyakini bahwa Quran itu reproduksi dari ayat Asli yang ada disimpan di Surga yang tak berubah satu titikpun. Jika perkataan Tuhan itu abadi, tidak tercipta dan universal kepentingannya, lalu bagaimana bisa kita mengatakan bahwa perkataan Tuhan telah digantikan atau telah usang? Apakah Tuhan lebih suka perkataan anu dibanding perkataan ini? Sepertinya iya. Menurut Muir sekitar 200 ayat telah dibatalkan dan diganti oleh yang lebih baru. Dengan demikian kita mendapatkan situasi yang aneh dimana keseluruhan Quran diucapkan sebagai perkataan Tuhan, tapi ada ayat-ayat yang dianggap tidak “benar”; dengan kata lain, 3 persen dari Quran diakui palsu.

Mari kita lihat contoh. Setiap orang tahu muslim tidak boleh minum arak karena dilarang dalam surah 2.219; tapi banyak yang pastinya kaget membaca Quran surah 16.67, “Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Auwloh) bagi orang yang memikirkan.”

Rodwell menerjemahkan dengan ‘wine'. Dawood menerjemahkan ‘intoxicant ' (minuman keras) dan Pickthall menuliskan ‘strong drink’ dan Sale, dengan pesona abad 18 menuliskan ‘inebriating liquor’ menggantikan ‘wine'. Yusuf Ali mengaku bahwa kata Arab yang tepat adalah ‘sakar’ artinya ‘wholesome drink’, dan dalam sebuah catatan kaki dia berkeras bahwa yang dimaksud adalah minuman tak beralkohol; tapi kemudian, diakhir kalimat dia menambahkan bahwa jika ‘sakar’ harus diambil arti harafiahnya, berarti anggur fermentasi, dan ini mengacu pada saat sebelum minuman keras dilarang: ini adalah surah Mekah dan larangan muncul di Medina.”

Sekarang kita bisa melihat dan mengerti betapa berguna dan nyamannya doktrin Penggantian (Abrogasi) ini untuk menyelamatkan para scholar muslim keluar dari segala kesulitan. Tapi tetap mengandung masalah bagi para pembela Islam karena semua ayat yang mengajarkan toleransi ada dalam Surah Mekah, yakni Surah- surah awal, dan semua ayat-ayat yang membolehkan pembunuhan, pemancungan dan penganiayaan ada dalam surah Medina. “Toleransi” telah diganti oleh “Intoleransi”. Contohnya, ayat terkenal Surah 9.5, “bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka” katanya telah membatalkan sekitar 124 ayat yang menganjurkan toleransi dan kesabaran.

Doktrin Quran
Tidak ada tuhan selain Auwloh (La Illaha Illauwloh). Islam adalah monoteistik mutlak – satu dosa terbesar adalah menyekutukan Tuhan. Politeisme, berhala, paganisme dan banyak tuhan semuanya dianggap sebagai, dalam istilah Arab, “Shirik/Fitnah”. Para pembela teologis dan mungkin juga para evolusionis budaya abad 19 semuanya sepakat menganggap bahwa monoteisme adalah bentuk kepercayaan “lebih tinggi” dibanding politeisme. Kelihatannya para filsuf tidak menelaah lebih jauh mengenai politeisme akhir-akhir ini. Apakah benar bahwa monoteisme secara filosofi atau metafisik lebih superior dari politeisme? Secara apa lebih superiornya? Jika ada sebuah evolusi alam yang mengubah politeisme menjadi monoteisme, maka bukankah bisa terjadi juga perkembangan alami dari monoteisme menjadi ateisme? Apakah monoteisme ditakdirkan untuk diganti dengan bentuk kepercayaan yang lebih tinggi lagi, yaitu ateisme? – lewat agnotisme mungkin? Dalam bagian ini saya ingin berdiskusi tentang:
1. Monoteisme tidaklah harus, secara filosofi atau metafisik, lebih superior dari politeisme, melihat bahwa tidak ada bukti yang benar- benar valid akan keberadaan Satu dan Hanya Satu Tuhan.
2. Dilihat dari sejarahnya, dalil-dalil monoteisme sering diam-diam mengandung kesan-kesan politeisme dalam prakteknya, meski ada dogma-dogma resmi sekalipun.
3. Takhyul dalam monoteisme tidak dihilangkan tapi dipusatkan kedalam satu Tuhan beserta UtusanNya.
4. Dilihat sejarahnya, monoteisme sering tidak punya toleransi (intoleransi yang parah), kebalikan dari politeisme dimana dalam politeis peperangan karena agama hampir tidak pernah terjadi. Ketidak toleransian ini secara logis muncul dari ideologi monoteistik. Banyak sekali hal-hal yang harus dijawab oleh monoteisme. Seperti Gore Vidal[23] katakan:
Kejahatan terbesar yang tidak disebutkan dalam kebudayaan kita adalah monoteisme. dimulai dari teks-teks Abad Perunggu yang dikenal sebagai Perjanjian Lama, tiga agama anti-human telah berkembang – Yudaisme, Kristen dan Islam. Ini adalah agama-agama Tuhan Surga. Agama-agama ini bersifat patriarch (berpihak ke gender lelaki) – Tuhan adalah Lelaki dan Maha Kuasa – dengan demikian membenci perempuan, selama 2000 tahun negara-negara dikuasai oleh Tuhan sang Lelaki dari Surga. Tuhan surga ini pencemburu. Dia menuntut kepatuhan total. Mereka yang menolak harus menyerah atau mati. Totaliter adalah satu-satunya cara politik yang benar-benar bisa melayani maksud- maksud Tuhan ini. Pergerakan apapun yang sifatnya liberal membahayakan otoritasnya. Satu Tuhan, Satu Raja, Satu master, satu Pemimpin Lelaki dalam keluarga.
5. Islam tidak mengganti Politeisme Arab hanya karena Islam lebih ketemu dengan kebutuhan spiritual orang-orang Arab, tapi karena Islam menawarkan mereka hadiah-hadiah materi di dunia sekarang dan di dunia berikutnya. Asumsi tak beralasan mengenai superioritas monoteisme telah mewarnai pendapat-pendapat para sejarawan tentang penyebab diadopsinya Islam di Arab.
6. Bukannya mengangkat standar moral orang Arab, Islam malah mendukung dan menimbulkan segala macam tindakan-tindakan tidak bermoral.
Monoteisme membawa semacam pesan intelektual buatan ke dalam campuran tuhan-tuhan ‘primitif’ dan jelas-jelas mengurangi ketakhyulan. Tapi ini hanya dipermukaan saja bukan sebuah kenyataan. Pertama, seperti Zwi Werblowsky[24] amati, “Ketika politeisme diganti oleh monoteisme, tuhan-tuhan politeisme itu kalau tidak dihilangkan (secara teoritis) maka dituduh sebagai penjelmaan jahat (jelmaan setan) atau diturunkan derajatnya ketingkat malaikat atau yang lebih rendah. Artinya bahwa sebuah sistem monoteistik secara resmi bisa melindungi fungsi sebenarnya dari politeisme.”

Hume[25] membuat pengamatan yang sama:
Sangat menakjubkan jika melihat bahwa prinsip-prinsip agama bisa berubah dan lalu bisa kembali lagi ke asal (berubah kembali ke semula) dan manusia punya kecenderungan alami untuk bergerak dari penyembahan berhala kepada Teisme lalu kembali lagi menuju penyembahan berhala… hal yang sama juga ada pada ‘perasaan bahagia’, perasaan yang menelurkan ide ‘Makhluk Kuasa dan Tak Terlihat’ ini membuat ‘makhluk non manusia” bertahan sekian lama dalam bentuk konsep awal dan sederhana mereka sebagai makhluk terbatas yang berkuasa; Tuan dari nasibnya sendiri tapi budak dari takdir dan alam. Pujian yang dibangkitkan manusia menambah membesarnya ide itu; dan mengangkat tuhan-tuhan mereka ketingkat maha sempurna yang pada akhirnya melahirkan tauhid (Maha Esa) dan Tak Terbatas (Maha Kuasa), sekaligus sederhana dan spiritualis. Ide ini meski tidak sebanding dalam pemahaman kasarnya, tidak akan bisa bertahan lama dalam bentuk aslinya jika tidak dibantu oleh figur makhluk (yang lebih rendah) yang ditempatkan antara umat manusia dan Tuhannya. Figur makhluk yg biasanya berupa Manusia ini, manusia yg dianggap setengah dewa atau perantara jauh lebih akrab dengan kita, para manusia, dan segera menjadi pemimpin dan objek pengabdian lalu perlahan menjadi objek pengultusan dan penyembahan yang katanya telah mereka musnahkan.

Ini terlihat dalam Islam itu sendiri, dimana kepercayaan akan malaikat dan Jin secara resmi diakui dalam Quran.[26] Edward Lane membagi spesies spiritual dalam Islam ini menjadi lima tatanan: Jann, Jinn, Shaitan, Ifrit dan Marid. “Yang terakhir adalah yang paling kuat, dan Jann adalah Jinn yang berubah bentuk, seperti monyet dan babi diubah dari manusia… nama Jinn dan Jann secara umum dipakai sebagai nama seluruh spesies ini, yang baik atau yang jahat…. Shaitan secara umum dipakai utk makhluk halus yang pintar. Ifrit adalah Makhluk halus pintar yang lebih hebat; Marid, adalah makhluk halus pintar yang paling hebat.” Banyak jinn terbunuh oleh bintang jatuh (meteor) yang ”dilemparkan pada mereka dari surga.” Jinn bisa memperbanyak spesies mereka dengan bantuan manusia, anak dari kedua spesies ini mengambil bentuk jinn dan manusia. “diantara makhluk halus Jinn dikenal ada lima anak pemimpin mereka, Iblis; anak iblis yang bernama Tir mendatangkan bencana, kehilangan dan penyakit; al- Awar, mendorong timbulnya penyelewengan susila; Sut, mendorong untuk berbohong; Dasim menyebabkan kebencian antara suami istri; dan Zalambur, bertempat tinggal di keramaian. Jinn ada tiga jenis: yang punya sayap dan terbang; berupa ular dan anjing; dan yang ketiga berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain seperti manusia.”
Sudah cukup banyak cerita-cerita yang menunjukkan bahwa sistem Islam sama kaya dan takhyulnya dengan mitologi politeis Yunani, Roma ataupun Norwegia.

Pengkultusan orang-orang suci dalam Islam punya maksud yang sama seperti yang Hume jelaskan yaitu sebagai perantara manusia dan Tuhan. Goldziher[27] menjelaskannya demikian:
Didalam Islam… orang percaya mencoba menciptakan lewat konsep pengkultusan orang suci, perantara dirinya dengan Tuhan untuk memuaskan kebutuhan akan Tuhan dan untuk menggantikan tradisi tua yang telah dikalahkan Islam. Disini diterapkan juga apa yang Karl Hase katakan tentang pengultusan orang-orang suci secara umum: yaitu bahwa “kepuasan akan kebutuhan politeistik di dalam agama monoteistik adalah untuk memperpendek jarak lebar antara manusia dan Tuhan dan itu asalnya datang dari tanah Pantheon Kuno.”

Doktrin Muslim tentang setan ini juga mirip dengan jaman Ditheisme, kepercayaan tentang adanya dua Makhluk Maha Kuasa. Setan disebutkan bernama Azazil dan tercipta dari api. Ketika Tuhan menciptakan Adam dari tanah liat, setan menolak untuk menyembah Adam seperti yang diperintahkan Tuhan hingga dia diusir dari Eden. Pada akhirnya dia nanti akan dihancurkan oleh Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang Maha kuasa. Tapi jika melihat meratanya kejahatan di dunia – perang, hama, penyakit, bencana – orang jadi bertanya-tanya apa bukan setan yang lebih berkuasa? Kenapa setan belum juga dihancurkan masih menjadi teka-teki. Lagipula sepertinya Tuhan tidak konsisten karena menyuruh Setan untuk menyembah Adam padahal Tuhan melarang makhluknya untuk menyembah siapapun selain Tuhan sendiri.

Dalam Quran tidak ada argumen filosofi nyata mengenai keberadaan Tuhan; Quran hanya mengasumsikan saja. Yang paling dekat untuk layak disebut argumen mungkin adalah apa yang disebut sebagai “pertanda”, fenomena-fenomena alam dilihat sebagai “pertanda” kekuatan, keagungan dan karunia Tuhan.

Fenomena yang sering disebut Quran adalah: penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia dan generasinya, kegunaan dan keuntungan yang didapat manusia dari binatang, pergantian siang dan malam, bersinarnya matahari, bulan dan bintang, bertiupnya angin, turunnya hujan dari langit, suburnya tanah kering dan munculnya tumbuhan dari sana, panen dan buah-buahan, gerakan kapal di laut dan kestabilan gunung-gunung. Yang jarang disebut-sebut pertanda Tuhan adalah: bayangan, petir, kilat, besi, api, pendengaran, penglihatan, pengertian dan kebijaksanaan.[28]

Secara filosofi argumen demikian dikenal sebagai argumen yang dibuat-buat atau argumen teleologi (penjelasan suatu fenomena lebih kepada maksud fenomena tersebut ada bukannya alasan penyebab fenomena itu terjadi), seperti juga semua argumen tentang keberadaan Tuhan yang ada hanya karena keinginan para filsuf untuk menyatakan demikian. Semua fenomena yang dikemukakan Muhammad dalam Quran dijelaskan tanpa berasumsi tentang keberadaan Tuhan atau pencipta kosmis ini. Tapi, kembali pada monoteisme, kenapa harus ada satu saja pencipta kosmis? Seperti yang ditanyakan oleh Hume[29]:
Apa yang membayangi sebuah argumen, lanjut Philo, yang kau keluarkan dari Hipotesamu untuk membuktikan keesaan Tuhan? Sejumlah orang bergabung untuk membangun sebuah bangunan atau kapal, membangun kota, membentuk sebuah persatuan: lalu kenapa tidak bisa banyak tuhan bergabung menyusun dan menciptakan sebuah dunia? Banyak kemiripan dengan urusan-urusan manusia. Dengan membagi pekerjaan pada banyak orang, kita bisa membagi sumbangan masing-masing dan menghilangkan kemahatahuan dan kekuasaan yang berlebihan, yang semestinya ada dalam satu Tuhan, dan yang, menurut anda, hanya dapat memperlemah bukti keberadaanNya. Jika makhluk sebodoh dan sekeji manusia bisa bergabung melaksanakan dan membentuk satu rencana, berapa banyak tuhan atau setan, yang kita gabungkan untuk jadi sempurna?

###
Satu sukses besar Muhammad, konon katanya, adalah melenyapkan politeisme di tanah Arab. Tapi ini, saya coba bantah, adalah kesombongan monoteistik. Tidak ada argumen yang tak bisa dibantah dalam monoteisme yang menjadi lawan dari politeisme. Tentu saja, seperti Hume tunjukan, tidak ada hal-hal yang sifatnya tak masuk akal (omong kosong) dalam politeisme. Dan seperti yang diisyaratkan Quran mengenai penciptaan, Hume[30] menunjukkan bahwa semua hipotesis mengenai asal muasal jagat raya juga sama-sama omong kosongnya. Tidak ada pembenaran apapun yg bisa dipakai utk mempercayai bentuk argumen penciptaan:
“kita tidak punya data untuk menetapkan sistem apapun tentang kosmogony. Pengalaman kita, walau begitu tidak sempurna dan begitu terbatas dalam bidang dan waktu, tidak bisa membantu kita menetapkan dugaan yang paling mungkin mengenai segala sesuatu. Tapi jika kita harus membetulkan sebagian hipotesis, dengan aturan apa kita harus menetapkan pilihan kita itu?”

Monoteisme juga dikenal bersifat tidak toleran. Kita tahu Quran mengkhotbahkan kebencian pada semua jenis kepercayaan yang dilabeli “penyembahan berhala” atau “politeisme”. Seperti Dictionary of Islam katakan, penulis Muslim “bersuara bulat dalam pengakuan bahwa tidak ada toleransi bagi orang Arab penyembah berhala jaman sang Nabi. Satu-satunya pilihan bagi mereka adalah masuk Islam atau mati.” Dalam segala jenis monoteisme yang mutlak adalah kepastian dogmatis bahwa agama mereka saja yang punya akses pada Tuhan sejati, agama mereka saja yang punya akses pada kebenaran. Orang lain bukan saja secara malang telah disesatkan tapi juga dikutuk untuk masuk neraka dan dibakar api neraka selamanya. Meminjam perkataan Lewis, “KeKristenan Tradisional dan Islam berbeda dari Yudaisme dan keduanya sama-sama mengaku punya kebenaran yang bukan saja universal tapi juga eksklusif. Masing-masing mengaku sebagai pewaris tunggal dari Wahyu Terakhir Tuhan untuk umat manusia. Tak ada yang mengakui keselamatan diluar agama mereka.”[31]

Schopenhauer[32] meminta kita untuk berkaca pada “bangkitnya kekejaman yang agama --khususnya Islam-- timbulkan” dan “kesengsaraan yang mereka bawa pada dunia.” Pikirkan saja fanatisme, penganiayaan lalu perang agama, gila darah dimana orang- orang jaman dulu sebelumnya tidak punya konsep tentang itu. Ingat satria salib yang dibenarkan membunuh dan itu berlangsung selama 200 tahun, teriakan perang mereka adalah “Ini sudah kehendak Tuhan.” Kekristenan juga sama tidak beda dari Islam dalam tuduhan Schopenhauer:
Objek dari perang Salib adalah merebut kembali kuburan dari “Dia yang mengajarkan cinta, toleransi dan kasih”. Ingat pengusiran dan pembantaian orang Moor dan Yahudi dari Spanyol oleh Mohammedan; banjir darah, inkuisisi dan pengadilan-pengadilan untuk para penghujat; dan juga penaklukan berdarah Mohammedan di tiga kontinen… khususnya jangan lupa India.. dimana para mohammedan pertama kali menyerang pengikut agama asli dan kuil-kuilnya. Penghancuran dan perusakan kuil-kuil kuno menunjukkan pada kita, bahkan sampai saat ini bahwa ada jejak-jejak kemarahan kaum monoteistik dari Mohammedan yang dilakukan mulai dari Mahmud Ghazni hingga ke Aurangzeb.

Schopenhauer membandingkan catatan sejarah damai dari Hindu dan Buddha dengan kekejaman kaum monoteis, dan menyimpulkan:
Tentu saja, ketidak-toleransian merupakan hal yg penting hanya bagi monoteisme; Tuhan yang Esa sudah pasti adalah tuhan yang pencemburu yang tidak akan membiarkan tuhan lain ada. Dilain pihak, tuhan politeistik sudah pasti toleran; tuhan-tuhan lain boleh hidup dan dibiarkan terus hidup. Malah, sejak awal mereka sudah mentoleransi kolega mereka, tuhan-tuhan dari agama yang sama, dan toleransi ini selanjutnya meluas bahkan pada tuhan-tuhan asing yang dengan senang hati juga diterima dan disambut, dalam beberapa kasus bahkan dianggap punyai hak yang sama. Sebuah contoh adalah orang Roma yang dengan senang hati mengakui dan menghormati Phrygian, Mesir dan tuhan-tuhan asing lain. Dengan demikian hanya agama monoteistik yang memberi kita perang agama, penganiayaan religius, pengadilan orang murtad dan pengadilan orang yang mengagungkan simbol-simbol, penghancuran gambar-gambar tuhan asing, penghancuran kuil-kuil india dan Mesir yang telah selama 3000 tahun ada; semua ini karena tuhan pencemburu mereka telah berkata: “Tiada Tuhan selain Tuhanku” dan seterusnya dan seterusnya.

Note: Sayang sekali Schopenhauer dan Hume tak sempat melihat bahwa agama-agama monotheisme selain Islam dapat mereformasi dirinya. Institusi Gereja telah mengakui Perang Salib sebagai bagian dari sejarah kelam Gereja yang telah membelokkan ajaran Kristen yang sejati. Schopenhauer dan Hume juga tidak dapat memilahkan antara kesalahan personal pengikut suatu agama dengan kesalahan doktrinal. Segala bentuk kekerasan atas nama KeKristenan telah lama ditinggalkan yg diakui sebagai kesalahan --baik institusi Gereja maupun individual—yang menyimpangkan ajaran inti Kristen, cinta kasih. Bila Schopenhauer dan Hume masih hidup hingga kini, mereka akan melihat perbedaan antara Yahudi, Kristen dengan Islam di sisi lainnya, bahwa segala macam kekerasan yg dilakukan muslim bukanlah karena kesalahan institusi ataupun personal muslim tapi memang karena kesalahan doktrinal, dan memang bersumber dari ajarannya, agamanya. Selain itu, Schopenhauer dan Hume juga kurang akurat dengan mengatakan bahwa agama-agama politheisme tidak pernah menimbulkan peperangan sebagaimana agama-agama monotheisme. Hinduisme dan berbagai sekte-sektenya serta agama-agama politheis lokal di Asia Tengah pernah mengalami masa-masa konflik juga seperti halnya agama-agama monotheis lainnya. Dan harus diingat pula bahwa sejarah juga mencatat bahwa agama-agama monotheisme terutama Yahudi dan Kristen pernah mengalami masa-masa penganiayaan berat dari agama-agama politheisme, seperti kisah Sadrakh-Abednego pada Perjanjian Lama, dan kisah-kisah jemaat Kristen mula-mula (komunitas Kristen awal) yang dibantai oleh para pemeluk politheis di bawah kekaisaran Romawi.
Namun, by the way, harus diakui secara fair bahwa Schopenhauer dan Hume sebagian besar benar pada konteks jamannya. Note ini hanya menyampaikan update perkembangan agama-agama monotheisme dalam konteks kekinian. –admin.

Hampir seratus tahun sebelum Schopenhauer menulis, Hume[33] dengan kejeniusannya telah melihat keuntungan/keunggulan dari politeisme:
Penyembahan berhala mengandung keuntungan yang jelas bahwa dengan membatasi kekuasaan dan fungsi masing-masing dewa juga bisa mengakui dewa-dewa dari sekte dan bangsa lain untuk berbagi kedewaannya dan menyetarakan semua dewa-dewa lain, juga ritual- ritual, upacara-upacara atau tradisi-tradisi, hingga cocok satu sama lain… Sementara bagi monoteistik pemujaan dewa/tuhan lain dianggap sebagai tidak masuk akal dan tidak beriman. Keesaan dari objek ini sepertinya secara alami pula butuh kesatuan dalam hal iman dan upacaranya, dan menciptakan manusia-manusia yang dianggap para pengikut mereka sebagai manusia yang najis/kotor, dan subjek dari pemujaan sekaligus juga menjadi pembalasan. Karena setiap sekte merasa pasti bahwa iman dan penyembahan merekalah yg sepenuhnya diterima oleh sang tuhan mereka dan tak seorangpun bisa mengatakan bahwa yang maha esa menerima dan senang mendapatkan ritual dan prinsip-prinsip yang berbeda dengan ajaran mereka; beberapa sekte secara alami masuk kedalam permusuhan dan saling serang dengan penuh semangat dan dendam keramat, nafsu yang paling parah dan keras kepala dari umat manusia.

Semangat toleran dari para penyembah berhala baik jaman dulu maupun jaman sekarang sangat jelas bagi tiap orang yang setidaknya akrab dengan tulisan-tulisan sejarawan atau para pengelana… ketidak toleransian yang ada dihampir semua agama yang dipertahankan karena keesaan tuhan, sama mencengangkannya seperti prinsip-prinsip politeistik itu sendiri. Semangat sempit dan keras kepala dari orang Yahudi sudah sangat dikenal. Mohammedan malah memunculkan prinsip-prinsip yang lebih berdarah lagi, sampai detik ini, mereka masih bergelut dengan kutukan dan api neraka bagi ajaran-ajaran maupun sekte-sekte lainnya.

Professor Watt, dalam 2 volume Biografi Muhammad yang penting dan sangat berpengaruh, telah menampilkan sebuah penafsiran akan kebangkitan Muhammad dan pesan-pesannya yang sampai sekarang masih diterima oleh banyak scholar (akademisi), meskipun skeptis, seperti Bousquet dan yang belum lama ini yaitu Crone. Seluruh tulisan Watt, tak heran, diserap dengan asumsi bahwa monoteisme yang dikobarkan Muhammad lebih superior dari politeisme yang ada di Arab Tengah saat itu. Watt berpendapat bahwa kesuksesan pesan-pesan Muhammad bergantung pada fakta bahwa pesannya merespon kebutuhan spiritual yang dalam pada diri orang-orang. Mekah saat itu, yang menderita malaise/penyakit sosial – bahkan bisa disebut krisis spiritual – yang tidak menemukan jawaban pada dewa-dewi dan kultus- kultus lokal. Orang-orang mekah terbenam dalam kemerosotan moral dan penyembahan berhala sampai Muhammad datang dan mengangkat mereka ke tingkat moral dan spiritual yang lebih tinggi. Itulah argumennya Watt. Tapi seperti Crone dan Bousquet tunjukkan sangat sedikit sekali bukti-bukti akan adanya malaise sosial di Mekah. Crone[34] membantah sebagai berikut:

Faktanya adalah bahwa tradisi yang ada di Mekah bukanlah malaise/penyakit, baik itu penyakit moral, religius, sosial maupun politik. Malah sebaliknya orang-orang mekah dijelaskan sebagai orang-orang sukses yang sangat terkenal; dan pendapat Watt bahwa sukses mereka berujung pada kesinisan muncul dari upaya-upaya utk melihat sejarah Islam hanya lewat kacamata orang muslim. Alasan kenapa orang mekah dianggap bangkrut secara moral dimata muslim, lewat sumber-sumber muslim pula, bukanlah karena cara hidup tradisional mereka sudah dipatahkan, tapi justru karena cara hidup mereka berfungsi terlalu baik: Orang mekah lebih suka cara hidup tradisional dibandingkan dengan cara islam. Karena alasan-alasan inilah mereka didakwa demikian (jahiliyah) oleh orang-orang muslim; dan semakin mengabdi seseorang pada cara hidupnya, semakin sinis, amoral atau munafik ia kedengarannya bagi muslim: Abu Sufyan (seorang pemimpin aristokrat di Mekah yang menentang Muhammad) tidak akan bisa bersumpah dalam nama dewa-dewi pagannya tanpa membuat para pembaca merasa tidak suka padanya, karena pembaca berpikiran orang yang bersumpah demi tuhan palsu adalah orang yang tidak percaya apapun, jadi sumpahnya dianggap palsu pula. Sedangkan utk krisis spiritual, tidak terlihat ada hal demikian di arab abad ke-6.

Lalu bagaimana menjelaskan terjadinya orang masuk Islam secara besar-besaran di Arab? Seperti yang kita lihat di Bab 2, masyarakat sana diorganisir secara kesukuan dan tiap masyarakat punya dewa utama mereka masing-masing yang disembah dengan harapan akan menolong suku mereka dengan praktis, seperti menurunkan hujan, memberi kesuburan, menghilangkan penyakit. Umumnya adalah untuk melindungi mereka dari elemen-elemen jahat. Tuhan-tuhan (dewa-dewi) kesukuan ini tidak mewujud ke dalam “Kebenaran mutakhir tentang sifat dan arti hidup,” tidak juga “secara mendalam berakar dalam hidup keseharian”. Oleh karenanya mereka mudah saja mengganti satu tuhan dengan yang lain karena tidak perlu mengubah pula kelakuan atau penampilan. Lebih jauh lagi, tuhannya muslim “mengesahkan dan menghormati karakteristik kesukuan yang fundamental seperti kebanggaan akan etnis dan militansi.” Tuhannya Muslim menawarkan sesuatu yang lebih daripada dewa-dewi mereka: Dia menawarkan “sebuah program formasi negara Arab dan penaklukan-penaklukan negara lain: penciptaan Ummat dan dimulainya Jihad (perang terhadap orang kafir, non muslim).” “Kesuksesan Muhammad jelas punya andil dengan fakta bahwa dia mengkhotbahkan formasi baru tentang negara dan penaklukannya: tanpa penaklukan ini, pertama penaklukan di arab sendiri lalu ke suku- suku/negara-negara lain, penyatuan Arabia tidaklah akan tercapai.”

Tentu saja begitu Muhammad terbukti sukses di Medina, pengikutnya jadi bertambah, sadar bahwa mereka pikir terbukti Auwloh sungguh-sungguh besar dan pasti lebih besar dari dewa-dewi mereka sebelumnya: Tuhan yang benar adalah Tuhan yang sukses, yang palsu yang tidak sukses. Para scholar seperti Becker telah berargumen bahwa Arab didorong kepada penaklukan-penaklukan tersebut dengan perlahan-lahan dan menyedot hingga kering sumber-sumber Arabia, tapi seperti yang Crone nyatakan:
Kita tidak perlu membuat dalil kemunduran apapun dalam lingkungan Arabia utk menjelaskan kenapa mereka menemukan kebijakan penaklukan yang sesuai dengan selera mereka. Setelah mulai menaklukan suku-suku ditanah mereka sendiri, baik mereka maupun para pemimpin mereka sulit untuk berhenti dalam mendapatkan tanah yang subur: lagipula, dimana mereka bisa menemukan sumber- sumber yang mereka perlukan dan berfaedah bagi mereka untuk melanjutkan penaklukan disitu mereka harus terus menaklukan lagi dan lagi. Tuhannya Muhammad mengesahkan kebijakan penaklukan, memerintahkan pengikutnya untuk memerangi orang-orang tidak percaya dimanapun mereka ditemukan… PENDEKNYA, MUHAMMAD HARUS MENAKLUKAN, PENGIKUTNYA SUKA MENAKLUKAN, DAN TUHANNYA BILANG: TAKLUKAN! Apa perlu penjelasan lebih lanjut lagi?

Tapi perang suci bukanlah topeng untuk kepentingan materi; sebaliknya adalah sebuah proklamasi terbuka dari mereka. “Tuhan berkata…. ‘hamba-hamba setiaku akan mewarisi dunia’; sekarang inilah warisanmu dan apa yang Tuhan janjikan padamu…” Tentara Arab disemangati ketika akan berperang di Qadisiyya, menuju ke Irak: “Jika kalian bisa bertahan… maka harta mereka, perempuan mereka, anak- anak mereka dan negara mereka akan jadi milikmu.” Tuhan malah lebih eksplisit lagi. Dia bilang pada orang Arab bahwa mereka punya hak utk merampok perempuan, anak dan tanah serta harta orang lain, mereka malah wajib melakukan itu: perang suci melulu terdiri dari kepatuhan. Tuhannya muhammad dg demikian mengangkat militansi dan kesukaan merampok yang mulanya bersifat kesukuan menjadi ‘kebaikan’ religius maha tinggi.

Sebagai rangkuman, bukannya menjawab keraguan spiritual dan pertanyaan-pertanyaan kesukuan (yang pastinya tidak ada krisis spritual di Arab saat pra-Islam), Muhammad malah menciptakan, menawarkan dan melegalkan kepada orang Arab apa yang sudah biasa mereka lakukan: sebut saja, penaklukan militer dengan segala keuntungan materinya, perampokan, penjarahan, perempuan dan tanah. Auwloh lebih suka berubah menjadi tuhan lama hanya karena Dia tidak mau mengecewakan tuhan-tuhan (dewa-dewi arab) lama itu, Dia memberi harta rampasan saat itu juga. Auwloh tentunya tidak lebih suka pada tuhan-tuhan yang beralasan metafisika; orang-orang Arab tidak mendadak harus belajar memakai Occam Razor (istilah prinsip sains yang berarti bahwa dalam menjelaskan segala sesuatu tidak perlu banyak-banyak asumsi melebihi yang diperlukan, cukup yang sederhana saja). “Pastinya”, kata Crone, “melihat tingkah lakunya sebagian besar Arab bisa dikatakan masih tetap menjadi penyembah berhala di abad 19 ini”.

Pada awal 1909, Dr. Margoliouth[35] telah mengantisipasi tesisnya Watt dan menganggapnya kurang. Yang juga penting dalam karya Margoliouth adalah bahwa dia menyangkal Islam telah mengangkat moral para mualaf ke arah yang lebih tinggi: “Tidak ada bukti bahwa para muslim baik secara pribadi ataupun umum moralnya lebih baik dibanding orang pagan.” Malah sebaliknya yang terjadi: Ketika Muhammad menjadi pemimpin komunitas perampok, pengaruh demoralisasi mulai terasa, saat itu orang yang asalnya tidak pernah melanggar sumpah belajar bahwa mereka bisa menghindari kewajiban mereka dan bahwa mengucurkan darah orang sesuku sebelumnya dianggap sama seperti mengucurkan darah sendiri telah dibolehkan jika dilakukan dijalan Auwloh; dan bahwa berbohong serta menipu dijalan Islam boleh dilakukan karena sudah mendapat ijin dari surgawi, keraguan untuk melakukan semua itu malah dianggap sebagai sebuah kelemahan. Saat itu pula para muslim menjadi terkenal lewat kekasaran bahasa mereka. Saat itu pula sifat iri hati akan harta dan istri (milik orang-orang kafir) muncul tanpa larangan dari sang Nabi.

Monoteisme dikritik karena menekan kebebasan manusia. Banyak scholar berargumen hal itu akan berujung pada totaliterianisme; lebih banyak lagi filsuf modern melihat politeisme sebagai sumber yang mungkin atas pluralisme, kreativitas dan kebebasan manusia. Para feminis juga mengkritik Tuhannya Monoteisme sebagai Chauvinis yang tidak sudi untuk berubah dan sangat tidak sensitif akan ‘feminitas’.

-------------------
[14] Noldeke dalam Encyclopaedia Britannica, edisi sebelas, vol.15, hal 898-906
[15] Dashti, Ali. Twenty-Three Years: A Study of the Prophetic Career of Mohammed. London, 1985, hal 49-50
[16] Bell, R., and W.M. Watt. Introduction to the Quran. Edinburgh, 1977, hal 93
[17] Dikutip dalam Rippin, A. Muslims: Their Religious Beliefs and Practices. Vol.1. London, 1991. hal.26
[18] Bell, R., and W.M. Watt. Introduction to the Quran. Edinburgh, 1977, hal 94-95
[19] Dashti, Ali. Twenty-Three Years: A Study of the Prophetic Career of Mohammed. London, 1985, hal 98
[20] Dictionary of Islam. Quran, hal 520
[21] Margoliouth, D.S. Mohammed and the Rise of Islam. London, 1905. hal 139
[22] Dashti, Ali. Twenty-Three Years: A Study of the Prophetic Career of Mohammed. London, 1985, hal 155
[23] Gore Vidal dalam New Statesman Society, 26 Juni 1992, hal 12
[24] Artikel Politeisme dalam Enxyclopaedia of Religion
[25] Hume, David. The Natural History of Religion. Oxford, 1976. hal 56.
[26] Dictionary of Islam, Genii, hal.134
[27] Goldziher, Ignaz. Muslim Studies. 2 vol. terjemahan C.R. Barber dan S.M. Stern. London, 1967-71. hal.259
[28] Bell, R., and W.M. Watt. Introduction to the Quran. Edinburgh, 1977, hal 122
[29] Hume, David. Dialogues Concerning Natural Religion. Oxford, 1976. hal.192-193, part 5
[30] Ibid., hal.203, Part 7.
[31] Lewis, Bernard. Race and Slavery in the Middle East. New York, 1990. hal.175
[32] Schopenhauer, Arthur. Parerga and Paralipomena. 2 vols. Terjemahan dari E.F.J. Payne. Oxford, 1974. vol.2, hal.356-59
[33] Hume, David. [1] The Natural History of Religion. Oxford, 1976. hal.59
[34] Crone, P. Meccan Trade and the Rise of Islam. Oxford, 1987. hal. 234-45
[35] Margoliouth, D.S. Mohammed and the Rise of Islam. London, 1905. hal.149

Konsep Muslim tentang Tuhan
Kemahakuasaan Tuhan disebutkan dibanyak ayat Quran; Kehendak manusia total ditempatkan dibawah kehendak Tuhan yang berkembang menjadi pemikiran bahwa manusia tidak punya kehendak sendiri. Bahkan mereka yang tidak percaya Tuhanpun menjadi begitu karena Tuhanlah yang ingin membuat mereka tidak percaya. Ini berujung pada doktrin takdir dari Muslim yang mengalahkan doktrin ‘free will’-nya manusia, dalam konsep Kristen. Dalam Quran juga ditemukan, seperti Macdonald [36] nyatakan:
“Pernyataan-pernyataan kontradiksi dari Quran mengenai ‘free-will’ (Kehendak Bebas) dan Takdir menunjukkan bahwa Muhammad adalah seorang pengkhotbah dan politisi oportunis, bukannya seorang teolog yang sistematis.” “Takdir, atau kehendak mutlak akan baik dan jahat adalah pilar ke-6 dari dalilnya Muhammad, dan kaum ortodoks percaya apapun itu, apapun yang terjadi didunia ini, baik atau buruk, berlangsung sepenuhnya atas kehendak Yang Maha Kuasa, itu telah pasti, tidak bisa diubah-ubah lagi, dan tercatat dalam ‘buku’ surga yang ditulis memakai tinta nasib.”

Beberapa kutipan dari Quran menggambarkan doktrin ini:
[54.49] Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
[3.145] Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Auwloh, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.
[87.2] yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), [87.3] dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
[8.17] Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Auwloh-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Auwloh-lah yang melempar.
[9.51] Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Auwloh bagi kami.
[13.31] Sebenarnya segala itu adalah kepunyaan Auwloh. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Auwloh menghendaki (semua manusia beriman), tentu Auwloh memberi petunjuk kepada manusia semuanya.
[14.4] Maka Auwloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
[18.101] yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.
[11.119] Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Auwloh menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.
[45.26] Katakanlah: "Auwloh-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya;
[57.22] Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya.
Tapi ada beberapa ayat dari Quran yang kelihatannya memberi manusia semacam ‘free-will’:
[41.17] Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.
[18.29] Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".

Tapi seperti Wensinck[37] nyatakan dalam karya klasiknya The Muslim Creed, dalam Islam takdirlah yang mendominasi sepenuhnya. Tidak ada satu hadispun yang menerangkan mengenai ‘free-will’, dan kita punya bukti-bukti lain dari pernyataan John of Damascus, orang yang hidup dipertengahan abad 8 M. dan seorang yang sangat mengenal Islam dari dekat secara langsung. “Menurut dia perbedaan tentang takdir dan free will menjadi satu Titik Pusat perbedaan antara Kristen dan islam.” Terbukti di penghujung hidup Muhammad, posisinya akan kepercayaan takdir itu makin menguat; dan “sikap para muslim awal akan subjek ini adalah mutlak.”

Sebelum berkomentar tentang doktrin takdir, saya harus menelaah dulu konsep Quran akan neraka. Beberapa kata dipakai dalam Quran untuk menerangkan tempat Penyiksaan, yang sepertinya dengan senang hati telah disiapkan dan selalu disebut-sebut oleh Auwloh. Kata “Jahanam” muncul sedikitnya 30 kali, jahanam ini adalah neraka bagi semua muslim untuk menyucikan dosanya. Menurut Quran, semua muslim akan masuk neraka: (surah 19.71) “Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” Kata “al-nar” yang artinya api muncul beberapa kali. Istilah lain dari neraka atau api neraka adalah: Laza (nyala api): [88.4] “memasuki api yang sangat panas (neraka)” Al-Hutamah (penghancur) : [104.4] “sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Auwloh yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.” Sair (nyala api) : Mereka yang mengambil harta milik anak yatim secara tidak adil, akan dimasukkan kedalam nyala api dan dipanggang dalam nyala api. (ancaman melanggar hukum waris 4.11) Saqar: [54.47] “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.” Al-Jahim (tempat Panas) dan Hawiyah juga muncul di surah 2 dan 101. Muhammad benar-benar meliarkan imajinasi terbatasnya ketika menjelaskan hal mengerikan dan siksaan neraka secara terperinci: air mendidih, luka bernanah, kulit yang dikupas, daging terbakar, isi perut yang terhambur dan tengkorak yang dihancurkan memakai gada besi. Dan ayat demi ayat, surah demi surah, kita diberitahu tentang api, selalu tentang api yang menyala-nyala membakar, api abadi. Dari surah 9.69 jelas bahwa orang-orang tidak percaya (kafir) akan dipanggang selama-lamanya.

Apa yang bisa kita simpulkan dari nilai-nilai sistem demikian? Mill[38] menyatakan, suatu hal yang sungguh-sungguh jijik dan jahat untuk berpikiran bahwa Tuhan sengaja menciptakan manusia utk mengisi neraka, manusia yang dalam hal apapun tidak bisa dianggap bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya karena Tuhan sendiri yang memilihkan jalan bagi mereka untuk sesat: “diakuinya sebuah objek penyembahan sebagai sebuah pencipta neraka, yang membuat banyak generasi-generasi manusia hidup dengan kepastian bahwa mereka diciptakan untuk mengisi neraka… Konsep-konsep lain, mulai dari maha adil dan maha pengampun yang ada dalam konsep KeKristenan tentang moral Tuhan menjadi tak berarti jika disandingkan dengan idealisasi jahat ini.” Tentu saja, kata-kata Mill ini menerapkan pengubahan dalam konsep muslim juga atau pada tuhan mana saja yang berkonsepkan takdir yang sama.

Kita tidak bisa menyebut sistem demikian sebagai sebuah sistem yang etis. Pusat dari semua sistem valid yang etis adalah adanya tanggung jawab moral, moral yang bisa secara sah dianggap bertanggung jawab akan tindakan-tindakannya; yang mampu berpikir rasional, yang mampu mempertimbangkan, menunjukkan kesengajaan, mampu memilih dan, dalam beberapa hal, bebas untuk memilih. Dalam sistem takdirnya Quran, “manusia” tidak lebih dari sebuah robot yang diciptakan oleh Tuhan, Tuhan, yang punya sifat tak bisa ditebak tindakannya karena berubah-ubah, memuaskan dirinya dengan menonton ciptaannya dibakar di neraka. Kita tidak bisa disalahkan atau dibenarkan begitu saja dalam sistem Quran ini; manusia tidak bertanggung jawab atas tindakantindakannya, dengan demikian akan sangat absurd untuk menghukum dengan cara sadis seperti yang disebutkan dalam surah-surah Quran.

Bousquet[39] memulai karya klasiknya, yang menuliskan pendapat islam mengenai sex, dengan pernyataan blak-blakan: “Tidak ada etika dalam Islam.” Muslim diperintahkan begitu saja untuk patuh akan kehendak Auwloh, kehendak yang tak dapat diduga: Baik dan Jahat ditentukan oleh Quran, dan kemudian, hukum Islam menetapkan apa yang boleh dan apa yang dilarang. Pertanyaan yang diajukan Socrates dalam Euthyphro, “Yang suci itu lalu dicintai Tuhan karena kesuciannya, atau menjadi suci karena dicintai oleh Tuhan?” menerima jawaban yang sangat pasti dari muslim ortodoks: “sesuatu itu baik jika Tuhan menghendakinya sebagai baik.” Tapi Plato menganggap ini bukan jawaban yang memuaskan. Mackie[40] menyatakannya demikian (n.d., hal 256): “Jika nilai-nilai moral dibentuk sepenuhnya oleh perintah-perintah surgawi hingga kebaikan hanya terdiri atas kehendak Tuhan belaka, maka kita tidak akan bisa mengerti klaim para Teisme bahwa Tuhan itu baik, bahwa dia mencari kebaikan dalam setiap penciptaannya.” Dalam karya awalnya (1977, hal 230), Mackie[41] mengamati bahwa pendapat muslim punya konsekwensinya:

Deskripsi tentang ‘Tuhan itu Baik’ akan mengalami penurunan terhadap pernyataan sepele yang menyatakan bahwa Tuhan mencintai DiriNya sendiri atau Tuhan suka Dirinya apa adaNya. Ini juga rasanya seperti menuntut bahwa kepatuhan akan aturan-aturan moral semata-mata hanya berupa tindakan untuk berhati-hati belaka meski cocok terhadap tuntutan sewenang-wenang dari tiran yang berubah-ubah pikiran itu. Sadar akan ini banyak pemikir religius memilih alternatif pertama (yakni “orang saleh atau suci dicintai tuhan karena kesuciannyab”). Tapi ini juga mengandung konsekwensi yang sama bahwa perbedaan moral tidaklah tergantung pada Tuhan,… dengan demikian etika itu bersifat otonomi dan dapat dipelajari serta didiskusikan tanpa mengacu pada referensi kepercayaan religius, bahwa kita bisa sungguh-sungguh menutup batas teologi dari etika.

Layak untuk ditegaskan kemandirian logis nilai-nilai moral dari sistem teistik manapun. Russel[42] memformulasikan pendapat ini sebagai berikut: Jika anda yakin ada perbedaan antara benar dan salah, maka anda ada dalam situasi ini: apakah perbedaan itu disebabkan oleh otorisasi Tuhan atau bukan? Jika ya, maka bagi Tuhan sendiri tidak ada perbedaan antara benar dan salah, dan tidak lagi berarti menyatakan bahwa Tuhan itu Baik. Jika anda mengatakan, seperti para teolog lakukan, bahwa Tuhan itu Baik, maka anda harus mengatakan bahwa benar dan salah punya arti yang mandiri/terbebas dari otorisasi Tuhan, karena otorisasi Tuhan adalah baik dan bukan jelek karena semata- mata Tuhan yang menciptakannya. Jika anda bilang demikian, maka anda harus berkata bahwa bukan hanya melalui tuhan, benar dan salah itu mewujud tapi karena semua itu secara logis ada dalam intisari yang lebih dahulu ada pada Tuhan. (n.d., hal 19).

Kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab moral kita yang dihasilkan dari pengertian akan ketidak tergantungan moral kita tersebut. Tidak juga kita bisa menghormati konsep neraka sebagai hal yang terpuji secara etika. Semuanya kecuali dua surah (fatihah dan surah 9) memberitahu kita bahwa Tuhan itu pemurah dan penyayang, tapi dapatkah Tuhan yang sungguh-sungguh pemurah memasukan orang ke neraka atau disiksa selamanya hanya karena tidak percaya padaNya? Seperti kata Russel, “Sungguh saya tidak bisa berpikir bahwa seseorang yang bersifat Maha Baik akan menaruh rasa takut dan teror macam itu pada dunia.”

Antony Flew[43] berkata bahwa ada banyak sekali perbedaan antara ‘ketersinggungan terbatas’ dan ‘hukuman tak terbatas’. Doktrin Quran akan neraka sungguh-sungguh siksaan barbar dan kejam, sangsi yg benar-benar sadis. Ini berarti Islam didasarkan atas rasa takut, yang merusak moralitas sejati. ("Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". Dengan kata lain Takutlah kepadaKu, Surah 16.2). Seperti kata Gibb, “Orang harus hidup terus menerus dalam rasa takut dan terpesona pada Tuhan, selalu berjaga-jaga dan waspada terhadapNya – ini adalah arti idiomatis dari istilah “takut akan Tuhan” yang terus didengungkan Quran dari halaman pertama hingga akhir” (1953, hal.3#).[44] Bukannya bertindak berdasarkan kewajiban bagi sesama manusia, atau berdasarkan kemurahan hati atau perasaan empati dan/atau simpati, dalam Islam kita berbuat karena rasa takut, kita berbuat agar terhindar dari hukuman Yang Maha Kuasa dan, egoisnya, utk mendapat pahala dari Tuhan dalam hidup yang sekarang dan yang berikutnya. Mackie[45] (hal.256) berpendapat dengan tepat bahwa:

Pendapat akan perintah Tuhan demikian juga bisa mendorong orang untuk menerima syarat moral yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tujuan keberadaan umat manusia atau dengan makhluk- makhluk lainnya. Pendapat ini akan menghasilkan sebuah moralitas tirani dan tidak rasional. Tentu saja, jika hanya ada tuhan yang penuh kebaikan dan juga ada wahyu yang dapat diandalkan darinya, maka kita mungkin mampu mendapatkan darinya saran-saran moral yang hebat mengenai masalah-masalah yang sulit, hal-hal yang tidak bisa kita temukan solusi paling baiknya. Tapi tidak ada wahyu-wahyu yang demikian itu. Bahkan seorang Teisme harus mengakui bahwa wahyu- wahyu itu menolak dirinya (wahyu) itu sendiri dengan mengabadikan aturan-turan bahwa kita harus menolak dengan tuduhan sempit, kuno atau barbar. Seperti Hans Kung katakan, “Kita bertanggung jawab atas moralitas kita.” Secara lebih umum, mengaitkan moralitas pada kepercayaan religius besar kemungkinan akan menjatuhkan nilai- nilainya, bukan saja dengan merendahkan nilai-nilai itu secara sementara jika kepercayaannya memudar, tapi juga dengan menempatkannya lebih rendah dibanding kekhawatiran- kekhawatiran lain ketika kepercayaan itu bertahan.

Kelemahan Tuhan
Kita diberitahu bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Hadir dan Maha Baik; tapi Dia bertingkah seperti seorang tiran pemarah, tak mampu mengontrol sifat keras kepala akan subjeknya. Dia pemarah, berbangga diri, pencemburu: semua kekurangan/kelemahan moral herannya ada dalam makhluk Maha Sempurna. Jika Dia Merasa Cukup, kenapa butuh umat manusia? Jika dia itu Maha Kuasa, kenapa butuh pertolongan manusia utk menyembahnya? Diatas itu semua, kenapa Dia memilih seorang pedagang Arab yang tak jelas keturunannya, yang hidup dalam budaya terbelakang, sebagai Utusan Terakhirnya di bumi? Apakah konsisten bahwa moral Dzat Maha Tinggi butuh untuk dipuji dan penyembahan dari makhluk-makhluk yang Dia sendiri ciptakan? Kita sebut apa orang yang mencipta makhluk lain yang dia program untuk nungging-nungging ditanah lima kali sehari menyembah dirinya? Hasrat obsesif untuk disembah ini bukanlah sebuah kebaikan moral dan pastinya tidak pantas menjadi sifat sebuah Dzat Maha Tinggi. Palgrave[46] (Dictionary Of Islam, hal 147) memberikan penjelasan yang hidup tapi adil tentang Tuhannya Quran:
Tuhan itu satu dan Maha Kuasa serta Maha Ada, tidak batasan aturan, standar atau batasan apapun, kecuali kehendak Dia yang mutlak dan satu-satunya. Dia tidak mengkomunikasikan apapun pada makhlukNya, karena kuasa dan tindakannya punya Dia sendiri, dan sebaliknya Dia tidak menerima apapun dari mereka; karena mereka ada dalam Dia, oleh Dia dan dari Dia saja (Surah 8.17) Dan yang kedua, tidak ada superioritas, tidak ada perbedaan, tidak ada keunggulan yang boleh diakui oleh satu makhluk atas makhluk lainnya, dalam kesamaan, mereka semua menjadi alat dari satu kekuatan yang memakai mereka untuk menghancurkan atau menguntungkan, untuk kebenaran atau kesalahan, utk menghargai atau menghina, untuk kebahagiaan atau kesengsaraan, mandiri dari individualitas atau keuntungan dan ini semua ada hanya karena dia “Menghendakinya,” dan “sepanjang dia Menghendaki”.

Orang mungkin pertamanya berpikir bahwa Otokrat maha hebat ini, Kekuatan tanpa kontrol dan simpati ini, akan jauh berada diatas hal- hal seperti nafsu, hasrat atau keberpihakan. Tapi ternyata tidak begitu karena Dia punya satu perasaan dan tindakan utama yang bernama rasa cemburu akan tuhan, Ia takut jangan-jangan mereka nanti menerapkan sifat-sifat yang harusnya hanya milik Dia saja pada tuhan lain. Dengan demikian lebih mudah bagi dia untuk menghukum daripada memberi pahala, utk memberi rasa sakit daripada rasa nikmat, untuk merusak daripada membangun. Kepuasan tunggal yang membiarkan makhluk ciptaannya terus menerus merasa bahwa mereka tidak lain hanya budak-budakNya, alat-alatNya hingga mereka lebih mengakui superioritasNya, dan tahu KekuasaanNya jauh diatas kekuatan mereka yang lain, kelicikanNya jauh diatas kelicikan mereka, KehendakNya ada diatas kehendak mereka, rasa banggaNya diatas rasa bangga mereka; dengan kata lain tidak ada Kekuasaan; kelicikan, kehendak atau kebanggaan, kecuali milikNya. (Untuk kebanggaan lihat surah 59; Auwloh sebaik-baik pembalas tipu daya, 3.47; 8.30).

“Tapi Dia Sendiri, didalam ketinggianNya, tidak mencinta ataupun menikmati apapun kecuali milikNya, tak mempunyai anak, sahabat atau penasehat, tidak lebih kering daripada makhlukNya, dan kegersangan serta kesendirian ego dalam diriNya adalah penyebab dan pengatur dari keberbedaanNya tanpa memandang kelaliman sekitarnya.” Nada awal adalah kunci keseluruhan lagu, dan nada awal Tuhan mengalir dan mengubah keseluruhan sistem dan dalil yang berpusat dalam diriNya.

Gagasan yang diberikan tentang Tuhan, mungkin kedengaran dahsyat atau bisa jadi menghujat, adalah persis dan klop dengan yang Quran nyatakan atau yang Quran ingin sampaikan. Tapi memang demikianlah adanya hingga tak seorangpun yang secara teliti dan penuh perhatian membaca serta memikirkan teks-teks arabicnya dapat ragu. Malah setiap frase dari kalimat-kalimat, setiap sentuhan dalam gambaran- gambaran menjijikan, telah disarikan dengan sepenuh kemampuan saya, kata demi kata, arti demi arti, dari “Sang Kitab”, cermin sejati dari benak dan pendapat penulisnya.

Dan begitulah kenyataan yang ada dalam benak dan ide penulisnya, Muhammad, hal ini sepenuhnya dipastikan oleh lidah para saksi yang menyatakan hadis-hadisnya. Untuk ini kita punya banyak contoh otentik.. sebuah perulangan yang telah saya derita berkali-kali dalam mempelajari Wahhabi di Nejd.

“Jadi, ketika Tuhan…memutuskan untuk menciptakan ras manusia, Dia mengambil segenggam tanah, darimana semua manusia dibentuk, dan kemana mereka pergi setelah musnah; lalu membagi gumpalan tanah itu menjadi dua bagian yang sama, dia lempar yang sebagian keneraka sambil berkata, “Ini utk api neraka abadi, dan aku tak peduli’, dan merangcang yang sebagian lagi untuk penambahan penghuni surga, ‘dan ini untuk surga, aku juga tak peduli’” (Mishkatu’l- Masabih Babu’l Qadr).

Dari sini kita mendapatkan ide takdir (predestination) yang cukup, atau yang lebih tepat dinamai kutukan (predamnation) bukannya takdir, yang dipegang dan diajarkan disekolah (pesantren) Quran. Surga dan neraka sama sekali terlepas dari rasa cinta dan kebencian Tuhan, bebas dari jasa atau cela, tindakan baik dan jahat, dari makhluknya; dan dalam teori yang berkaitan karena tindakan-tindakan yang kita sebut baik atau jahat, benar atau salah, licik atau luhur, pada hakekatnya semua adalah satu, juga jasa ataupun pujian ataupun kesalahan, hukuman ataupun pahala, diputuskan oleh kehendak sang maha lalim yang memilih, mengangkat atau menjatuhan semua itu. Dengan kata lain, Dia bisa membakar satu individu sepanjang masa dirantai panas dan lautan api membara, sementara menempatkan individu lain dalam kenikmatan abadi dari rumah pelacuran dengan 72 bidadari. Semuanya itu dianggapnya adil dan sama rata demi kenikmatanNya semata dan yang terutama adalah karena Dia menghendakinya. Manusia dengan demikian berada dalam satu level yang sama, di dunia sekarang maupun berikutnya, secara fisik, sosial dan moral – yaitu level budak/hamba bagi satu Tuan saja, alat bagi satu agen universal.

Dan Muhammad UtusanNya
Setiap agama dan bangsa menetapkan pengakuan telah membawa misi khusus dari Tuhan, mengkomunikasikannya pada individu-individu tertentu. Yahudi punya Musa; Kristen punya Yesus Kristus, para rasul dan orang-orang sucinya; dan orang Arab punya Muhammad, seakan jalan pada Tuhan tidak terbuka sama bagi setiap orang. Masing-masing membawa kitabnya sendiri-sendiri, yang mereka sebut sebagai wahyu, atau perkataan Tuhan. Orang Yahudi bilang wahyu Tuhan mereka diberikan pada Musa, secara langsung, muka bertemu muka (bukan fice to fice tapi face to face); orang Kristen bilang Wahyu mereka berasal dari tulisan yang diilhami Tuhan; dan orang Arab bilang wahyu mereka (Quran) adalah perkataan Tuhan langsung yang dibawa oleh Malaikat surga. Masing-masing menuduh yang lain ‘kafir/orang tidak percaya’; bagi aku sendiri, aku tidak percaya semuanya. - Thomas Paine, The Age of Reason.[47]

Auwloh memilih Muhammad sebagai utusan bagi seluruh umat manusia. Muhammad berbicara pada malaikat Jibril, yang secara berkala menurunkan pesan-pesan Tuhan. Bagaimana Muhammad bisa tahu bahwa dia benar-benar melihat malaikat? Darimana dia tahu pengalaman khusus ini adalah perwujudan dari malaikat? Meski misalnya kita akui kejujuran Muhammad, bukankah bisa saja dia telah salah duga? Kebanyakan orang yang mengaku punya akses pada Tuhan dijaman sekarang ini dianggap orang gila. Darimana kita tahu bahwa dalam kasus Muhammad ini dia benar-benar melihat malaikat sungguhan yang benar-benar membawa pesan-pesan dari tuhan? Seperti Paine[48] katakan (n.d., hal 52):

Tapi misalkan kita akui dulu bahwa sesuatu telah diberikan pada orang tertentu dan tidak diberikan pada orang-orang lain, sesuatu itu wahyu dan diberikan hanya pada orang itu saja. Ketika dia mengatakannya pada orang kedua, orang kedua mengatakan pada orang ketiga, ketiga ke orang keempat dan seterusnya, maka sesuatu itu bukan lagi menjadi wahyu bagi semua orang itu. Sesuatu itu berupa wahyu bagi orang pertama saja, dan menjadi cerita belaka bagi orang-orang lainnya, dan karenanya mereka tidak wajib untuk percaya.

Ini kontradiksi istilah dan ide jika menyebut sesuatu itu sebagai wahyu meski sampai pada kita dari tangan kedua, baik secara verbal maupun tertulis. Wahyu perlu dibatasi untuk komunikasi pertama saja - setelah itu hanya disebut sebagai sebuah cerita yang orang itu katakan bahwa sebuah wahyu diturunkan padanya; dan meski dia merasa wajib untuk percaya, bagi saya tidak wajib; karena wahyu itu bukan khusus dan langsung buat saya, dan saya hanya mendengar perkataan dia saja bahwa itu diturunkan padanya. Ketika Musa bilang pada anak2 israel bahwa dia menerima dua tablet Perintah dari tangan Tuhan, mereka tidak wajib percaya padanya, karena mereka tidak punya otoritas lain untuk itu selain dari perkataan Musa belaka; dan saya juga tidak punya otoritas utk itu selain dari beberapa sejarawan yang mengatakannya pada saya. Perintah-perintah itu tidak membawa bukti internal keilahian didalamnya; perintah itu hanya membawa aturan moral yang baik, seperti seseorang, penguasa atau pembuat undang-undang, bisa juga membuatnya, tanpa harus mengatakan bahwa ada campur tangan supernatural didalamnya.

Ketika saya diberitahu bahwa Quran ditulis di surga dan dibawa kepada Muhammad oleh malaikat, ini sampai pada saya dalam bentuk cerita, kata orang, bukti-bukti dan otoritas tangan orang lain saja. Saya tidak melihat sendiri si malaikat itu, dan dengan demikian, saya punya hak untuk tidak percaya.

Melihat teorinya Wansbrough, Crone dan Cook (bahwa Islam muncul belakangan sesudah pemikiran-pemikiran yang ada hingga saat ini, Islam muncul dibawah pengaruh Yudaisme dan menyebut Musa sebagai sebuah contoh nabi yg diberi wahyu, menciptakan Muhammad sebagai nabi orang Arab dengan wahyu yang persis sama), penyejajaran dan pemilihan dari Paine mengenai dua contoh Musa dan Muhammad rasanya sangat tepat.

Lagipula, seperti kata Paine, wahyu-wahyu yang belakangan ditulis dalam Quran tidaklah membawa bukti-bukti internal keilahian didalamnya. Malah sebaliknya, Quran berisi banyak sekali – terlalu banyak – hal-hal yang sama sekali tidak pantas dikatakan oleh Tuhan. Dengan dasar apa kita menentukan itu? Quran mengaku mendapat otoritas ilahi atas tulisan-tulisannya. Pada akhirnya, kita hanya dapat berkata bahwa tidak ada wahyu khusus yang kredensialnya bisa diandalkan.[49]

Aneh sekali bahwa ketika Tuhan memutuskan untuk mewujudkan DiriNya, dia melakukannya hanya pada satu orang saja. Kenapa Dia tidak bisa muncul pada banyak orang dalam sebuah stadion sepakbola ketika Final Piala Dunia berlangsung misalnya, ketika milyaran orang diseluruh dunia menonton?

Tapi, seperti Patricia Crone bilang, “ini kebiasaan aneh Tuhan, ketika dia pingin menampakan diri pada manusia, dia hanya berkomunikasi pada satu orang saja. Umat manusia lainnya harus belajar ‘kebenaran’ dari orang tersebut dan dengan demikian membeli pengetahuan keilahian tersebut dengan harga mahal, harga yang dia bayar adalah menempatkan dirinya lebih rendah dari orang tersebut, yang pada akhirnya orang tersebut digantikan oleh sebuah institusi, hingga keilahian tetap berada dibawah kontrol orang-orang atau manusia-manusia tertentu atau institusi-institusi.” (TLS, 21 jan 1994, hal 12).

Abraham, Ismail, Musa, Nuh, dan nabi-nabi lain
Kita diberitahu bahwa Abraham lahir di Chaldea dan dia anak seorang pembuat tembikar yang miskin, yang mencari nafkah dengan membuat patung tanah liat. Sulit untuk dipercaya anak miskin seperti ini bisa bepergian ke Mekah, 300 leagu (1 leagu=3 mil=4.8 kilometer, jadi 1.440 km) jauhnya pada cuaca panas menyengat, lewat gurun pasir. Jika dia benar seorang penakluk atau penjelajah maka kemungkinan besar dia akan pergi ke negara-negara makmur di Assyria; jika dia cuma orang miskin, seperti yang dituliskan sejarah, dia tidak akan menemukan kerajaan-kerajaan ditanah asing itu. -Voltaire.[50]
Bagi sejarawan, orang Arab bukanlah keturunan Ismail, anak dari Abraham, sama bohongnya seperti Orang Perancis yang bukan keturunan Francus, anak dari Hector. -Maxime Rodinson.[51]
Sudah pasti bahwa Abraham tidak pernah menginjakkan kaki di Mekah -Montgomery Watt.[52]
Poin pentingnya adalah, dimana fakta objektif telah ditetapkan oleh metoda-metoda sejarah yang baik, maka itulah yang harus diterima. -Montgomery Watt.[53]

Menurut hadis, Abraham dan Ismail yang membangun Kabah, bangunan kotak di mesjid suci Mekah. Tapi diluar riwayatan ini sama sekali tidak ada bukti – baik itu berupa epigrafik, arkeologis atau dokumen. Snouck Hurgronje telah menunjukkan bahwa Muhammad mengarang kisah itu untuk memberikan agamanya sumber dan setting kearab-araban; dengan improvisasi ini Muhammad juga menetapkan kemandirian agamanya sekaligus menempelkan Kabah kedalam Islam berikut segala hubungan sejarah dan religius karangannya untuk orang Arab.

Melihat jumlah materi yang ada dalam Quran yang dicomot dari Pentateuch – Musa: ada 502 ayat dalam 36 surah; Abraham: 245 ayat dalam 25 surah; Nuh: 131 ayat dalam 28 surah – sungguh mengagetkan kita bahwa kritik-kritik yang diterapkan pada bible ternyata tidak punya pengaruh terhadap studi-studi Quran. Para muslim seperti juga Yahudi dan Kristen berpegangan bahwa Pentateuch ditulis oleh Musa. Dalam Quran, Pentateuch disebut sebagai Taurat (Kata yang berasal dari bahasa ibrani Torah).

Para scholar telah lama ragu akan ketelitian sejarah kisah-kisah Bible, dan Islam tidak dapat lepas dari konsekuensi yang sama dalam penemuan dan kesimpulan mereka. Sejak abad 17, La Peyrere, Spinoza dan Hobbes telah berdebat bahwa Pentateuch tidaklah mungkin ditulis oleh Musa: “Dari apa yang telah diceritakan, jelas sejelas matahari bahwa Pentateuch tidak ditulis oleh Musa, tapi oleh seseorang yang hidup jauh setelah musa,” Spinoza menyimpulkan dalam A Theologico-Political Treatise.[54]

Lalu di abad 19 kritik lain yang lebih tajam seperti kritikan Graf dan Wellhausen menunjukkan bahwa Pentateuch (Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan) adalah karya gabungan, dimana didalamnya bisa dipisahkan karya empat ‘penulis’ yang berbeda., yang biasanya disebut dengan empat huruf: J, E, D dan P.

Robin Lane Fox[55] menyatakan:
Dalam Bible empat sumber awal digabung oleh orang kelima, seorang penulis tak dikenal yang menggabungkan keempatnya pada tahun antara 520 SM sampai 400 SM, dalam pendapat saya, lebih dekat pada tahun 400 SM. Ketika dia menggabungkan sumber-sumber ini, dia mencoba menyelamatkan isinya dan memasukkan kalimat-kalimat yang baik-baiknya saja (dan juga tentang penciptaan). Dia ini seorang sub-editor alami.. dalam pendapat saya, dia bukanlah seorang sejarawan tapi pasti dia kaget jika mendengar orang bilang tak satupun dalam karya penggabungannya itu benar. Kemungkinan isinya benar secara sejarah sangatlah kecil karena tak satupun dari sumber- sumber itu ditulis berdasarkan bukti-bukti kuat atau bukti-bukti tulisan sejaman atau seabad atau setidaknya dalam milenium yang sama dengan cerita tersebut. Bagaimana bisa tradisi mulut ke mulut memelihara rincian yang sedemikian baik lewat waktu sepanjang itu?.. Mengenai “raksasa di bumi,” yaitu Menara Babel atau eksploitasi dari Yakub atau Abraham, tidak ada alasan kuat utk percaya satupun tentang hal itu: Kisah paling detil dalam Kitab Kejadian adalah kisahnya Yusuf, kisah yang luar biasa, dijalin dari dua sumber yang berbeda, dimana keduanya tidak juga bersandar pada kebenaran sejarah.

Torah tidaklah ditulis oleh atau “diturunkan” pada Musa, dan tidak ada alasan kuat untuk percaya bahwa cerita Abraham dan lainnya itu benar. Pastinya tidak ada sejarawan yang bermimpi utk memakai sumber- sumber muslim guna memverifikasi sejarah tentang Bible ini; cerita versi muslim tentang Abraham, Musa dan yang lainnya, seperti kita pelajari sebelumnya, diambil dari tulisan-tulisan rabi Yahudi atau tidak lebih dari sekedar legenda belaka (dibangunnya Kabah dan lain-lain) yang, kacaunya lagi, diciptakan beberapa ribu tahun setelah kejadian- kejadian yang ‘katanya’ terjadi menurut mereka itu.

Sejarawan malah bertindak lebih jauh lagi. Mereka mengatakan ada kepastian bahwa Abraham tidak pernah ada: “Tradisi-tradisi versi J mengenai perjalanan Abraham sangatlah tidak tepat secara karakter sejarah. Jika dilihat dari sudut tema mengenai hamba Yahweh yg patuh yang suka berkelana ini memberikan struktur banyak kisah-kisah yang tidak saling berhubungan dalam tulisan-tulisannya J. ini adalah sebuah alat editorial yang digunakan untuk menyatukan banyak perbedaan dalam kisah-kisah Abraham dan Lot” (Thompson 1974). Thompson lalu menyatakan (hal.328):

Bukan saja arkeologi tidak membuktikan satupun kejadian dalam kisah patriarc ini sebagai sejarah tapi juga tidak menunjukkan kisah manapun benar. Berdasarkan apa yang kita ketahui tentang sejarah Palestina di Millenium Kedua Sebelum Masehi, dan dari apa yang kita mengerti mengenai bentuk tradisi sastra kitab Kejadian, bisa disimpulkan bahwa sejarah yang diceritakan tersebut, baik dalam karya akademis maupun karya popular mengenai Kitab Kejadian, sangatlah tidak mungkin dan benar-benar mustahil.

Terakhir, “pencarian Abraham secara sejarah pada dasarnya adalah pekerjaan yang sia-sia baik bagi para sejarawan maupun para pelajar dari bible.” [56]
Dan Lane Fox mengamati: “Sejarawan tidak lagi percaya bahwa kisah- kisah Abraham adalah kisah-kisah sejarah: seperti Aeneas atau Heracles, Abraham adalah figur legenda.” [57]

------------------
[36] Artikel Macdonald. Kadar dalam Encyclopaedia of Islam, edisi pertama
[37] Wensinck, A.J. [1] The Muslim Creed. Cambridge, 1932. hal51-52
[38] Mill, J.S Three Essays on Religion. London, 1874. hal.113-114
[39] Bousquet, G.H. L’Ethique sexuelle de l’Islam. Paris, 1966. hal.9
[40] Mackie, J.L. The Miracle of Theism. Oxford, 1982. hal. 256
[41] Mackie. J.L. Ethics. London, 1977. hal.230
[42] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. hal. 19
[43] Flew, Antony. “The Terrors of Islam.” Dalam P.Kurtz and T. Madigan, eds., Defending the Enlightment. Amherst, N.Y., 1987. Hal.277
[44] Gibb, H.A.R. Islam, Oxford, 1953. Hal.38
[45] Mackie, J.L. The Miracle of Theism. Oxford, 1982. Hal.256
[46] Dikutip dari Dictionary of Islam, hal.147
[47] Paine Thomas. The Age of Reason. Secaucus, 1974. Hal.270
[48] Paine Thomas. The Age of Reason. Secaucus, 1974. Hal.52
[49] Mackie, J.L. Ethics. London, 1977. hal.232
[50] Voltaire. Dictionaire Philosophiqe. Terjemahan Besterman, London, 1971. hal.17
[51] Rodinson, Maxime. Les Arabes. Paris, 1991 Hal.49
[52] Watt, W. Montgomery. Muslim-Christian Encounters. London, 1991. Hal.136
[53] Ibid., hal.135
[54] Spinoza, B. A Theologico-Political Treatise. Terjemahan Elwes. New York, 1951. Hal.124
[55] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.176
[56] Thompson, T.L. The Historicity of the Patriarchal Narratives. London, 1974., Hal.328
[57] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.218


Nuh dan Air Bah
Pembuatan kapal, diselamatkannya semua binatang, banjir besar, semuanya yang ditulis dalam Quran sebagian diambil dari Genesis (Kitab Kejadian). Ketika kesadaran akan kemustahilan kisah ini muncul, orang Kristen tidak lagi menganggap kisah ini secara harafiah; kecuali, tentu saja para fundamentalis, yang masih banyak berkeliaran setiap tahun mencoba mencari sisa puing-puing kapal nabi Nuh atau Noah. Kaum muslim, dilain pihak, sepertinya kebal dari pemikiran rasional, dan menolak mencari bukti-bukti utk ini. Saya akan mengeluarkan pendapat yang menunjukkan kemustahilan legenda ini, meski kelihatannya saya seperti berusaha memaparkan kebohongan dari sesuatu yang sudah jelas bohongnya tapi saya harap akan lebih banyak orang berusaha seperti saya ini dan semakin sering lagi melakukannya.

Nuh diminta untuk membawa ke dalam kapalnya sepasang binatang dari semua spesies (Surah 11.36-41). Para ahli hewan[58] memperkirakan mungkin ada 10 juta spesies untuk serangga saja; apa mereka semua masuk ke dalam kapal? Benarkah serangga saja tidak menghabiskan tempat kapal? Mari kita fokus pada spesies yang lebih besar ukurannya: reptil ada 5.000 spesies; burung 9.000 spesies; lalu 4.500 spesis kelas mamalia (hal 239). Semuanya dalam data ‘phylum chordata’ (jenis binatang menengah) ada sekitar 45.000 spesies (hal.236). Seberapa besar kapal itu hingga bisa membawa sekitar 45.000 spesies binatang? Masing-masing sepasang, jadi ada sekitar 90.000 ekor binatang ukuran sedang, mulai dari ular sampai gajah, burung sampai kuda, kuda nil sampai badak. Bagaimana bisa Nuh mengumpulkan mereka secepat itu? Berapa lama dia menunggu dua ekor Sloth yang beringsut secara pelahan dari amazon ke tempatnya? Bagaimana kanguru bisa keluar dari benua australia yang berupa pulau? Bagaimana beruang kutub tahu lokasi kapalnya Nuh? Seperti Robert Ingersoll[59] tanyakan “adakah kemustahilan yang lebih hebat dari ini?” Misal jika kita menerima kisah ini tidak secara harafiah, atau kita memelesetkan dengan jawaban yang samar-samar, seperti: “Bagi Tuhan semuanya itu mungkin”. Kenapa Tuhan memilih cara yang sulit, penuh komplikasi dan makan waktu (setidaknya untuk Nuh) ini? Kenapa tidak selamatkan saja Nuh dan orang-orang yang saleh dengan mukjijat yang cepat daripada usaha yang berpanjang-panjang ini?

Tidak ada bukti geologis yang mengindikasikan pernah terjadi Banjir Besar. Memang ada bukti banjir lokal tapi bukan yang menutupi seluruh muka bumi, bahkan menutupi Timur Tengah saja tidak ada. Kita sekarang tahu bahwa kisah Air Bah dalam Bible, dimana Quran mencurinya, berasal dari legenda Mesopotamia: “Tidak ada bukti apapun yang merunut terjadinya air bah yang sama dalam kisah-kisah Mesopotamian dan Yahudi; Fiksi Yahudi kemungkinan berkembang dan berasal dari legenda Mesopotamia. Kisah-kisah ini adalah fiksi dan bukannya sejarah.” [60]

Daud dan Mazmur
Quran juga meminta muslim untuk percaya bahwa Daud ‘menerima’ wahyu bernama/dinamai Mazmur/Zabur sama persis seperti cara Musa menerima Torah (Surah 4.163-65). Tapi sekali lagi scholar Bible meragukan Daud menulis sebanyak itu. Daud mungkin hidup sekitar tahun 1.000 SM, tapi kita tahu bahwa Mazmur/Zabur digabungkan belakangan pada perioda post-exilic (setelah pengasingan), yaitu sekitar 539 SM:

Kitab Mazmur terdiri dari lima kumpulan himne, kebanyakan ditulis untuk dipakai pada kuil kedua (Kuil Zerubbabel). Meski puisi-puisinya yg sangat kuno itu mungkin diadaptasi dalam beberapa kesempatan, tapi kumpulan ini muncul dalam satu kesatuan, atau hampir dalam satu kesatuan, ketika post-exilian (setelah pengasingan/pembuangan). Mungkin tidak ada satupun Mazmur harus disebut berasal dari Daud. Beberapa diantaranya, yang memuji-muji kerajaan yang sangat ideal, sepertinya ditulis sebagai penghormatan bagi salah satu raja Hasmonean (142-63 SM).[61]

Adam dan Evolusi, Kosmologi Penciptaan dan Modern
Banyak muslim belum bisa menerima fakta evolusi… Kisah Adam dan Hawa… tidak punya tempat dalam catatan sains mengenai asal muasal umat manusia. - Watt.[62]
Quran memberi kita cerita yang kontradiksi tentang penciptaan, hingga menimbulkan masalah besar bagi para penafsirnya.
[50.38] Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.
[41.9-12] Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu- sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Dua hari untuk menciptakan bumi, empat hari untuk makanan, dan dua hari untuk tujuh langit, total jadi delapan hari (Surah 41), dimana dalam surah 50 kita diberitahu bahwa penciptaan terjadi dalam enam hari saja. Ini semua ada diluar jangkauan para komentator/penafsir hingga mereka tidak mampu menerapkan sulap jungkir balik agar bisa menjelaskan dan keluar dari kebodohan pertentangan ini. Langit bumi dan para makhluk didalamnya adalah bukti dari keberadaan Tuhan dan KekuasaanNya (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 4); [21.16] “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” Manusia dan Jin telah ditetapkan kewajiban spesial untuk menyembah Tuhan, dan meski kepatuhan pada hukum Tuhan pertama-tama ditawarkan pada langit dan bumi dan gunung- gunung, tapi manusialah yang menerimanya setelah langit bumi dan gunung menolaknya (Surah 33.72) (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2,4)

Bagaimana pendapat kita tentang doktrin aneh ini? Langit, bumi dan gunung-gunung dianggap sebagai makhluk, dan terlebih lagi sebagai makhluk yang punya keberanian untuk menolak dan tidak patuh pada Tuhan! Tuhan Maha Kuasa yang menciptakan jagat raya bertanya, apa mereka (langit, bumi dan gunung) mau menerima ‘kepercayaan’ atau ‘iman’, dan ciptaanNya sendiri itu ternyata menolak menerima beban ini.

Penciptaan dilakukan oleh perkataan Auwloh, “Jadilah,” karena segala sesuatu adalah atas kehendakNya. Sebelum penciptaan singgasanaNya mengambang diatas air dan surga dan bumi masih berupa satu kumpulan (air). Auwloh memisahkan mereka, langit dibangun dan dibentangkan sebagai atap yang melindungi, tanpa cacat, yang dia angkat keatas bumi dan diam diatas sana tanpa tiang- tiang, sementara bumi dibentangkan dan gunung-gunung dipasang pada permukaannya sebagai pasak agar mencegah bumi bergerak ketika makhluk-makhluk hidup bergerak diatasnya, karena dunia terdiri dari tujuh bumi. Juga dua lautan dilepas bersisian satu sama lain, satu air tawar yang lain air garam, tapi dengan sebuah penghalang diantaranya hingga mereka tidak bisa bersatu. (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2, 5)

Bumi yang diciptakan pertama, lalu langit. Bulan diberi sinarnya sendiri (Surah 10.5), dan padanya dicanangkan “agar berubah seperti batang palem yang melipat dan menua, agar manusia bisa mengetahui jumlah tahun dan menghitung darinya” (Levy, R. The Social Structure of Islam. 2 vols. Cambridge, 1957, hal 2,5). Sedang mengenai Adam, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Maka Maha Suci lah Auwloh, Pencipta Yang Paling Baik.” [Surah 23.12-14]

Kisah lain menceritakan pada kita bahwa manusia diciptakan dari sperma (cairan hina) (Surah 77.22), dan lagi versi lainnya bahwa semua makhluk hidup diciptakan dari air seperti juga seluruh isi jagat raya ini (21.30, 25.54, 24.45). Binatang diciptakan khusus bagi umat manusia; manusia adalah tuan dari para binatang ini: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman.” [Surah 36.71-73]

Jin diciptakan dari api, sebelum manusia diciptakan dari tanah. Mereka hidup dibumi bersama manusia. Para penafsir muslim tidak punya masalah mengenai kontradiksi yang jelas ini, seorang pembaca sains modern dan terpelajar bahkan tidak akan capek-capek mencari kebenaran sains kisah penciptaan samar dan membingungkan itu. Malah, kesamaran itulah yang membuat orang bisa mencari apapun yang dia ingin temukan dalam mitos-mitos, legenda dan takhyul-takhyulnya. Jadi, banyak muslim percaya pada keseluruhan ‘pengetahuan’ yang ada dalam Quran atau hadis. Seperti kata Ibn Hazm, “Fakta apapun itu yang bisa dibuktikan dengan akal, ada dalam Quran atau dalam perkataan sang Nabi, semuanya jelas- jelas dimaksudkan untuk itu.”

Setiap kali ada penemuan sains baru, misal fisika, kimia atau biologi, para pembela muslim akan berlomba-lomba meneliti Quran untuk mencari dan membuktikan bahwa penemuan tersebut sudah pernah ada dituliskan didalamnya; segala sesuatu mulai dari listrik hingga teori relativitas (Ascha, Ghassan. Du Status inferieur de la Femme en Islam. Paris, 1989. hal.14). Para muslim ini menunjuk tulisan Quran mengenai asal muasal makhluk hidup yang berasal dari air (surah 21.31), dan ide baru-baru ini di bidang biologi yang menyatakan bahwa hidup dimulai, dengan meminjam perkataan Darwin, dalam “sebuah kolam kecil yang hangat.” Dugaan penemuan sains lainnya dirasa telah ada dalam Quran termasuk penyerbukan tanaman oleh angin (surah 15.22) dan cara hidup lebah (surah 16.69). Tak ragu lagi ketika mereka mendengar seorang ahli kimia Glasgow, A.G. Cairns-Smith yang menyatakan bahwa jawaban teka-teki asal muasal kehidupan mungkin ada pada tanah lempung biasa, para pembela muslim langsung loncat mengiyakan dan melompat-lompat gembira merasa menang dan menunjuk pada doktrin Quran bahwa Adam diciptakan dari tanah lempung (Dawkins, Richard. “A Deplorable Affair.” Dalam New Humanist, vol.104, London, May 1989. hal 148-165).

Karena para muslim masih juga memakai kisah-kisah Quran secara literal, saya jadi punya kewajiban untuk menunjukkan bagaimana hal itu tidak sejalan dengan pendapat sains modern mengenai asal muasal jagat raya dan kehidupan di bumi. Bahkan dalam memakai istilahnya sendiri kisah Quran tidaklah konsisten dan penuh kemustahilan. Kita telah catat pertentangan mengenai lamanya penciptaan. Katanya Auwloh hanya bilang “Jadilah,” (kun-fayakun) dan kehendakNya langsung terwujud, tapi kok butuh waktu enam hari utk mencipta langit. Juga, gimana bisa ada ‘hari/masa’ sebelum penciptaan bumi dan matahari, padahal ‘hari/masa’ itu adalah pewaktu yang kita pakai berdasarkan perputaran bumi pada sumbunya? Kita juga diceritakan bahwa sebelum penciptaan, singgasana Tuhan mengambang diatas ‘air’. Darimana ‘air’ ini muncul sebelum penciptaan? Keseluruhan gagasan tentang singgasana Tuhan ini melulu berkarakter manusia tapi dipakai begitu saja oleh orang-orang ortodoks. Lalu kita punya beberapa cerita tentang penciptaan Adam. Menurut Quran, Auwloh menciptakan bulan dan fase-fasenya agar manusia tahu jumlah tahun (Surah 10.5). Lagi-lagi ini hanya gagasan bagi orang Arab yang primitif, karena semua kemajuan peradaban Babylonia, Mesir, Persia, China dan Yunani saat itu juga sudah memakai matahari untuk menunjukkan waktu mereka.

Mari kita berpaling pada kisah modern mengenai asal muasal jagat raya.

Di tahun 1929, Edwin Hubble mempublikasikan penemuannya bahwa galaksi terjauh ternyata menjauh dari bumi dengan kecepatan yg proporsinya sama dengan jauhnya mereka dari bumi. Hukum Hubble menyatakan bahwa kecepatan resesional (V), dari sebuah galaksi berhubungan dengan jaraknya (r), dari bumi dengan persamaan:

V = Ho . r, dimana Ho adalah konstanta Hubble.

Dengan kata lain, hukum Hubble mengatakan bahwa jagat raya ini membesar/mengembang. Seperti Kaufmann katakan[63]: “Jagat raya telah mengembang selama milyaran tahun, jadi pastinya ada satu saat dimasa lalu dimana semua materi dijagat raya dikonsentrasikan dalam sebuah keadaan padat yang tak terbatas. Mestinya ada semacam ledakan kolosal yang pasti memulai mengembangnya jagat raya ini. Ledakan ini yang biasa disebut Big Bang menandai dimulai terciptanya jagat raya ini.” Umur Jagat raya ini telah dihitung ada sekitar lima belas sampai dua puluh milyar tahun.

Sebelumnya, sekitar 10 detik setelah terjadinya Big Bang, biasa disebut Waktu Planck, jagat raya ini begitu padatnya hingga hukum fisika tidak berlaku untuk menjelaskan gerak laku ruang, waktu dan materi. Selama jutaan tahun pertama, materi dan energi membentuk sebuah plasma padat (disebut bola api primordial), terdiri dari foton energi-tinggi yang bertumbukkan dengan proton dan elektron. Sekitar satu juta tahun setelah Big Bang, proton dan elektron akan bergabung membentuk atom hidrogen. Tapi kita harus menunggu sekitar 10 milyar tahun sebelum sistem tata surya kita ada terbentuk. “Sistem tata surya kita dibentuk dari materi yang diciptakan dalam bintang- bintang yang menghilang milyaran tahun lalu. Matahari adalah bintang yang relatif muda, hanya berumur lima milyar tahun. Semua elemen- elemen selain dari hidrogen dan helium dalam sistem tata surya kita tercipta dan dibentuk oleh bintang-bintang kuno selama 10 milyar pertama keberadaan galaksi kita. Kita sebenarnya tercipta dari debu bintang.” (Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. hal 110).

Sistem Tata Surya dibentuk dari sebuah awan gas dan debu, yang disebut Solar Nebula, yang bisa dijelaskan sebagai sebuah “piringan berputar yang terbuat dari sesuatu yang seperti kepingan salju dan es yang dibungkus oleh partikel debu.” Planet-planet dalam, Mercurius, Venus, Bumi dan Mars dibentuk lewat pertumbuhan dari partikel- partikel debu hingga ukurannya menjadi seukuran planet (planetesimal) dan lalu menjadi protoplanet yang lebih besar. Planet- planet luar, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto, dibentuk dari pemisahan nebula luar menjadi cincin gas dan es terbungkus debu yang bersatu menjadi protoplanet raksasa. Matahari terbentuk dari tumbuhnya titik pusat nebula. Setelah sekitar 100 juta tahun, temperatur dari pusat protosun (matahari muda) telah cukup tinggi untuk memicu reaksi termonuklir. (Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. Hal 116).

Cerita-cerita ini, parahnya, sama sekali berbeda dengan kisah yang dituliskan dalam Quran. Bumi tidaklah, seperti kata Quran (surah 41.12), diciptakan sebelum langit; kita telah catat bahwa matahari dan sistem tata surya dibentuk jutaan tahun setelah Big Bang, jutaan bintang lainnya juga sudah dibentuk sebelum matahari kita. Terlebih lagi, istilah ‘langit’ sangatlah samar; apa ini artinya sistem tata surya kita? Galaksi kita? Jagat raya? Jungkir balik gimanapun tidak akan bisa mengerti kisah Quran mengenai penciptaan langit dalam enam, delapan atau dua hari. Sinar bulan, tentu saja, bukanlah sinarnya sendiri (surah 10.5), tapi pantulan sinar matahari. Bumi mengorbit matahari dan bukan sebaliknya.

Mereka yang tergoda untuk mencari dalam Quran segala macam ayat yang nyerempet-nyerempet Big Bang harusnya sadar bahwa kosmologi dan fisika modern umumnya didasarkan pada matematik. Tanpa pengembangan dalam bidang matematik, khususnya di abad 17 (kalkulus misalnya), kemajuan dan pengertian tidaklah mungkin tercapai. Sebaliknya dari kesamaran isi Quran, Big Bang dalam formula kosmologi modernnya menyatakan dengan sangat teliti memakai matematik tingkat tinggi; tentu saja sangatlah tidak mungkin menyatakan gagasan-gagasan demikian dalam pernyataan yang dangkal tanpa kehilangan ketelitiannya.

Asal Muasal Kehidupan dan Teori Evolusi
Bumi terbentuk sekitar 4,5 milyar tahun lalu, dan mungkin kurang dari 1 milyar tahun kemudian kehidupan muncul diatasnya untuk pertama kali setelah perioda evolusi kimia terjadi. Seorang ahli biokimia Rusia, Oparin, berpendapat dalam buku The Origin of Life (1938) bahwa bumi primitif terdiri dari elemen-elemen kimia yang bereaksi terhadap radiasi luar angkasa dan juga energi yang bersumber dari terestrial (bumi itu sendiri). “Hasil dari aktivitas fotokimia yang lama, campuran inorganik membangkitkan senyawa organik (termasuk amino acid yang menjadi struktur pembentuk molekul protein makhluk). Seiring waktu dan proses pemilihan kimia, sistem organik ini lalu bertambah stabil dan kompleks, menjadi makhluk hidup pelopor dari segala makhluk.”[64] (Birx, H. Art. “Evolution and Unbelief”. Dalam Encyclopaedia of Unbelief, volume 1. hal 417-418). Sejak jamannya Oparin, banyak ilmuwan (Miller, Fox, Ponnamperuma) berhasil memproduksi senyawa organik dari benda non organik di laboratorium.

Kontroversi masih mengitari penjelasan biokimia mengenai asal muasal kehidupan diplanet bumi, khususnya tentang apakah sesuatu yang mirip dengan molekul DNA/RNA muncul terlebih dulu atau malah mungkin amino acid dasar yang dibutuhkan bagi sintesa protein yang lebih dulu ada. Makhluk hidup muncul ketika sistem organic mulai mempunyai kemampuan untuk melakukan metabolisme dan reproduksi; perkembangan dari sintesa inorganik dari evolusi kimia merintis jalan bagi evolusi biologi dan berikutnya kemampuan adaptasi menjadi semakin kompleks dan mengalami perubahan bentuk. (n.d., hal 419)

Pada tahun 1859, Darwin mempublikasikan karyanya “In the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life”. Dalam kata pendahuluannya Darwin menulis: [65]

Dalam mempertimbangkan asal-usul Spesies, sangat mungkin seorang naturalis memakai pemikiran mengenai daya tarik menarik mutual antara makhluk-makhluk hidup, dalam hubungan embriologinya, distribusi geografiknya, suksesi geologisnya dan fakta-fakta lain, ini mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa tiap spesies tidaklah secara tersendiri atau khusus diciptakan tapi merupakan hasil penurunan, seperti juga keanekaragaman species-species lain. Namun, kesimpulan demikian, meskipun misalnya punya dasar, masihlah tidak memuaskan sampai bisa ditunjukkan betapa species- species yang tak terhitung banyaknya ini telah termodifikasi, hingga mendapatkan struktur dan ko-adaptasi sempurna yang membuat kita kagum.

Jawaban Darwin untuk pertanyaannya sendiri “Bagaimana evolusi itu terjadi” tentunya adalah Seleksi Alam. Spesies adalah hasil dari proses panjang seleksi alam yang bertindak mengubah atau/dan mempertahankan “variasi-variasi warisan, random dan yang sering muncul”.[66]

Darwin mengatakannya demikian:
Seiring banyaknya spesies terlahir dan bertahan hidup; akibatnya ada pergumulan yang selalu muncul untuk bagaimana agar bisa bertahan hidup, ini semua mengikuti sebuah pola bahwa makhluk apapun meski dari spesies yang sama, jika berbeda sedikit saja, berbeda dalam arti yang menguntungkan baginya dibanding spesies aslinya, menguntungkan dia dalam mengarungi kondisi hidup yang kompleks dan kadang berbeda, maka ia akan mempunyai kesempatan hidup yang lebih baik dari yang lainnya, dengan demikian makhluk unik itu adalah hasil dari seleksi alam. Dari prinsip keturunan, keberbedaan yang dipilih alam itu cenderung akan meneruskan bentuk barunya yang sudah lebih baik itu.[67]

Implikasi dari teori evolusi pada posisi manusia di alam sudah jelas. Darwin sendiri mencatat bahwa “Kesimpulan bahwa manusia adalah keturunan dari spesies lain yang lebih purba, lebih rendah dan bentuk yg sudah punah dalam tingkat apapun bukanlah hal baru. Lamarck jauh-jauh hari sudah menyimpulkan demikian, belakangan dipertahankan oleh beberapa naturalis dan filsuf terkenal; contohnya, Wallace, Huxley, Lyell, Vogt, Lubbock, Buchner, Rolle &c., dan khususnya Haeckel.”

Pada abad 18 de Lamettrie telah mengklasifikasikan manusia sebagai binatang dalam L’Homme Machine (1748). Linnaeus (1707-1778) telah mengklasifikasikan manusia dengan kera yg mirip manusia seperti Anthropomorpha. T.H. Huxley dalam karya terkenalnya “Man’s Relations to Lower Animal,”[68] memulai penuturannya dengan melihat pada perkembangan indung telur seekor anjing lalu menyimpulkan bahwa:
Sejarah perkembangan binatang vertebrata lainnya, kadal, ular, katak, atau ikan, semuanya mengungkapkan hal yg sama. Selalu dimulai dari sebuah indung telur yang punya struktur penting sama seperti pada anjing: - bagian kuning telurnya selalu mengalami pembelahan atau segmentasi, ..… produk mutakhir dari segmentasi itu merupakan materi pembangun tubuh binatang-binatang muda; dan ini dibangun dari awal yang primitif, dari dasar dimana notochord (tulang rawan pembentuk kerangka) dikembangkan. Lalu ada perioda dimana masa bayi dari binatang-binatang ini mirip satu sama lain, tidak hanya dari bentuk luar tapi dari struktur-struktur pentingnya, begitu mirip hingga perbedaannya kadang tidak terlihat, sementara dalam perkembangan berikutnya mereka mulai menunjukkan perbedaan satu dari yang lainnya.

Dengan demikian studi perkembangan ini memberi sebuah ujian yang jelas akan dekatnya struktur pertalian keturunan dan kita jadi mulai bertanya apa hasil yang didapat dari studi tentang Manusia ini? Apa manusia sama sekali berbeda? Apa asal usul manusia sama sekali berbeda dari Anjing, Burung, Katak dan Ikan, hingga membenarkan mereka yang mengatakan bahwa kita tidak berasal dari alam dan tidak punya pertalian keturunan dengan dunia binatang yang lebih rendah? Atau benarkah kita berasal dari sel yang sama, yang diturunkan lewat proses panjang dan pelahan – yang tergantung pada nutrisi dan proteksi dan akhirnya memasuki dunia sebagai manusia lewat mekanisme yang sama? Jawabannya tidaklah meragukan untuk sementara ini, dan juga tidak meragukan selama puluhan tahun belakangan ini. Tanpa ragu lagi tahap asal muasal dan perkembangan manusia identik dengan binatang yang berada ditingkat bawahnya – tanpa ragu pula, manusia jauh lebih dekat pada monyet dibandingkan monyet pada anjing.

Ada banyak alasan untuk menyimpulkan bahwa perubahan (ovum manusia) mengalami proses yang sama dengan yang dialami oleh ovum dari binatang bertulang belakang lainnya; karena materi pembentuk bahan dasar tubuh manusia dalam kondisi paling awalnya, seperti yang telah diteliti, sama dengan binatang-binatang lainnya.

Tapi, persis disana jugalah perkembangan manusia berbeda dari anjing, manusia lebih mirip dengan monyet, dimana monyet punya yolk-sac yang spheroid (bulat) dan plasenta yang discoid (seperti disc). Jadi hanya tahap selanjutnya saja yang membuat manusia berbeda dari monyet, sementara monyet sangat jauh berbeda perkembangannya dari anjing, seperti juga manusia terhadap anjing.

Mungkin ini mengejutkan, tapi telah didemontrasikan dan terbukti benar dan itu saja cukup bagi saya untuk menyimpulkan tanpa ragu akan kesamaan struktur manusia dengan binatang-binatang diseluruh dunia, khususnya dan paling dekat dengan monyet.

Bukti untuk teori evolusi datang dari banyak disiplin bidang ilmu sains: sistematis, geopaleontologi, biogeografi, studi perbandingan biokimia, serology, immunology, genetika, embryologi, parasitologi, morphology (anatomi dan fisiologi), psikologi, dan ethologi.

Bukti-bukti ini menunjuk arah yang sama yaitu manusia, seperti juga makhluk hidup lainnya, adalah hasil dari proses evolusi dan keturunan dari nenek moyang mirip monyet dan tentunya bukanlah hasil dari Penciptaan Khusus. Dalam konteks ini, membicarakan tentang Adam dan Hawa seperti yang ada dalam Bible dan Quran tidak ada artinya. Manusia, utk sekarang ini, diklasifikasikan kedalam ordo primata, bersama-sama dengan pemanjat pohon lainnya seperti: Tikus pohon, Lemur, Loris, Monyet dan Kera. Jadi, bukan hanya monyet dan kera saja, tapi Lemur dan tikus pohon juga harus diakui oleh kita sebagai sepupu jauh. Seperti J.Z. Young nyatakan, “Tetap saja sulit utk dibayangkan bahwa nenek moyang kita bertalian darah langsung seperti ayah kepada anak dengan seekor tikus tanah, dan dari sana mungkin berpisah menjadi semacam kadal, ikan bahkan mungkin semacam bunga-laut.”[69]

Tuhan Sang Pencipta
Apakah kisah terkenal yang ada diawal Bible sungguh-sungguh dimengerti? Kisah ketakutan Tuhan akan sains? .. Manusia sendiri ternyata telah menjadi kesalahan Tuhan Terbesar; Dia menciptakan saingan buat diriNya sendiri; sains membuat Tuhan – berakhir sudah para ulama (pemimpin agama) dan dewa-dewa ketika manusia menjadi makin sains.. Pengetahuan, emansipasi ulama, terus berkembang. - Nietzsche, The Antichrist.[70]

Tak pernah, dalam menelaah asal usul jagat raya dan asal usul kehidupan serta teori evolusi saya pernah bersandar pada “campur tangan Ilahi” sebagai penjelasan. Tentunya, untuk menjelaskan segalanya dengan memakai istilah ketuhanan sama saja dengan tidak menjelaskan apapun – sama seperti mematikan semua pertanyaan, mencekik keingintahuan intelektual, membunuh kemajuan sains. Untuk menjelaskan keaneka ragaman menakjubkan dan kompleksnya organisme sebagai sebuah “mukjijat” sama sekali tidak membantu, setidaknya dalam semua penjelasan sains. Mengutip Dawkins, “Menjelaskan asal muasal mesin protein/DNA dengan menceritakan takhyul sama saja dengan tidak menjelaskan apa-apa, karena hanya menyisakan ketidak jelasan asal usul pencipta itu sendiri. Anda harus mengatakan sesuatu seperti “Tuhan selalu ada disana,” dan jika anda mau lepas dari masalah dengan cara malas seperti itu, lebih baik bilang saja “DNA selalu ada disana,” atau “Kehidupan selalu ada disana.’ Selesai.” [71]

Darwin menyatakan hal yang sama tentang teorinya dalam surat pada Sir Charles Lyell, geolog terkenal: “Jika saya diyakinkan bahwa saya butuh penambahan (mukjijat) seperti itu dalam teori Seleksi Alam, saya akan menolaknya sebagai sampah… saya malah jadi tidak akan menambahkan apapun dalam teori Seleksi Alam, jika benar butuh penjelasan mukjijat dalam tiap tahap keturunannya.”

Mengenai surat diatas, Dawkins berkomentar: “Ini bukan masalah sepele. Dalam pendapat Darwin, tujuan dari teori evolusi oleh seleksi alam adalah bahwa hal itu memberikan hal ‘non mukjijat’ dalam keberadaan adaptasi kompleksnya. Ini juga menjadi tujuan dari keseluruhan buku ini (The Blind Watchmaker). Bagi Darwin, evolusi apa saja yang ditolong oleh Tuhan bukan evolusi namanya. Itu omong kosong belaka.”

Sedang mengenai Big Bang dan kosmologi modern, Stephen Hawking[72] membuat pendapat yang sama. Pihak gereja mencoba menebus dosa atas perlakuan yang mereka berikan pada Galileo, karenanya Vatican mengorganisir sebuah konferensi dimana para kosmolog terkenal diundang.

Pada akhir konferensi, para partisipan diberi kehormatan bertemu muka dengan Paus. Dia (Paus) bilang tidak apa-apa mempelajari evolusi jagat raya setelah Big Bang, tapi kita seharusnya jangan mempertanyakan Big Bang itu sendiri karena itu adalah saat-saat Penciptaan dengan demikian itu adalah Pekerjaan Tuhan. Saya (Hawking) senang sekali mengetahui bahwa dia (Paus) tidak tahu tentang subjek yang saya bicarakan tadi waktu konferensi – subjek tentang kemungkinan ruang-waktu itu terbatas tapi tidak ada lingkupnya, berarti tidak punya awal dan berarti tidak ada saat-saat Penciptaan itu. (Hawking, S. A Brief History of Time. London, 1988, hal.122)

Dihalaman lain dalam buku Bestsellernya, A Brief History of Time, Hawking mengamati bahwa:
Teori Kuantum Gravitasi telah membuka kemungkinan baru, yang mana tidak ada lingkupan bagi ruang-waktu dan dengan begitu tidak perlu menetapkan polah yang terjadi pada lingkupan itu. Tidak akan ada singularitas dimana hukum-hukum sains dilanggar dan tidak ada ujung dari ruang-waktu dimana orang harus merunut pada Tuhan atau hukum yang baru untuk menetapkan kondisi lingkupan bagi ruang- waktu. Orang bisa berkata: “Kondisi lingkup dari jagat raya adalah bahwa tidak punya lingkupannya.” Jagat raya sepenuhnya mewadahi sendiri dan tidak dipengaruhi oleh apapun diluar dirinya. Tidak diciptakan ataupun dihancurkan. Hanya ada.

Belakangan, Hawking bertanya, “Lalu dimana tempat bagi sang pencipta?”
Einstein mengamati bahwa “orang yang sangat yakin mengenai operasi universal dari hukum sebab akibat tidak dapat, meski sebentar saja, menerima gagasan akan sesuatu yang ikut campur dalam kejadian-kejadian tersebut.. Dia tidak butuh agama yang memupuk rasa takut.” [73]

Serupa dengan itu, baru-baru ini, Peter Atkins berpendapat “bahwa jagat raya ada tanpa campur tangan, dan tidak perlu menyebutkan gagasan adanya makhluk Maha Segala dalam segala bentuk perwujudannya.” [74]

Teori yang menjelaskan bahwa yang dimaksud Big Bang adalah Tuhan, tidak menjawab pertanyaan sains manapun. Mereka mendorong pertanyaan-pertanyaan tentang Asal Muasal ini satu langkah lebih mundur lagi, menanyakan asal Muasal Tuhan. Seperti Feuerbach[75] katakan, “Dunia itu tidak ada artinya bagi agama – dunia, yang dalam kenyataannya adalah gabungan seluruh realitas, katanya diciptakan dalam kemegahannya hanya dengan teori. Kenikmatan berteori adalah kenikmatan intelektual termanis dalam hidup; tapi agama tidak mengenal kenikmatan berpikir, penelaah alam, para artisnya. Gagasan jagat raya adalah bahwa ia tidak memiliki hal tersebut, tidak memiliki kesadaran akan hal tak terbatas, kesadaran para spesies.”

Hanya para ilmuwan yang merasa takjub, yang merasa bahwa kerumitan hebat seperti itu perlu penjelasan, yang lalu mengajukan hipotesa sains teruji dan tak dapat disangkal, yang mencoba mengungkap hal-hal yang disebut sebagai misteri jagat raya. Orang religius cukup puas dengan pendapat tak teruji dan tak menarik yang mengatakan bahwa ‘itu semua’ diciptakan oleh Tuhan. Titik.

Banjir, Kelaparan dan Kemarau
Sayang sekali Quran memberi contoh elemen-elemen yang katanya menjadi pertanda kemurahan hati tuhan dalam bentuk-bentuk yang justru menyebabkan banyak penderitaan bukannya kebahagiaan. Hujan, disebutkan dalam surah 7.56, adalah pertanda kemurahan hati Tuhan. Tapi banjir akibat hujan mengambil nyawa ribuan orang yang ironisnya dari sebuah negara muslim, Bangladesh. Angin puting beliung tahun 1991, 200 km/jam, hasilnya adalah banjir yang mengakibatkan 100.000 orang mati dan 10 juta kehilangan rumah. Meski banyak air dimana-mana, Bangladesh tetap saja menderita kekeringan dari October sampai April tahun itu. Hingga, populasi besar dari salah satu penduduk termiskin didunia ini mendapatkan banjir sekaligus kekeringan. Semuanya pekerjaan dari Tuhan, seperti surah 57.22 katakan : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Auwloh.”

Tentunya, semua bencana alam mulai dari gempa bumi sampai tornado sulit dihubungkan dengan dengan Tuhan yang Maha Baik, khususnya karena bencana-bencana itu mendatangi orang-orang yang miskin, dan malah seringnya pada negara-negara muslim. Ketika gempa bumi di Lisbon tahun 1755, ribuan orang meninggal, banyak orang-orang itu meninggal ketika berdoa di gereja, dan kematian ini punya efek besar di abad 18, khususnya pada penulis seperti Voltaire: “Kenapa begitu banyak orang tak bersalah terbunuh? Kenapa tempat pelacuran tidak kena, sementara orang-orang saleh dihukum?”

Mukjizat
Teisme pada abad 18, membesar-besarkan rasionalitas (masuk akal) nya Islam, mereka mengemukakan fakta bahwa Muhammad tidak pernah melakukan mukjijat apapun. Ini benar: dalam Quran Muhammad berkata dia hanya manusia biasa yg tidak bisa melakukan mukjijat, dia hanya utusan Auwloh belaka (surah 29.49, 13.27-30, 17.92-97). Meski Muhammad menyangkal, tapi kok empat kali Quran mengatakan bahwa Muhammad telah melakukan mukjijat.

1. Bulan dibelah: [54.1-2] “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".
2. Bantuan bagi para muslim ketika perang Badar: [3.123-125] Sungguh Auwloh telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Auwloh, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: ."Apakah tidak cukup bagi kamu Auwloh membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Auwloh menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”
3. Perjalanan Isro-Mi’raj: [17.1] “Maha Suci Auwloh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
4. Quran, bagi Muslim tetap menjadi mukjijat terbesar dari Islam : [29.50-51] “Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Auwloh. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata". Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”

Hadis-hadis juga penuh dengan mukjijat-mukjijat dari Muhammad, menyembuhkan orang sakit, memberi makan ribuan orang dari makanan satu orang anak kecil, dan lain-lain.

Seiring dengan bertambahnya pengetahuan kita akan alam, ada penurunan yang sebanding akan kepercayaan pada mukjijat. Kita tidak lagi gampang berpikir bahwa Tuhan ikut campur dalam urusan-urusan manusia dengan cara menahan atau mengubah gejala-gejala alam yang normal, yang sudah menjadi hukum alam. Begitu kepercayaan kita akan penemuan hukum-hukum alam bertambah, kepercayaan kita akan mukjijat jadi menurun. David Hume berpendapat sbb:[76]
Mukjijat adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum alam; pengalaman-pengalaman yang pasti dan tidak tergoyahkan yang telah menetapkan hukum-hukum ini, bukti-bukti yang berlawanan dengan mukjijat, bukti dari fakta-fakta alam itu sendiri, adalah argumen yang tidak bisa terbantahkan lagi. Kenapa masih menganggap mungkin semua manusia pasti mati; bahwa timah tidak bisa mengambang di udara dengan sendirinya; .. kecuali bahwa kejadian-kejadian ini seiring sejalan dengan hukum-hukum alam, dan dibutuhkan pelanggaran tertentu terhadap hukum-hukum alam ini, dengan kata lain butuh mukjijat untuk itu? Tidak ada hal yang dinilai sebagai mukjijat, jika terjadinya masih dalam batas-batas alami belaka.. tapi disebut mukjijat jika orang mati hidup kembali; karena tidak pernah terjadi/teramati kejadian demikian dijaman manapun dinegeri manapun. Makanya haruslah ada pengalaman yang sama pada setiap kejadian-kejadian mukjijat itu, karena kalau jika tidak pastilah tidak layak disebut mukjijat. Dan pengalaman sama ini harus ada buktinya, bukti langsung dan secara penuh teramati. Konsekwensi yang jelas adalah “bahwa tidak ada kesaksian yang pantas untuk menetapkan bahwa kejadian tertentu tersebut sebuah mukjijat, kecuali kesaksian itu sedemikian sehingga kebohongannya itu sendiri sudah merupakan sebuah mukjijat, lebih dari fakta yang akan dipastikan itu.”

Dan dalam setiap dugaan adanya mukjijat, lebih masuk akal dan sesuai dengan pengalaman-pengalaman kita untuk menyangkal bahwa ‘mukjijat’ pernah terjadi. Orang-orang yang dibohongi dan ditipu, cenderung membesar-besarkan dan punya kebutuhan kuat untuk percaya; atau seperti kata Feuerbach, sebuah mukjijat adalah “sihir imajinasi, yang memuaskan tanpa bertentangan dengan keinginan- keinginan hatinya.” Mukjijat-mukjijat Quran muncul dahulu kala, dan kita sekarang tidak berada dalam posisi untuk membenarkan atau mengujinya.
Mungkin satu dari banyak argumen penting akan mukjijat, adalah argumen yang sering terlewat oleh banyak orang yang seperti dinyatakan oleh Hospers:
Kita percaya bahwa kebanyakan mukjijat itu dalam beberapa segi sebenarnya tidak pantas bagi Tuhan Maha Ada. Jika Tuhan ingin orang- orang percaya padaNya, kenapa dia hanya melakukan Mukjijat disebuah daerah yang terpencil dimana hanya sedikit orang saja yang menyaksikannya? .. Kenapa tidak menyembuhkan semua penderita, bukannya menyembuhkan sedikit orang saja? kenapa tidak mengakhiri pembantaian besar-besaran di perang dunia I, atau mencegah terjadi perang itu langsung, bukannya melakukan mujijat di Fatima (dusun di Portugis dimana tiga anak melihat penampakan “Our Lady of the Rosary”) ditahun 1917?[77]

-------------
[58] Margulis, Lynn, and K.V. Schwartz. Five Kingdoms. San Fransisco, 1982. Hal.224-239
[59] Ingersoll, R. Some Mistakes of Moses. Amherst, N.Y., 1986. Hal.149
[60] Fox, R.L. The Unauthorised Version. London, 1991. Hal.218
[61] Howell Smith, A.D. In Search of the Real Bible. London, 1943. Hal.75
[62] Watt, W. Montgomery Muslim-Christian Encounters. London, 1991. Hal.134-135
[63] Kaufmann, W.J., III. Universe. New York, 1985. Hal.110-116
[64] Birx, H. Art. “Evolution and Unbelief”. Dalam Encyclopaedia of Unbelief, volume 1. Hal.417-418
[65] Darwin, C. The Origin of Species. London, 1872. Hal. Introduction
[66] Ruse, hal.47
[67] Darwin, C. The Origin of Species. London, 1872. Hal. Introduction
[68] Huxley, T.H. Man’s Place in Nature and Other Essays. London, 1914. Hal.52-62
[69] Young, J.Z. An Introduction to the Study of Man. Oxford, 1974. Hal.402
[70] Nietzsche. The Portable Nietzsche. Ed. W. Kaufmann. New York, 1974. Hal.628
[71] Dawkins, Richard. The Blind Watchmaker. London, 1988. Hal.141, 249
[72] Hawking, S. A Brief History of Time. London, 1988. Hal.122, 143-149
[73] Einstein, A. Ideas and Opinions. Delhi, 1989. Hal.39
[74] Atkins, P. Creation Revisited. Oxford, 1992. Hal.vii. Preface
[75] Feuerbach, Ludwig. The Essence of Christianity. Amherst, N.Y., 1989. Hal.195-196
[76] Hume, David. Essential Works of Davide Hume. New York, 1965. Hal.114-115
[77] Hospers, John. An Introduction to Philosophical Analysis. London, 1973. Hal.454

Catatan
Sebelum anda meneruskan membaca, saya ingatkan sekali lagi bahwa Ibn Warraq (penulis buku ini) adalah seorang mantan muslim yang kini menjadi atheis. Dan hampir semua kutipannya tentang injil, Alkitab, Yesus, dan Kekristenan diambil dari sumber-sumber kaum liberal, tokoh-tokoh ilmuwan atheis-agnostik, dan para orientalis yang juga menyampaikan kritik tajam terhadap Kekristenan, bukan hanya kepada Islam. Banyak hal yang disampaikan Ibn Warraq tentang Kekristenan di buku ini adalah polemik yang telah disanggah dengan bernas oleh para teolog & scholar Kristen. Untuk mengetahuinya anda dapat menelusuri sendiri dari berbagai sumber. Ibn Warraq menyentuh tema-tema (polemik) Kristen sebagai “sasaran antara” untuk mengkritik islam. Bila para teolog & scholar Kristen dapat menjawab polemik teologi dengan begitu meyakinkan, mengapa para ulama muslim tak punya kemampuan yang memadai untuk menjawab semua polemik tentang Islam? Semua polemik & kritik tentang Islam selalu berakhir di jalan kekerasan; demonstrasi, bom, bakar, bunuh, fatwa mati, dan lain-lain…. Bukan berakhir di meja dialog.
*Tulisan Ibn Warraq di sini tidak mewakili pendapat admin. Selamat melanjutkan membaca. Terimakasih. – admin.

Yesus dalam Quran
Pengumuman akan Kelahiran dari seorang Perawan:
Quran berkata bahwa Yesus secara ajaib lahir dari Perawan Maria. Ini dikisahkan dalam surah 19.16-21 dan surah 3.45-48:
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Auwloh menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Auwloh), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh." Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Auwloh berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Auwloh menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Auwloh berkehendak menetapkan sesuatu, maka Auwloh hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. Dan Auwloh akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil.”

Meski ini juga masih menjadi prinsip teologi kristen ortodoks, kristen liberal dan banyak kristen lain, bahkan uskup Durham (Inggris) tidak lagi menerima kisah ini secara harafiah, mereka lebih suka menafsirkan ‘perawan/virgin’ sebagai “murni” atau secara moral tanpa cela. Martin Luther (1483-1546) yang menulis diabad 16 mengakui bahwa “Kami orang kristen seperti orang-orang bodoh karena percaya bahwa Maria adalah ibu kandung dari anak ini tapi masih perawan. Karena bukan saja ini bertentangan dengan akal, tapi juga dengan penciptaan Tuhan, yang mengatakan pada Adam dan Hawa untuk ‘bergunalah, beranakcuculah dan bertambah banyak.” [78]

Pengujian para scholar kristen untuk masalah ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana muslim tidak bisa sembunyi dari kesimpulan- kesimpulan mereka sendiri, karena kesimpulan-kesimpulan ini punya efek langsung pada kejujuran atau setidaknya pada kebenaran harafiah dari Quran. Charles Guignebert (1867-1939)[79] telah membuat penelaahan rinci akan legenda Kelahiran dari Perawan ini. Guignebert menunjukkan kesamaan legenda ini dengan legenda dari Greco-Roman: Disini kita temukan legenda dari Perseus, lahir dari Danae, seorang perawan yang mengandung karena hujan emas, dan kisah dari Attis yang beribukan Nana, yang mengandung karena memakan buah delima. Disini juga ada kelahiran orang-orang terkenal – Phytagoras, Plato, Augustus – yang cenderung dijelaskan lewat kisah semacam parthenogenesis (reproduksi dari sebuah ovum tanpa pembuahan), atau lewat campur tangan misterius dari Tuhan. Sangat mungkin bahwa dalam sebuah masyarakat dimana terdapat banyak kisah-kisah semacam ini beredar, orang-orang kristen yang sedang begitu semangat menunjukkan keyakinan imannya akan ketuhanan dari Yesus memakai cara mengemukakan tanda-tanda yang manusia anggap sebagai pertanda dari Tuhan. Tidak salah lagi ini tentunya adalah sebuah tiruan dari kisah yang sama tapi dipengaruhi oleh atmosfir kepercayaan tertentu.

Scholar lain, seperti Adolf Harnack (1851-1930), percaya bahwa legenda Kelahiran dari Perawan ini muncul dari tafsiran ayat-ayat Perjanjian Lama, sebut saja Yesaya 7.14, sesuai dengan teks Yunani dari Septuagint, terjemahan dibuat ditahun 132 SM. Pada kejadian ini, Ahaz Raja Yudea, takut akan serangan baru dari persekutuan raja-raja Siria dan Israel, yang telah gagal mengambil Yerusalem. Nabi Yesaya meyakinkan Ahaz dan berkata:
[7:14-16] Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong.

Orang-orang Kristen dulu waktu mencari-cari semua perkataan nubuat mengenai Messiah, menemukan ayat dari Yesaya ini dan mengambilnya keluar dari konteks, membuatnya punya arti bagi messiah. Yang lebih penting lagi, tulisan asli Hebrewnya tidak ada kata “virgin” (Bethulah) tapi kata “perempuan muda” (Haalmah); dalam bahasa Yunani, “Parthenos” dan “neanis”. Guignebert menyatakan,
Teolog ortodoks berusaha membuktikan bahwa “haalmah” bisa berarti ‘virgin’ tapi tidak ada hasil. Nabi Yesaya tidak berpikir untuk meramalkan sebuah mukjjijat, dan orang-orang Yahudi ketika menyerang orang kristen tidak melewatkan kesempatan menunjuk ayat ini yang bagi mereka adalah sebuah kesalahan tafsir.
Guignebert sendiri tidak menerima teori asal muasal Kelahiran Perawan yang dinyatakan oleh Harnack. Malah, Guignebert mengemukakan hipotesanya sendiri [hal.247]:

Ditelaah bahwa dalam tulisan-tulisan Paulus, Yohanes dan Markus, tak seorangpun dari mereka yang percaya pada Kelahiran dari Perawan, Yesus dikarakterisasikan sebagai anak Tuhan. Penjelasan ini muncul sebelum penetapan kepercayaan mukjijat yang disampaikan oleh Matius dan Lukas, dan bukan berasal dari itu. Segera setelah mereka yakin bahwa, bukan hanya karena Yesus telah diangkat oleh Tuhan dan sebagai manusia yang penuh Roh Kudus serta yang merampungkan rencanaNya, tapi juga bahwa kelahirannya kedunia ini oleh Tuhan telah ditakdirkan dan dimuliakan oleh Roh Kudus, maka mereka mesti berusaha menandai dan mengungkapkan hubungan spesial antara Yesus dan Tuhan. Mereka bilang dia adalah ‘anaknya’, karena hanya istilah itu satu-satunya yang dikenal dalam bahasa manusia dan bisa dimengerti meski tidak sepenuhnya dan secukupnya menerangkan hubungan spesial sebenarnya. Karena gagasan sebagai anak/turunan langsung dari Tuhan tampak seperti kemustahilan bagi orang Yahudi, tapi ungkapan ini bagi orang-orang Palestina pada kenyataannya hanya cara pengucapan belaka, hanya metafora.

Jelas Yesus sendiri tidak pernah menerapkan hal itu mengenai dirinya, dan bahwa di Israel sendiri sampai sekarang tidak ada kepentingan yang berhubungan dengan Messiah. Maksudnya adalah, orang Yahudi tidak memberi Julukan Anak Tuhan pada Messiah yang mereka harapkan. Messiah mestinya bagi mereka bukanlah berarti Anak, tapi Pelayan dari Tuhan (Ebed Yahweh), karena hal itu adalah penunjukkan akan “orang-orangnya Yahweh.” Tapi di Yunani, para kristolog menemukan lingkungan yang sangat berbeda dari Palestina. Disana gagasan prokreasi manusia oleh Tuhan sudah ada dan dikenal dalam budaya mereka dan hubungan yang nyata dari anak-Bapak antara Kristus dan Tuhan Bapa tidak akan mengagetkan orang-orang sana… sebaliknya, istilah Anak Tuhan malah mungkin bisa dipakai utk menarik simpati disana daripada memakai istilah yang keyahudi-yahudian, yg terlalu nasionalistik seperti istilah ‘Messiah’. Dengan demikian, dari semua kemungkinan, dimasyarakat kristen pertama, diantara para Gentiles (orang-orang bukan Yahudi), istilah tersebut mengemuka. Pertamanya, mungkin, hanya terjemahan belaka dari Ebed Yahweh-nya Palestina, karena kata Yunani dari ‘pais’ bisa berarti ‘pelayan’ sekaligus ‘anak- anak/bani’, dan ini transisi yang mudah dari bani menjadi anak. Tapi segera mendapatkan pewarnaan dari gagasan asli kristologi, gagasan yang menemukan kebutuhan dari lingkungannya ini diambil dan diungkap dalam Surat-surat Paulus. Gagasan ini menemukan pembenaran dari pengikut Paulus dan Johannine dalam doktrin keberadaan ilahi serta inkarnasi Tuhan. Legenda Kelahiran dari Perawan adalah pembenaran lainnya lagi, muncul dari lingkungan intelektual yang sama sekali berbeda, tapi mirip dengan yang disebutkan diatas, dan menemukan konfirmasi dari ayat-ayat biblenya, ketika kebutuhan muncul utk membela kontroversi yang dikemukakan oleh orang sekitar, dalam Yesaya 7:14. Matius dan Lukas menampilkan dua perwujudan yang kongkrit, berbeda dalam bentuk tapi sama dalam semangat dan arti dari kepercayaan kristen: “Dia adalah Anak Tuhan. Dia lahir dari Roh Kudus.”

Kelahiran Yesus
Kisah kelahiran Yesus dalam surah 19.22-34 menunjukkan kemiripan yang luarbiasa bukan hanya pada kisah dari Leto, seperti yang ditunjukkan Sale, tapi juga pada kisah yang belum pernah saya lihat dikutip dimanapun, yaitu kelahiran yang bersejarah dari Buddha. Mari kita lihat versi Quran lebih dulu, surah 19.22-34:
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini". Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Auwloh, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.”

Leto – atau dalam bahasa Latin, Latona – adalah Titaness, anak perempuan dari Coeus dan Phoebe. Menurut himne Homer kepada Delian Apollo, Leto melahirkan Apollo ketika mencengkeram pohon palem Keramat. Apollo juga dikatakan telah bisa berkata-kata ketika masih dalam kandungan. Callimachus (ca. 305-240SM) dalam karyanya “Hymn in Delum” mengulangi kisah yang sama.

Menurut legenda kelahiran sang Buddha, Ratu Maya Devi bermimpi seekor gajah putih menghampiri sisi kanannya. Banyak Brahmin meyakinkan sang raja dan ratu bahwa anak mereka suatu hari akan menjadi raja yang besar atau seorang Buddha. Ajaibnya kandungan ini berumur hingga 10 bulan. Ketika menuju orang tuanya, Ratu Maya Devi melahirkan, ia memasuki taman Lumbini dimana ketika itu dia berpegangan pada cabang pohon Shala, sang anak mucnul dari sisi kanannya. Segera setelah lahir, calon Buddha ini berdiri dan berjalan tujuh langkah kearah utara, lalu kearah pusat mata angin bumi untuk mengumumkan kepemilikannya akan jagat raya, dan mengumumkan bahwa ini adalah kelahirannya yang terakhir. Kita sudah mengisahkan kemungkinan sumber langsung dari kisah kelahiran Yesus di Quran, yakni, sebuah buku apocrypha (=yang sebenarnya diragukan kebenarannya) yang berjudul “The History of the Nativity of Mary and the Saviour’s Infancy.”

Apakah Yesus benar-benar ada?
Mungkin orang muslim akan kaget jika tahu bahwa ada dan masih ada scholar yang meragukan keaslian sejarah tentang Yesus, yang keberadaannya oleh para Muslim benar-benar dipercayai. Bruno Bauer (1809-1882), J.M. Robertson (1856-1933), Arthur Drews (1865-1935), van den Bergh van Eysinga, Albert Kalthoff, dan yang lebih baru Guy Fau (Le Fable de Jesus Christ, Paris, 1967), Prosper Alfaric (Origines Sociales du Christianisme, Paris 1959), W.B. Smith (The Birth of the Gospel, New York, 1957), dan Professor G.A. Wells dari Birbeck College, University of London telah mengembangkan semua teori “Mitos Kristus” ini[80]. Professor Joseph Hoffman merangkum situasi demikian sebagai berikut:
Pendapat para scholar masih tetap (meski tidak ngotot) pada dalil figur sejarah dimana kisah kehidupannya banyak diliputi oleh aktivitas pembuat mitos sebuah pengkultusan. (Scholar-scholar lainnya) berpegangan pada pendapat bahwa dalil sebuah figur sejarah tidaklah selalu perlu digunakan untuk menjelaskan keistimewaan “biografikal” dari Injil. Penilaian yang jujur atas bukti yang ada kelihatannya lebih condong pada pendapat yang terakhir, tapi kita juga tidak dapat dengan mudah menghilangkan kemungkinan bahwa benar ada sebuah figur sejarah dibelakang legenda Yesus dalam Perjanjian Baru[81].

Saya lebih suka mendiskusikan bukti-bukti yang ‘tidak bisa begitu saja disepelekan’ akan pendapat bahwa Yesus tidak benar-benar ada karena beberapa alasan:
1. Pertama, umumnya debat-debat, diskusi-diskusi dan argumen- argumen mengenai mitos Yesus menjadi perhatian para muslim selain para kristen juga; atau setidaknya jika para muslim tidak menaruh perhatian, maka harusnya mereka menaruh perhatian. Saya mengira tidak ada buku tentang Islam yang pernah mendiskusikan pandangan- pandangan dari Bauer atau pandangan-pandangan sekolah Radical Dutch mengenai sejarah Yesus. Harusnya menjadi perhatian besar semua orang-orang terpelajar yang tertarik akan asal muasal dan warisan spiritual serta intelektual kita. Sejarah awal kekristenan adalah salah satu bagian penting dari sejarah peradaban. Bagi para muslim, Yesus adalah salah seorang nabi Tuhan dan seorang figur sejarah yang melakukan banyak mukjijat, dan yang akan datang lagi dihari Terakhir serta membunuh Dajjal (Anti Kristus). Jika bisa ditunjukkan bahwa Yesus tidak pernah ada, maka akan ada konsekwensi yang pasti bagi semua muslim, karena ini akan otomatis menganggap kejujuran wahyu Quran mereka dipertanyakan.

Tapi, ini bukan hanya sekedar mempertanyakan sejarah Yesus, tapi apa yang kita lakukan dan dapat kita ketahui tentang dia. Pertanyaan ini harusnya sangat penting bagi semua, khususnya muslim. Muslim percaya Yesus itu pernah ada, dengan demikian semua riset dan semua yang didedikasikan oleh intelektual dan sejarawan terkenal tentang Yesus ini harusnya jadi perhatian penuh mereka. Muslim, dan juga kristen, harusnya menaruh perhatian akan kebenaran dari masalah ini. Bahkan teolog Kristen yang menerima keberadaan Yesus juga menghadapi sejumlah masalah dari sebagian kehidupan Yesus yang belum terpecahkan. Kebanyakan kisah-kisah dalam Perjanjian Baru mengenai kehidupannya sekarang telah diterima sebagai legenda tanpa dasar sejarah, bahkan oleh teolog kristen konservatif sekalipun. Scholar Perjanjian Baru Ernst Kasemann menyimpulkan: “Dalam beberapa subjek jika ada pertentangan pendapat yang pahit diantara para scholar selama dua abad ini maka itu adalah mengenai kisah- kisah mukjijat dalam Injil.. Kita bisa bilang saat ini pertentangan itu telah selesai, mungkin demikian diarena kehidupan gereja, tapi dalam bidang teologi sains tidaklah demikian. Pertentangan ini berakhir dengan kekalahan konsep mukjijat yang menjadi tradisi pada gereja- gereja.”[82]

Lalu dimana posisi Quran? Tidak satupun kisah-kisah Yesus dalam Quran diterima sebagai kebenaran; kebanyakan kisah-kisah itu berisi takhyul dan mukjijat yang keterlaluan yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang percaya Quran saja. Layak disebutkan bahwa jika Quran itu sungguh-sungguh benar dan merupakan Kalimat Langsung dari Tuhan, lalu kenapa tidak ada teolog Kristen yang memakainya sebagai bukti dari Keberadaan Yesus? Tidak ada sejarawan yang pernah sekali saja melirik Quran sebagai penerang sejarah, dengan alasan yang sama seperti juga tidak ada sejarawan yang akan melirik sebuah dokumen, dimana dokumen tersebut berupa karya manusia yang ditulis 600 tahun setelah kejadian, padahal sudah ada dokumen- dokumen yang ditulis hanya 50-60 tahun setelah kejadian itu. Kita juga tahu sumber-sumber dari kisah-kisah dalam Quran, yaitu berasal dari injil-injil Gnostik Penghujat seperti Injil Thomas, yang dianggap oleh para sejarawan sebagai bertentangan dengan sejarah.

Bahkan meski jika kita tidak menerima tesis bahwa Yesus pernah ada, kesimpulan dari para sejarawan Perjanjian Baru menghasilkan sesuatu yang memberi pertumbuhan positif dalam agama dan mitologi religius; lebih jauh lagi, mereka menunjuk pada kemiripan yang ada pada teori- teori baru yang diajukan oleh para scholar Islam dalam kebangkitan Islam dan legenda Muhammad dalam hadis-hadisnya.

2. Banyak kecaman dari kekristenan yang ditemukan dalam karya- karya yang didiskusikan, pengubahan-pengubahan, yang ada dalam seluruh agama-agama, termasuk Islam.

3. Diskusi mengenai kesejarahan Yesus telah dilakukan di Eropa dan Amerika selama lebih dari 150 tahun, tanpa ada satupun scholar yang menyangkal keberadaaan sejarah Yesus terancam dibunuh. Benar, Bauer dikeluarkan dari posisi teologinya di Universitas di Bonn tahun 1842, tapi dia terus mempublikasikan karyanya sampai meninggal. Professor Wells masih hidup (1994) dan sehat serta mengajar di Universit of London sampai 1971 dan dia masih tetap menyangkal bahwa Yesus pernah ada. Ini semua bisa jadi pelajaran bagi dunia Islam.

4. Dogmatisme buta telah mengurung muslim dari tantangan dan kemeriahan riset, debat dan diskusi satu setengah abad belakangan ini. Meminjam perkataan Joseph Hoffman: “Lewat diskusi-diskusi demikian kita menghindar dari dogmatisme masa lalu dan belajar menghormat ketidak pastian sebagai pertanda pencerahan.”[83]

5. Juga ada metodologi moral yang lebih mendalam untuk dipelajari dari diskusi berikut ini. Kebaikan dari pertanyaan-pertanyaan sejarah disepelekan meski jika kita membawanya kedalam iman Islam atau Kristen. Riset sejarah hanya berujung pada pendekatan kebenaran objektif, setelah sebuah proses dugaan dan pembuktian kesalahan, pemikiran kritis, argumen rasional, penyajian bukti dan lain-lain. Tapi, jika kita membawa subjektifitas iman religius dengan kepastian dogmatismenya kedalam “proses perkiraan sejarah, hal ini jelas menyepelekan apa yang R.G. Collingwood perdebatkan berupa atribut fundamental dari sejarawan kritis, skeptis mengenai kesaksian akan masa lalu.”[84]


ARGUMEN-ARGUMEN
Strauss
Dalam karyanya Life of Jesus Critically Examined (1835), David Strauss menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengambil Injil sebagai biografi sejarah; bukan itu fungsi utamanya. Kristen awal ingin memenangkan orang agar masuk Kristen ‘lewat propagasi mitos religius yang sintetis.”[85]
Tesis utama Strauss adalah bahwa kisah-kisah dalam perjanjian baru adalah hasil dari harapan-harapan messianik orang-orang Yahudi.

Para penginjil membuat seakan Yesus melakukan dan mengatakan apa yang mereka inginkan – dari pengetahuan yang mereka dapat di Perjanjian Lama – bahwa Messiah akan melakukan anu dan mengatakan anu; dan banyak ayat-ayat yang nyatanya tidak ada referensinya bagi Messiah tapi diambil juga seakan sebagai ramalan tentang Messiah. Dengan demikian, “Yesaya 35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan” mengungkapkan kegembiraan orang-orang yahudi buangan di Babylon ketika mengetahui kabar akan dibebaskannya mereka, tapi diartikan oleh para penginjil sebagai ramalan akan Messiah yang akan menyembuhkan orang buta, yang lalu mereka buat seakan memang Yesus melakukan itu.[86]

Bauer
Bauer lebih berani lagi dan menyatakan bahwa orang-orang Kristen awal menemukan Yesus Kristus dari penggambaran nabi-nabi yang ada dalam Perjanjian Lama. Yesus tidak pernah ada dan kekristenan yang bangkit di pertengahan abad pertama berasal dari gabungan gagasan Judaic dan Greco-Roman. Bauer berpendapat, contohnya, bahwa orang kristen memakai istilah Yunani “Logos” yang berasal dari Philo, Stoicisme, dan Heraclitus. Bagi Philo, Logos adalah kekuatan kreatif yang memerintah dunia dan sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Tentu saja, dalam Injil Yohanes, Logos disamakan dengan Tuhan, yang lalu berinkarnasi jadi Yesus Kristus. Sedang untuk pengaruh-pengaruh klasik lainnya dalam kekeristenan mulai diawal abad 4 penulis-penulis anti kristen menunjuk pada kemiripan kehidupan Yesus dengan kehidupan dari Apollonius dari Tyana, seorang pengajar Neo-Pythagorean yang lahir sebelum era Kristen. Dia melakukan kehidupan berkelana dan bertapa, mengaku punya kekuatan mukjijat, dan selalu berada dalam bahaya sepanjang kehidupannya selama kekuasaan Kaisar Roma Nero dan Domitian. Para pengikutnya menyebut dia sebagai Anak Tuhan; mereka juga bilang dia dibangkitkan didepan mata mereka sendiri dan naik ke surga.

Misteri kultus Mithra ini pertamanya ada didunia Romawi pada pertengahan abad pertama SM. Kultus ini mengembangkan ritual dan upacara serta tahapan-tahapan rahasia untuk inisiasi para pengabdi dewa-dewi itu untuk lulus. Misteri Mithraic juga menunjukkan kemiripan dengan Baptisan dan Ekaristi kekristenan.

Kristen awal menyebutkan perkataan-perkataan Yesus yang pada kenyataannya hanyalah gambaran dari pengalaman, keyakinan dan harapan-harapan dari masyarakat Kristen itu sendiri, bukan benar-benar perkataan dari Yesus. Contoh, Markus 1:14-15: Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Tuhan, kata- Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Tuhan sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Yesus tidak pernah mengucapkan ini – perkataan-perkataan itu hanyalah :
Ungkapan dan pendapat komunitas Kristen awal yang menyatakan bahwa waktunya sudah tiba untuk kemunculan dan penyebaran kekristenan. Tapi seiring waktu banyak usaha-usaha dilakukan untuk menemukan indikasi-indikasi sejarahnya – hari-hari di jaman itu yang tercatat dalam Perjanjian Baru hingga jaman Kekaisaran – Bahwa persiapan yang progresif utk jaman keselamatan sudah jelas. Masing- masing generasi baru menganggap jamannya adlah jaman Penggenapan Perjanjian. Kristen awal juga percaya, lewat pengetahuan mereka dari perjanjian Lama, bahwa sebelum Penyelamat datang Eliya akan kembali ke bumi. Setelah mereka menganggap Yohanes pembaptis sebagai kembalinya Eliya, mereka secara otomatis percaya bahwa Penyelamat yang berikutnya akan segera datang; dan pada akhirnya sebuah cerita dibuat dimana “sang penyelamat” ini dibuat seakan menyebut Yohanes Pembaptis sebagai Elia. (Markus 9.13)[87]

Wrede
Mengakui karyanya berhutang pada karya Bauer, Wilhelm Wrede yang menulis diawal abad 20 menunjukkan bahwa injil Markus “disaring dengan kepercayaan teologis dari komunitas Kristen awal. Bukannya sebuah biografi, injil ini adalah pembacaan kembali ke dalam kehidupan Yesus, iman dan harapan dari gereja-gereja awal yang menganggapYesus sebagai Mesiah dan Anak Tuhan.”[88]

Kalthoff
Albert Kalthoff, juga menulis diawal abad ini, berpendapat bahwa kita bisa menjelaskan asal muasal kekristenan tanpa harus menempatkan penemu sejarah. Kekristenan bangkit dengan ledakan spontan ketika “materi religius dan sosial yang mudah terbakar, yang dikumpulkan oleh kekaisaran Romawi, bergesekan dengan harapan-harapan akan kedatangan Messiah milik orang Yahudi.”[89] “Dari sudut pandang sosio-religius, figur Kristus adalah ungkapan religius yang dihaluskan utk kekuatan-kekuatan sosial dan etikal yang sedang bekerja pada perioda tertentu.”

Bukti-bukti Non Kristen
Meski ada fakta sekitar 60 sejarawan aktif di abad pertama kekaisaran Romawi, tapi sedikit sekali koroborasi (bukti-bukti yang menguatkan) akan kisah kristen tentang Yesus yang berasal dari luar tradisi kristen. Yang ada malah sangat tidak meyakinkan dan tidak menolong sama sekali, seperti Josephus, Tacitus, Suetonius, Plinty.[90]

Injil-injil
Kita mengenal bahwa injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohannes) tidak ditulis oleh murid-murid Yesus. Injil itu bukanlah kesaksian langsung, dan ditulis oleh penulis yang tidak dikenal sekitar 40 sampai 80 tahun setelah penyaliban Kristus. Matius, Markus dan Lukas biasanya disebut Injil Sinoptik karena kesamaan subjek dan kemiripan frase pada ketiganya. Markus dianggap yang lebih awal dari ketiga injil itu dan mungkin juga dipakai sebagai sumber oleh dua injil lain. Sangat tidak mungkin bahwa apa yang katanya diucapkan oleh Yesus dalam injil benar-benar pernah diucapkan oleh figur sejarah Yesus yang sebenarnya. Seperti disimpulkan oleh Hoffmann:
Sangat Sulit bahkan untuk membicarakan sekalipun seorang Yesus yang asli menurut “sejarah”, jika melihat proporsi dan kesegeraan proses pembuatan mitos yang mengkarakterisasi hari-hari awal pengultusan Yesus. Apa benar ada pendiri sejarahnya atau tidak (dan ini tidak begitu diperlukan karena kesaksian misteri dari agama-agama, demi suksesnya sebuah pengultusan dan kisah-kisah yang berkaitan dengan pendirinya itu), para scholar sekarang menganggap pasti bahwa Injil adalah kompilasi atau kumpulan ‘tradisi2/hadis-hadis’ yang ditulis oleh orang-orang Kristen awal bukannya oleh penulis-penulis sejarah.[91]

Pengadilan Sanhedrin, pengadilan dihadapan Pilatus, dan faktor utama dalam kisah Passion of Christ, punya masalah serius, dan kita tidak dapat menganggapnya sebagai kejadian sejarah; tapi semua itu dikarang oleh orang kristen awal. Seperti Nineham katakan, kebanyakan yang kita temukan dalam injil Markus mungkin adalah kesimpulan dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai apa yang ‘harusnya’ terjadi ketika Sang Messias datang.”[92]

-----------
[78] Dikutip oleh Feuerbach, hal.304
[79] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.233-252
[80] Artikel Wells, G.A. “Jesus, Historicity of.” In KU, vol.1.
[81] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.179
[82] Dikutip dalam Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986, Hal.135-136
[83] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.21-22
[84] Ibid., hal.199
[85] Ibid., hal.13
[86] Wells, G.A. Artikel “Strauss.” In KU, vol. 2. Hal.657
[87] Wells, G.A. Artikel “Bauer.” In KU, vol.1. hal.44-46
[88] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.15
[89] Ibid., hal.184
[90] Stein, Gordon. An Anthology of Atheism and Rationalism. Amherst, N.Y., 1980. Hal.178
[91] Hoffmann, R. Joseph. The Origins of Christianity. Amherst, N.Y., 1985. Hal.177
[92] Ibid., hal.184


SURAT-SURAT PAULUS
Surat-surat Paulus ditulis sebelum Injil Markus dan mengherankan bahwa didalamnya tidak ditemukan rincian mengenai kehidupan Yesus seperti yang kita temukan dalam injil; tidak ada rujukan tentang orang tua Yesus, atau kelahiran dari seorang Perawan, atau tempat kelahiran Yesus; tidak juga disebutkan tentang Yohanes Pembaptis, Yudas, atau tentang penyangkalan Petrus. Seperti G.A. Wells[93] tunjukkan, “tidak ada indikasi tentang waktu atau tempat keberadaan Yesus di bumi. Tidak pernah ada acuan tentang pengadilan di hadapan petinggi Romawi, tidak juga tentang Yerusalem sebagai tempat eksekusinya. Tidak disebutkan tentang mukjijat-mukjijat yang katanya dia lakukan.” Bahkan doktrin-doktrin Yesus dalam injil yang jelas bisa dipakai oleh Paulus dalam doktrinnya, tetap tidak ada.

Surat-surat Paulus awal yang ditulis sebelum 90M, juga tidak memberikan perincian sejarah yang meyakinkan. Hanya dalam surat-surat yang terakhir, yang ditulis sekitar 90M–110 M, kita mendapatkan rincian yang kita telah kenal lewat injil. Akibatnya, Wells[94] menyimpulkan:
Sejak itu, surat-surat terakhir ini memberikan biografi Yesus, jadi tidak bisa dikatakan bahwa secara keseluruhan surat-surat Paulus ini tidak tertarik akan biografi Yesus, dan perlu ditanya kenapa surat-surat awal lainnya (bukan hanya surat Paulus) menulis sejarahnya Yesus dengan cuma sekilas saja. Perubahan penulisan mengenai Yesus setelah tahun 90M dapat dimengerti jika kita menerima bahwa kehidupannya dibumi pada abad pertama di Palestina ini hanya dikarang belakangan saja. Tapi untuk menganggap eksistensi Yesus saat itu sebagai fakta sejarah tetap akan mengundang teka teki.

Penanggalan Injil Markus
Kapan dan kenapa biografi Yesus pertama kali dikembangkan? Perincian kehidupan Yesus pertama muncul dalam tulisan-tulisan Markus, yang dianggap sebagai injil awal dan banyak scholar Perjanjian Baru menetapkan tanggal pembuatannya ditahun 70M. Tapi G.A. Wells berkeras bahwa Markus ditulis sekitar 90M, ketika “Agama Kristen di Palestina disibukkan oleh Perang Yahudi vs Romawi, dan orang-orang Kristen Gentile (bukan Yahudi) yang pertama menghubungkan Yesus dengan Pilatus dan memberi kehidupan Yesus sebuah setting sejarah, hanya mendapatkan pengetahuan tidak lengkap akan apa yang benar- benar terjadi di Palestina pada sekitar tahun 30M.”[95] Para pembela Kristen mengarang setting sejarah dan perincian akan kehidupan Yesus agar bisa menjawab tentangan Docetisme (Doktrin yang percaya bahwa tubuh kristus bukan tubuh manusia, tapi fantasi atau memang berupa tulang dan daging tapi berasal dari luar angkasa) yang menyangkal kemanusiaannya Yesus, menangkal mitos-mitos yang beredar di kalangan Kristen, untuk menetapkan realitas akan kebangkitannya, dan umumnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dunia yang sangar dan skeptis terhdp Kristen saat itu.

BANGKITNYA ISLAM & ASAL MUASAL AGAMA KRISTEN
Dalam bab 3 kita melihat teori kebangkitan Islam dari generasi baru akademisi Islam. Kita sekarang berada dalam posisi untuk menilai kemiripan dari teori ini dengan teori-teori yang disajikan diatas mengenai asal muasal dari Agama Kristen. Kita mencatat sebelumnya bagaimana Goldziher mengabaikan banyak hadis tentang kehidupan Nabi, karena dianggap palsu. Goldziher menganggap sejauh ini bagian terbesar dari hadis adalah merupakan pengembangan sosial, religius dan sejarah dari Islam selama dua abad awalnya. Hadis tidak berguna sebagai dasar sejarah apapun dan hanya berfungsi sebagai penggambaran kecenderungan komunitas muslim awal. Dalam bagian berikutnya, kita mencatat bagaimana orang Kristen awal menempelkan perkataan-perkataan pada Yesus padahal kenyataannya perkataan-perkataan itu hanya menggambarkan pengalaman, harapan dan pendirian dari komunitas Kristen belaka.

Sama seperti telah kita temukan bahwa orang-orang Kristen awal mengarang perincian kehidupan Yesus untuk menjawab masalah-masalah doktrin mereka, kita juga menemukan orang-orang Arab pembawa kisah mengarang materi-materi biografi tentang Muhammad dg tujuan utk menjelaskan ayat-ayat sulit dan membingungkan dalam Quran.

Mari kita bandingkan komentar Schacht[96] mengenai hadis dalam konteks legalnya dan apa yang kita dapatkan dari penilaian Wrede tentang Injil Markus. Tradisi dibentuk secara polemik demi menyanggah doktrin-doktrin atau praktek-praktek yg bertentangan; doktrin-doktrin yang ada dalam atmosfir polemik ini dengan seringnya disebutkan berasal dari otoritas yang lebih tinggi: “Hadis-hadis dari nabi menjadi hadis dari sahabat (nabi) dan hadis dari sahabat menjadi hadis dari nabi.” Perincian dari kehidupan sang nabi dikarang demi mendukung dan melegalkan doktrin-doktrin tersebut.

Wrede menunjukkan bahwa Injil Markus penuh dengan kepercayaan dan harapan-harapan dari komunitas Kristen awal, bukannya kisah sebenarnya dari Yesus.[97]

Kedua agama itu pada awal munculnya, ketika kontak dan konflik dengan komunitas lain yang memiliki tradisi religius sendiri, berkembang dan mengeluarkan pembelaan akan posisi doktrin mereka dengan mengarang rincian biografi dari pendiri agama tersebut yang lalu mereka proyeksikan kembali kedalam asal muasal sumbernya yaitu Arab (utk Islam) dan Palestina (untuk KRISTEN). Agama Kristen bangkit dari gabungan gagasan Yudaisme dan Yunani-Romawi, Islam bangkit dari Talmud, Yudaisme, Kristen Siria dan secara tidak langsung juga dari Yunani-Romawi.

Seperti Morton Smith[98] nyatakan, “gereja-gereja abad awal tidak punya tubuh injil yang tetap, jangankan Perjanjian Baru.” Sementara itu, kini jelas bahwa teks-teks definitif dalam Quran masih juga belum dicapai pada abad ke-9.

Hari Kiamat
Pusat dari dalil islam adalah doktrin Hari Kiamat. Beberapa istilah dipakai dalam Quran utk menandakan hari ‘menakjubkan’ ini; Day of Standing Up, Day of Separation, Day of Reckoning, Day of Awakening, Day of Judgment, The Encompassing Day, atau lebih sederhana dan mengerikan lagi, The Hour. Sumber mutakhir dari ide-ide Muhammad akan Hari Kiamat ini berasal dari Aliran Kristen SYRIA.

Kisah-kisah dari Siria tentang hari Kiamat tersebut jelas-jelas mencengkeram imajinasi Muhammad, karena Quran penuh dengan perincian mendetil akan hari Kiamat ini; kejadian ini akan ditandai dengan tiupan terompet, terbelahnya surga/langit, hancurnya gunung-gunung jadi debu, menggelapnya langit, mendidihnya laut, terbukanya kuburan-kuburan dengan dipanggilnya manusia dan jin. Makhluk-makhluk ini lalu akan ditimbang perbuatan baiknya oleh sebuah Timbangan, dinilai oleh Tuhan, lalu ditetapkan apakah masuk Surga atau disiksa dalam neraka. Teror dari hari Kiamat ditekankan berulang-ulang lagi dan lagi, khususnya dalam ayat-ayat Mekah paling akhir, tepat sebelum Muhammad hijrah ke Medinah. Lelaki dan perempuan akan dibangkitkan, yaitu dibangkitkan dalam arti sebenarnya bersama dengan tubuh fisik mereka.

Kita tahu bahwa gagasan kebangkitan tubuh ini asing bagi pemikiran Arab, karena orang-orang pagan/berhala Mekah mengejek ide absurd ini. Para filsuf Pagan dalam polemiknya dengan orang Kristen juga mengajukan pertanyaan yang mirip: “Bagaimana caranya orang mati bangkit? Dan memakai tubuh siapa mereka bangkitnya? Apa yang sudah membusuk akan segar kembali, apa anggota tubuh yang berlepasan akan disatukan kembali, apa bagian tubuh yang termakan bisa dikembalikan… Orang-orang yang tenggelam di laut, orang yang dicabik-cabik dan yang dimakan binatang liar, yang tidak bisa dikembalikan ketanah.”[99]

Semua doktrin mengenai kelangsungan hidup, keabadian, kebangkitan menghadapi tantangan yang jelas bahwa semua manusia, lelaki atau perempuan, akan mati dan dikubur atau dikremasi, bahkan jika dikuburpun tubuh mereka akan hancur, busuk – yang sudah busuk tidak akan jadi segar lagi.

Doktrin Muslim berdasarkan pada kelangsungan hidup tubuh secara fisik: “Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?" Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Auwloh yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang- orang lalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (Surah 17.9)

Tapi ada satu keberatan akan cerita demikian, yang Antony Flew[100] kemukakan:
Jelas Auwloh yang Maha Kuasa mestinya punya “kekuatan untuk menciptakan tubuh yang serupa dengan mereka.” Tapi jika Auwloh melakukan itu, berarti sang Nabi telah keseleo bicara. Karena dengan membuat objek tubuh yang persis, mirip, tak bisa dibedakan dari objek pertama yang sudah rusak total dan yang sudah menghilang, sama saja dengan membuat ‘bukan objek yang sama’, tapi sebuah ‘replika’. Menghukum atau memberi pahala pada sebuah replika yang dibuat pada hari Kiamat karena dosa dan kebaikan dari si Antony Flew lama yang sudah mati dan dikremasi ditahun 1984 sangatlah tidak pantas dan tidak adil, sama saja dengan memberi pahala atau menghukum seorang kembar identik akan sesuatu yang dilakukan oleh saudara kembarnya yang mati duluan tadi.

Muslim semakin tertimpa oleh kontradiksi. Mereka bilang semua manusia akan menghadap penciptanya (atau pencipta replika kita) di hari Kiamat, TAPI pada surah 2.159 dan surah 3.169 dikatakan bahwa pejihad yang meninggal dalam peperangan di Jalan Auwloh akan hidup dan berada dihadapannya saat itu juga. Tuhan dengan demikian membangkitkan mereka sebelum Hari Kiamat. Demikian pula dengan musuh-musuh Islam, Tuhan akan mengirim mereka langsung ke neraka, tanpa menunggu hari Kiamat terlebih dahulu. Pertanyaan menarik muncul di jaman transplantasi organ sekarang ini. Jika seorang pejuang suci Islam mati ketika berperang dijalan Auwloh, dan disaat itu organnya, misal jantung, ditransplantasikan ke orang lain, bagaimana si pejuang suci itu dibangkitkan tubuhnya. Dalam hal ini, tubuh yang sama tidak akan ‘sama’, karena hanya sebuah replika dengan jantung yang ‘lain’.

Jawaban “semuanya mungkin bagi Auwloh” hanyalah pengakuan akan irasionalitas mendasar dari doktrin kebangkitan ini. Secara umum, meski selama berabad-abad ada budaya pemanggilan arwah, medium, sihir dan segala macam mistik, tak satupun pernah ada bukti yang meyakinkan akan keberadaan hidup sesudah mati. Selain dari kesombongan pribadi, jelas rasa takut mati adalah penyebab adanya kepercayaan akan hidup dimasa datang, meski semua indikasi mengatakan sebaliknya.

Keberatan Moral mengenai Doktrin Kiamat
Apa hal yang belakangan dipinjam Muhammad dari Kristen? PenemuanPaulus, tujuannya melanggengkan tirani ulama, pengelompokan orang: kepercayaan akan imortalitas – itulah doktrin hari kiamat (yg dipinjam muhammad). - Nietzsche, The Anti Christ.[101]

Diluar keberatan logis dan empiris mengenai doktrin kebangkitan tubuh, ada keberatan moral yang kuat terhadap pendapat islam mengenai hidup sesudah mati. Nietzsche berpendapat dalam Twilight of the Idols dan The Anti Christ bahwa membicarakan Hidup Sesudah Mati sama saja dengan merendahkan, menghinakan dan menodai kehidupan yang sekarang. Bukannya membuat kehidupan yang sekarang menjadi berarti, doktrin Hidup Sesudah Mati malah membuat kehidupan sekarang jadi tak berarti.

Menciptakan dongeng tentang sebuah dunia ‘lain’ selain dunia ini tidak ada artinya sama sekali, kecuali cuma menjadi fitnah, umpatan, pengurangan dan curiga akan hidup yang telah diberikan pada kita sekarang; sepertinya kita membalas dendam akan hidup yang sekarang dengan sebuah khayalan akan kehidupan lain yang ‘lebih baik’.[102]
Hari Kiamat adalah balas dendam yang nikmat… Alam Baka (Beyond) --- alam disebut 'baka' hanya untuk menghina dunia yang ada ini ?[103]

Terlebih lagi, alam baka adalah sebuah cara bagi orang yang mengaku nabi untuk mempertahankan kekuasaannya, untuk menteror orang dengan siksaan neraka dan juga membujuk mereka dengan kenikmatan surgawi. Konsep alam baka, Hari Kiamat, keabadian jiwa dan jiwa itu sendiri adalah sebuah alat penyiksaan, sistem kejam yang mempertahankan nabi agar tetap menjadi tuan.[104]

Muhammad mampu mengembangkan salah satu warisan terjelek dalam ajaran Quran, yaitu Perang Jihad (dibahas di bab 10), dengan pertolongan pahala disurga bagi para martir/syuhada/sahid yang mati dijalan Islam. Seperti kata Russel, “pada tahap tertentu pengembangannya, spt dibuktikan oleh para Mohammadan, kepercayaan akan Surga punya nilai militer yang sangat besar untuk memperkuat sifat-sifat suka beperang mereka.”[105]

Sepanjang sejarah Islam, mereka yang siap mati demi agama telah diperalat secara mengerikan, para martir dipakai sebagai pembunuh (assassin) politik, jauh sebelum para pembunuh modern bermunculan diabad 11 dan 12. Teroris Timur Tengah diabad modern atau Mujahidin dianggap sebagai martir dan dimanipulasi untuk alasan-alasan politis dengan hasil yang hebat. Kebanyakan dari mereka telah kebal dari rasa takut. Seperti kata Dawkins, “Karena kebanyakan dari mereka sungguh-sungguh percaya bahwa seorang martir yang mati akan dikirim langsung ke surga. Benar-benar senjata yang hebat! Kepercayaan pada agama ini layak mendapat bab tersendiri dalam buku sejarah teknologi Perang, sejajar dengan Panah Besar, Kuda Perang, Tank dan Bom Netron.”[106]

Hidup harusnya membuat manusia sadar akan keindahan dan keberhargaannya. Fakta nyata bahwa hanya inilah satu-satunya kehidupan yang kita punya harusnya membuat kita mencoba dan memperbaikinya sebaik mungkin.

Jika pusat kehidupan seseorang tidak berada pada kehidupan yang sekarang, tapi pada alam baka, orang itu sama saja mencerabut seluruh kehidupannya (kehidupan yang sekarang dan kehidupan alam baka yang dia percayai ada padahal tidak ada). Kebohongan besar akan keabadian manusia menghancurkan segala alasan, segala naluri alaminya, naluri kebaikan dan setiap naluri untuk memajukan kehidupan berubah menjadi kecurigaan. Hidup macam itu, bahwa seakan tidak ada gunanya lagi, ITULAH yang kini menjadi "tujuan" hidup, yaitu untuk secepatnya mati di jalan Auwloh. Untuk apa rasa kebersamaan, untuk apa keturunan, nenek moyang, dan generasi yang akan datang bekerja sama, percaya, memajukan dan membayangkan kesejahteraan bersama?[107]

Etika Rasa Takut
Agama utamanya dan pokoknya didasarkan pada rasa takut. Sebagian karena rasa takut atau teror akan hal-hal yang tidak kita ketahui, dan sebagian lagi pada keinginan utk merasakan bahwa kita punya seseorang atau sesuatu yang akan membantu dalam segala kesulitan dan pergumulan. Rasa takut adalah dasar dari semuanya – rasa takut akan misteri, akan kalah, akan mati. Rasa takut adalah Induk kekejaman, tidak heran jika kekejaman dan agama selalu berjalan bersamaan. - Bertrand Russel.[108]

Kita sudah mengacu pada fakta bahwa sistem etika Quran seluruhnya didasarkan pada rasa takut. Muhammad memakai kemarahan Tuhan sebagai senjata untuk mengancam musuh-musuhnya, menteror pengikutnya sendiri agar bertindak sesuai keinginannya dan patuh sepenuhnya pada dia. Seperti dikatakan Sir Hamilton Gibb, “Bahwa Tuhan adalah Tuan yang Maha Kuasa dan manusia adalah makhlukNya yang selalu ada dalam bahaya akan kemarahanNya – inilah dasar dari semua teologi dan etika muslim.” [109]

Gagasan akan hukuman tiada akhir juga tidak sesuai dan tidak pantas dengan ide Tuhan Maha Pemurah dan Maha Penyayang; bahkan lebih tidak sesuai lagi jika kita gabungkan dengan doktrin Quran akan takdir. Tuhan khusus menciptakan makhluk untuk mengisi neraka.

Terakhir, rasa takut merusak semua moralitas sejati – dibawah beban rasa takut ini manusia bertindak diluar hal-hal bijaksana demi menghindari siksaan neraka, yang sama tidak nyatanya seperti kenikmatan tempat pelacuran surga yang ditawarkannya.

Hukuman Ilahi
Quran menjatuhkan hukuman yang hanya bisa disebut barbar. Para relativis membela kebiasaan-kebiasaan tidak manusiawi yang dituliskan dalam Quran ini dg mengklaim bahwa itu semua adalah praktek-praktek normal dijamannya tapi mereka mendapatkan diri mereka terdiam ketika dihadapkan pada kekejian yang ditimbulkan ketika hukuman-hukuman itu dilakukan diabad 20, abad yang katanya telah dicerahkan. Padahal Quran adalah perkataan Tuhan – harus selalu benar utk segala jaman.

Amputasi (Pemotongan anggota tubuh)
Surah 5.38 mengatakan : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Auwloh. Dan Auwloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Menurut hukum Islam, “tangan kanan pencuri harus dipotong pada pergelangan tangan dan ujung lengannya bekas potongan tersebut lalu dibakar, dan untuk pencurian kedua, kaki kiri dipotong, untuk pencurian berikutnya dia harus ditambah dengan menderita dipenjara.” [110]

Penyaliban
Surah yang sama 5.33 berkata: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Auwloh dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,”

Perempuan dipenjara
Karena tindakan zinah, Quran tidak mengatakan apapun akan perajaman sebagai hukuman zinah. Tapi Quran mengatakan dalam surah 4.15 : “Dan (terhadap) para perempuan yang mengerjakan perbuatan zinah, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (perempuan-perempuan itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Auwloh memberi jalan yang lain kepadanya.”

Pencambukan
Tapi dalam sura 24.2-4 dikatakan seratus cambukan untuk zinah: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Auwloh”
Rajam diterapkan pada tahap berikutnya. Seperti kita catat sebelumnya, ayat rajam bisa jadi pernah menjadi bagian dari Quran, tapi ini disangkal oleh beberapa scholar Islam.

Para pembela Islam sering berpendapat bahwa hukum Islam sesuai dengan Hak Asasi Manusia. Artikel 5 dari Deklarasi HAM 1948 menyatakan, “tidak boleh ada penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang merendahkan, tidak manusiawi atau kejam.” Jadi ... memotong tangan, mencambuk dan merajam itu manusiawi atau tidak yah ?

Kesalahan Sejarah dalam Quran
Dalam Surah 40.36 Quran keliru mengidentifikasi Haman, yang aslinya adalah mentri Raja Persia Ahasuerus (ada dalam kitab Ester), di Quran Haman disebut sebagai mentrinya Firaun di jaman Musa.
Kita juga sudah tahu kekeliruan Maria, ibunya Yesus, dengan Maria saudara perempuannya Musa dan Harun dalam surat 19.28. Dalam surah 2.249 dan 250 jelas ada kebingungan antara kisah Saul disana dengan kisah Gideon di Hakim-hakim 7.5

Kisah Aleksander Agung dalam Quran (18.83) adalah ngawur, kacau dan parah secara sejarah; kita yakin bahwa kisah dalam Quran itu didasarkan pada roman sejarah dari Aleksander Agung. Dilihat dari hal apapun, orang Macedonia itu bukanlah seorang muslim dan tidak hidup dijaman kuno ataupun sejaman dengan Abraham seperti yang dipercaya muslim.

Peraturan bagi komunitas Muslim
Quran berisi juga aturan-aturan dan kaidah-kaidah lain untuk bertingkah laku sebagaimananya seorang muslim dalam komunitasnya. Kita bisa melihat posisi perempuan, tentang perkawinan dan cerai didalam surah 14, institusi perbudakan dan doktrin perang suci di surah 8 dan 9, dan larangan-larangan makan minum tertentu di surah 15. Resep sosial lain mengenai zakat, bunga, warisan, sholat, ibadah haji dan puasa. Sebagian dilakukan sebagai kewajiban dan yang lainnya bukan. Quran juga menggabungkan banyak aturan moral yang, meski bukan orisinil ataupun dalam, tapi tak ada yang protes: tentang kebaikan dan rasa hormat pada orang yang lebih tua dan pada orang tua, murah hati pada yang miskin, memaafkan bukannya membalas. Juga berisi ayat- ayat tentang keindahan dan kebesaran. Tapi untuk keseimbangan, efek ajaran Quran membuat bencana bagi kemajuan akal dan sosial, intelektual dan moral. Jauh sekali jika disebut perkataan-perkataan dari Tuhan, karena isinya banyak prinsip-prinsip barbar yang tidak pantas berasal dari makhluk Maha Kuasa yang Maha Pemurah. Bukti-bukti banyak dan cukup disediakan yang menunjukkan bahwa Quran berisi jejak-jejak Muhammad, yang nilai moralnya serupa dengan pandangan dunia diabad ke-7 sat itu, sebuah pandangan yang tidak lagi kita anggap sebagai valid/sah.

Tentang Agama Umumnya, dan Islam Khususnya
Orang sering diberitahu bahwa menyerang sebuah agama adalah salah karena agama membuat orang jadi baik. Sayapun diberitahu; tapi saya tidak melihat itu benar. -Bertrand Russell.[111]

Tidak ada alasan yang cukup untuk percaya agama manapun itu benar. Malah kebanyakan hanya membuat klaim yang menunjukkannya sebagai palsu atau tidak mungkin. Meski begitu, beberapa filsuf terkenal berpendapat bahwa, meski palsu, agama-agama ini perlu utk bimbingan moral, pengendalian moral dan kestabilan sosial. Filsuf Quine berkata, “Tetap ada pertanyaan akan nilai sosial dari pengendalian dan tujuan yang ditanamkan dalam agama-agama tertentu, walau fakta-fakta yang ada tentang agama itu palsu. Jika nilai agama ini memang sebesar yang saya kira, maka akan timbul dilemma melankolis antara pencerahan sains dan pengembangan delusi.” [112]

Pandangan demikian salah secara empiris dan menjijikan secara moral. Mari kita lihat bukti, pertama, seperti Russel [113] kemukakan: "Berdasarkan fakta, semakin hebat sebuah agama dan semakin besar kepercayaan dogmatisnya, semakin besar juga kekejaman dan keburukannya. Dijaman ketika orang sungguh-sungguh percaya akan agama, ada inkuisisi dengan siksaannya, dimana jutaan perempuan malang dibakar dengan tuduhan tukang sihir; dan banyak lagi segala macam kekejaman yg dipraktekkan dalam nama agama."

Kita semua fasih benar akan peperangan yang dilakukan atas nama agama Kristen, tapi kita sama sekali blo’on akan peperangan yang dilakukan Muslim untuk Islam. Saya mendiskusikan intoleransi dan kekejaman Islam di bab 9. Saya hanya akan tunjukkan beberapa kekejian yang dilakukan atas nama Auwloh di abad 20. Selama beberapa tahun belakangan ini, para pemimpin sok suci dan sok berbudi dari kelompok-kelompok Islam di Afghanistan telah melakukan peperangan sipil yang mengerikan untuk mendapatkan kekuasaan. Diantara lima sholat wajib pada Auloh SWT, mereka mampu membunuh ratusan sipil tak bersalah. Ribuan orang terusir ke negara Pakistan dimana mereka membayangkan nostalgia hari-hari damai dibawah pemerintahan komunis. Menurut sebuah laporan dari International Herald Tribune (26 April 1994), perang sipil di sana (MUSLIM vs MUSLIM), yang ketika itu memasuki tahun ketiga mengambil nyawa lebih dari 10.000 orang. Di Kabul saja 1500 orang terbunuh antara bulan Januari dan April 1994.

Sudan
Saat tulisan ini dibuat (Juni 1994), pembantaian berlangsung di Sudan dinama hukum Islam didirikan oleh Diktator Jendral Numeiri tahun 1983, meski hampir sepertiga populasinya bukan muslim, tapi orang Kristen dan animisme. The Islamic North of Sudan telah memerangi orang Kristen dan animis di selatan. Sejak 1983, lebih dari setengah juta orang terbunuh. Jumlah yang sama dipaksa keluar dari Khartoum, ibukota Sudan, untuk mendirikan kemah-kemah di gurun pasir dimana suhunya mencapai 120 derajat F, dan tidak ada fasilitas kesehatan, air, makanan atau sanitasi. Dalam artikel di the Economist (9 April 1994) yang berjudul “The Blessings of Religion” (Berkat-berkat Agama) dikatakan, “Didanai oleh Iran, pemerintah telah mempersenjatai tentaranya dengan senjata-senjata modern buatan Cina. Dibulan belakangan ini perang masih berbau jihad, ketika sekelompok tentara termakan oleh sejumlah besar mujahiden muda Sudan, yang siap mati demi Islam.”

Indonesia
Pembantaian sekitar 250 ribu hingga 600 ribu orang indonesia ditahun 1965 hanya awal belaka. Setelah kegagalan pengambil alihan kekuasaan di tahun 1965, tentara Indonesia dibantu oleh para muslim membalas dendam kepada orang-orang komunis. Tentara mendorong para nasionalis dan muslim untuk membalas dendam lama; gang-gang muslim muda membantai para keturunan cina dengan cara yang sangat mengerikan. “Tak ada yang berani keluar setelah jam 6 sore,” kata seorang keturunan cina yang keluarganya lari dari Jawa Timur. “Mereka memotong buah dada para perempuan; membuang banyak mayat kelaut hingga orang tidak mau memakan ikan laut utk waktu yang lama. Saudara saya masih bekerja ditoko ketika pagi itu para anak muda muslim datang menyerbu dengan memakai kalung telinga-telinga manusia.” (Guardian Weekly 23 September 1990). Dalam penyerangan Indonesia ke East Timor thn 1975, sedikitnya 200 ribu sipil terbunuh.

Saya menegaskan kengerian ini sebagai balasan akan omong kosong sentimental tentang “dunia timur yang spiritual,” dimana kita terus menerus diberitahukan sebagai dunia yang lebih superior dari pada dunia Barat yang ateis dan amoral; dan sebagai contoh balasan pada kepercayaan bahwa agama membuat orang jadi baik. Orang Eropa dan Asia, Kristen dan Muslim sama-sama bersalah akan kekejaman yang mengerikan; dimana ribuan orang ateis yang bukan saja menjalani kehidupan tak bersalah tapi juga bekerja keras bagi kebaikan sesama manusia.

[Note: Sayang sekali Ibn Warraq --sengaja?-- “LUPA” mengungkapkan juga bahwa di abad 20 Atheisme dibawah tameng 'sosialisme- komunisme' membantai 30 juta orang sipil di Cina dan 20 juta orang di Rusia, belum lagi di negara-negara Eropa Timur lainnya. Belum lagi gerakan-gerakan sosialisme lain di Spanyol misalnya, telah menyebabkan perang saudara sampai puluhan tahun! Serta jangan lupa juga korban-korban 'fasisme' -yang merupakan bentuk lain atheisme- membunuh 6 juta Yahudi & 6 juta orang Eropa lainnya!! - admin].

Keberatan Moral akan Kegunaan
Saran pragmatis bahwa kita lebih baik mengajarkan agama, baik itu benar atau tidak, karena dg demikian orang akan jadi berkurang kekriminalannya, adalah sesuatu hal yang memuakkan dan merendahkan.. dan hal itu adalah sebuah konsekwensi alam dari sikap agama fundamental bahwa kenyamanan dan keamanan harus selalu menang diatas pertanyaan-pertanyaan rasional. – Robinson.[114]

Pendapat bahwa meski agama itu palsu tapi kita harus tetap memegangnya demi mendapatkan bimbingan moral, juga sama-sama patut dicela secara moral, karena itu adalah alasan dan kemunafikan yang tak wajar, yang berujung pada diabaikannya gagasan kebenaran. Russel menyatakannya demikian;

Begitu kita percaya bahwa agama apapun penting artinya untuk alasan-alasan selain kebenaran, maka kejahatan sudah siap-siap muncul. Diredamnya keingintahuan.. adalah yang pertama muncul, yang lainnya pastilah menyusul. Posisi kekuasaan akan terbuka bagi kaum ortodoks. Catatan sejarah harus dipalsukan jika mereka meragukan pendapat-pendapat yang telah diterima. Cepat atau lambat orang-orang unortodoks akan dianggap sebagai kriminal yang harus disingkirkan, dimusnahkan atau dipenjarakan. Saya bisa menghormati orang yang berpendapat bahwa agama itu benar dengan demikian bisa dipercaya, tapi saya hanya merasa sebal pada mereka yang bilang agama itu harus dipercaya karena berguna dan untuk mempertanyakan kebenarannya adalah buang-buang waktu saja.[115]

Bahkan ada orang yang sungguh-sungguh percaya pendapat demikian. Prof. Watt berkali-kali mengatkan bahwa kebenaran sejarah kurang penting daripada kebenaran “simbolis” atau “ikonis”. Tapi ini adalah ketidakjujuran intelektual. Dengan kata lain dari Paulus: “Jika Kristus itu dikatakan bangkit dari kematian, bagaimana bisa ada diantara kalian yg bilang bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Jika tidak ada kebangkitan itu, maka Kristus tidaklah dibangkitkan: Dan jika Kristus tidak bangkit, maka khotbah kita percuma saja, juga iman anda..” (1 Korintus 15.12-14).

Muslim sungguh-sungguh percaya bahwa Abraham membangun Kabah; tapi, seluruh peziarah haji jadi tak berarti – ‘iman anda juga percuma’ – jika kebenaran sejarah diungkapkan, bahwa Abraham tidak pernah menginjakkan kakinya di Arab, dan mungkin juga Abraham itu tidak pernah ada. Ini juga sebuah argumen mengagumkan dari manusia yang percaya pada Tuhan. Pastinya Tuhan akan menyetujui pencarian manusia akan kebenaran. Mungkinkah Tuhan mau berbohong dan berdalih agar manusia menyembahNya?

Saya memikirkan sebuah kasus orang yang sedang menderita hebat; atau orang yang tidak punya jalan lain untuk memperbaiki hidupnya dibumi – orang yang mendapatkan kekejaman hidup. Apakah kita punya hak utk mengatakan pada dia bahwa kepercayaan dia akan Tuhannya dan Hari-hari sesudah kematian adalah mimpi belaka, ditengah-tengah ketidakadilan yg menimpanya? Kepercayaan dia adalah satu-satunya hal yang membuat dia bisa bertahan menghadapi hidup ini. Saya tidak punya jawaban untuk ini. Tapi, tentu saja, pertanyaan ini jangan menjadi alasan bagi kita untuk tidak melakukan apapun yang memperbaiki kehidupan kita – lewat pendidikan dan tindakan sosial maupun politik.

---------------------------
[93] Wells, G.A. Art. “Jesus, Historicity of.” In KU, vol.1. Hal.364
[94] Ibid., hal.365
[95] Wells, G.A. Art. In Free Inquiry, vol 3., no.4, Fall 1983.
[96] Shacht, Joseph, and C.E. Bosworth. The Legacy of Islam. Oxford, 1974. Hal.156
[97] Hoffmann, R. Joseph and G.A. Larue, eds. Jesus in History and Myth. Amherst, N.Y., 1986. Hal.15
[98] Ibid., hal.48
[99] Momigliano, A., ed. The Conflict between Paganism and Christianity in the 4th Century. Oxford, 1970. Hal.161
[100] Flew, Antony. God, Freedom and Immortality. Amherst, N.Y., 1984. Hal.107
[101] Nietzsche. The Portable Nietzsche. Ed. W. Kaufmann. New York, 1974. Hal.618
[102] Ibid., hal.484
[103] Ibid., hal.535
[104] Ibid., hal.612
[105] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.72
[106] Dawkins, Richard. “A Deplorable Affair.” Dalam New Humanist, vol.104, London, May 1989.
[107] Nietzsche. The Portable Nietzsche. Ed. W. Kaufmann. New York, 1974. Hal.618
[108] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.25
[109] Gibb, H.A.R. Islam, Oxford, 1953. Hal.27 [110] Dictionary of Islam, hal.285
[111] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.24
[112] Quine, W.V.O Quiddities. An Intermittently Philosophical Dictionary. Cambridge, 1987. Hal.209
[113] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.24
[114] Robinson, Richard. An Atheist’s Values. Oxford, 1964. Hal.117
[115] Russell, Bertrand. Why I Am Not a Christian. London, 1921. Hal.25

4 komentar:

  1. ajib, bertrand russel jd rujukan meeen... ituh penulis yg gua kagumi ituuh..syg, gua cuma punya satu buku dia, mahal2 bukunyah,he

    BalasHapus
  2. apa yang ada bisa kolou merasa pinter,mana buktimu buat ke hidupan.........umat manusia

    BalasHapus
  3. Allah telah mencabar manusia agar menulis sebuah buku sama seperti Al Quran tetapi sehingga sekarang tiada sesiapa mampu menyahut cabara Nya

    BalasHapus
  4. Allah telah mencabar manusia agar menulis sebuah buku sama seperti Al Quran tetapi sehingga sekarang tiada sesiapa mampu menyahut cabara Nya

    BalasHapus